Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
7. Kejadian Tidak Terduga


__ADS_3

Sudah seminggu setelah latihan bersama di GOR waktu itu, Ary dan Bayu menjadi lebih dekat dan akrab. Setiap hari mereka berangkat dan pulang sekolah bareng. Padahal mereka tidak pernah janjian, tanpa mereka sadari ada keterikatan diantara mereka. Tidak pernah ada kata cinta atau pun sayang keluar dari mulut Bayu untuk Ary.


"Udah ada persiapan khusus untuk besok, dek?" tanya Bayu dalam perjalanan pulangnya bersama Ary.


"Gak ada! Biasa aja seperti hari-hari biasanya, gak ada yang istimewa. Maksudnya, latihannya biasa aja gak ada perubahan. Cuma joging, lari atau bersepeda di sore hari. Udah sih, gitu aja!" jawab Ary panjang kali lebar.


"Gak melatih konsentrasi pikiran? Biar pas ujian pikirannya gak kemana-mana. Tetep fokus pada satu titik gitu?" tanya Bayu heran, soalnya dia dulu berlatih keras untuk bisa konsentrasi pada satu titik.


"Gak ada kayak gitu, yang ada makan makin banyak. hehehe....😁" Ary memang sering cengengesan bila di samping Bayu, untuk menutupi rasa canggungnya.


"Kak, sebenarnya aku belum siap untuk ikut ujian kenaikan tingkat. Baru tiga minggu yang lalu aku dapat sabuk hijau, masak besok harus ikut kenaikan tingkat biar dapet sabuk biru. Mana sanggup???" curhat Ary.


"Kok, sudah seminggu kamu naik sepeda aja. Gak bareng temenmu yang suka gak nyambung itu?" tanya Bayu mengalihkan pembicaraan.


"Oh, si Enno maksud kakak? Dia tidur tempat ibunya, rumahnya berlainan arah sama kita." Ary menjelaskan kenapa dia pulang tanpa Enno.


"Kirain berantem, rebutan cowok."


"Hahaha... Kakak ini lucu, ya gak lah! Kita beda selera kak!" Ary merasa lucu dengan pertanyaan Bayu.


"Tipe cowok idaman kamu seperti apa, dan Enno seperti apa sih? Kok bisa ngomong beda selera." Bayu penasaran dengan tipe cowok idaman Ary. (Mana tau memenuhi kriteria, pikirnya.)


"Belum buat daftarnya kak, belum kepikiran. Hehehe..." Ary menjawab sambil cengengesan.


"Kok bisa bilang beda selera?" Bayu masih penasaran.


"Enno sudah bolak-balik ganti pacar dari kelas 3 SMP. Matanya langsung jernih kalo liat cowok ganteng yang tajir. Kalo ganteng tapi kere mana mau dia." cerita Ary.


"Eh, kak tadi kata kakak kita rebutan cowok. Siapa yang kami rebutkan?" Ary penasaran dengan perkataan Bayu tadi.


"Itu cowok yang patah hati pas acara makrab kemarin. Itu lho yang nyanyi lagunya ungu." jelas Bayu.


"Hah! Oh, itu si Alex. Teman kami waktu SMP. Enno ma Alex memang dekat dari dulu. Terus ibunya Enno ma nyokap Alex saling kenal. Jadi yah, mereka sering ketemu. Gitu ceritanya!" Ary menjelaskan tentang kedekatan Alex dengan Enno.


"Lagian ya kak, aku gak ada hubungan apa-apa dengan Alex. Kecuali hubungan teman sekolah, tidak lebih!" ucap Ary lagi dengan tegas.

__ADS_1


Ary belum tau apakah dia sudah memiliki perasaan untuk Bayu atau belum. Tapi dalam hati dan pikirannya, dia ingin menegaskan bahwa dia tidak memiliki pacar.


"Iya, percaya! Gak usah ngegas kali ngomongnya." Bayu tertawa, dia merasa lega karena pujaan hatinya belum ada yang memiliki.


***


Hari ini Ary mengikuti ujian kenaikan tingkat beladiri. Dia pergi ke GOR diantar ayah, karena dia berpikir nanti pasti capek banget sehabis ini.Dia memilih aman daripada nanti terjadi apa-apa di jalan. Menaiki kendaraan dengan kondisi capek sangat berbahaya, pikirnya.


Serangkaian ujian sudah Ary ikuti, dan akhirnya Ary mendapatkan sabuk biru. Padahal dalam hatinya dia tidak yakin akan lulus mendapatkan sabuk biru tersebut.


"Ary, pulangnya kakak antar ya? Kamu tadi kan diantar ayahmu. Mumpung bawa motor nih." bujuk Bayu.


"Gimana ya, barusan Ary telepon ayah suruh jemput." jawab Ary, dia ingin menolak secara halus.


"Telpon lagi aja, bilang gak jadi dijemput. Aku yang antar pulang."


"Takutnya ayah udah di jalan kak!" Ary.


"Coba telpon lagi dulu! Kasian panas begini ayah disuruh keluar."


"Iya, ini Ary coba telpon ayah!" kata Ary. Dengan berat hati, akhirnya Ary menelepon ayahnya sambil berjalan menjauh dari Bayu.


"Gimana, ayah udah menuju ke sini?" Bayu.


"Belum, masih ramai pembeli di kios." Ary menjawab dengan lemas, karena dia harus pulang bareng Bayu.


Berarti dia harus duduk nempel di punggung Bayu. Bayu membawa motor ninja 150RR warna hijau. Ary merasa risih karena tidak biasa dibonceng oleh laki-laki selain ayah dan kakaknya. Dan mau tidak mau, suka tidak suka dia harus pulang bareng Bayu.


"Udah yuk, buruan keburu makin panas ini!" ajak Bayu.


"I- iya kak.'' Ary pun naik ke atas motor Bayu, sebelumnya dia pakai helm terlebih dulu.


***


Sore hari, selepas sholat ashar Ary diminta bundanya untuk mengantar makanan ke rumah budhe Sri (kakak bunda). Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Ary. Karena merasa lelah, Ary memilih mengendarai si Maxi motor kesayangannya.

__ADS_1


Entah karena mengantuk atau melamun, Ary tidak fokus pada jalan. Dengan perlahan dia melajukan motornya. Tiba-tiba dari arah samping kanan datang motor melaju dengan kencang. Motor itu dikendarai oleh anak-anak berusia sekitar sepuluh tahun. Karena masih kecil, jadi tidak bisa menguasai motor yang dinaikinya.


Karena tabrakan yang kuat, Ary jatuh terpental jauh. Kepala Ary terlebih dulu mengenai aspal. Kepala Ary yang tidak mengenakan helm terbentur aspal dengan keras, sehingga darah segar langsung mengalir.


Orang-orang yang berada di sekitar kejadian langsung menghambur mendekati Ary dan mulai memberikan pertolongan. Ary langsung dibawa ke rumah sakit terdekat orang menggunakan mobil warga. Anak kecil yang menabrak Ary tidak mengalami luka yang serius. Dia hanya lecet pada siku tangan kanannya dan lutut kaki kirinya.


Sebagian orang mengabari keluarga Ary. Menyampaikan berita bahwa Ary mengalami kecelakaan dan sudah dibawa ke rumah sakit. Mereka mengenal Ary, karena Ary merupakan warga di sana.


Begitu sampai di rumah sakit Ary langsung ditangani oleh dokter jaga di UGD.


"Dimana anakku?" tanya bunda pada orang yang tadi membawa Ary ke rumah sakit.


"Di dalam mbak yu. Masih ditangani dokter." jelas Lek Marjuki, tetangga Ary yang berusia sekitar empat puluh tahunan.


"Maune gek kepiye, kok dadi koyo ngene Mar?" tanya bunda sambil menangis.


(Tadinya kenapa, kok bisa seperti ini)


"Boten ngertos mbak yu, ngerti-ngerti sampun kedadean." jelas Lek Marjuki.


(Tidak tau mbak yu, tahu-tahu sudah terjadi)


"Ary yah! Ary! Dia pasti kesakitan di dalam sana!" teriak bunda histeris.


"Sabar bun, tenang dulu! Kita tunggu dokter yang menanganinya keluar." ayah mencoba menenangkan bunda.


Tak lama kemudian, dokter keluar. Dia menanyakan keluarga Ary, menjelaskan keadaan Ary yang sebenarnya.


"Telah terjadi pembengkakan pada syaraf otak kecilnya, dan harus segera dilakukan operasi kecil pada syaraf tersebut. Operasi dilakukan hanya untuk mengurangi pembengkakan. Jika tidak dilakukan, maka pasien akan sering mengalami sakit kepala yang hebat. Bahkan bisa tidak sadarkan diri. Karena itu mohon bapak mengijinkan kami untuk melakukan tindakan tersebut."


"Lakukan yang terbaik untuk anak kami, dok!" pinta ayah.


Ayah pergi ke bagian administrasi untuk mengurus keperluan operasi Ary dan kamar rawat inapnya.


Operasi dilakukan selama satu jam, karena hanya operasi kecil. Operasi berjalan lancar. Sekarang Ary sudah dibawa ke ruang rawat inap. Ary menempati kamar kelas satu dengan fasilitas kamar mandi didalam dan ada sebuah televisi. Ayah Ary menggunakan kartu Askes untuk pembayarannya, karena ayah Ary seorang pensiunan guru PNS.

__ADS_1


Ayah dan bunda masih setia menunggu Ary sadar. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan putri bungsu kesayangan.


__ADS_2