
Happy Reading.
Dea memijit pelipisnya yang terasa pusing, entah kenapa setelah Tasya datang dan menceritakan banyak hal tentang Kenan dan rumah tangganya, Dea merasa sedikit kasihan dengan wanita itu.
Tetapi bukankah semua itu bukan urusannya? lalu kenapa Dea menjadi kepikiran? apa karena ini ada hubungannya dengan Kenan, yang sialnya sampai saat ini masih membuat jantung Dea berdebar hanya dengan mengingat wajahnya saja.
"Ah, bukan urusan ku, terserah mereka mau ngapain, aku tidak perlu ikut campur urusan mereka!" Dea merapikan stetoskop dan beberapa alat medis ke dalam tasnya yang lumayan besar.
Sudah pukul 3 sore dan jam kerja Dea juga sudah selesai, wanita itu mengambil karet gelang yang ada di lacinya, menguncir rambut panjangnya yang sudah terlihat berantakan.
Dea berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya, melepaskan snelinya dan dia bersiap untuk pulang.
Sepertinya dia harus segera pulang dan beristirahat, mungkin lusa Dea juga butuh massage ke salon agar urat-urat lehernya lentur dan tidak cengang.
"Besok gue ajak Ani buat ke salon, tubuh ini butuh di pijat!"
Dea membuka pintu ruangannya dan segera keluar, menyapa beberapa perawat dan petugas rumah sakit yang masih tersisa.
Dari arah depan, Dea melihat Angga yang berlari menghampirinya.
"Sorry De, kemarin gue gak tau kalau lo nelpon, gue lagi dikamar mandi," Dea berhenti menatap Angga yang sedang meringis.
"Iya, gak apa-apa, gue udah dapat pertolongan dari temen gue kok," jawab Dea.
"Lo udah mau pulang?" tanya Angga berjalan mendekat.
"Iya, jadwal gue udah selesai," Dea melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ck, kenapa sih jadwal kita gak barengan, kan gue jadi gak bisa ngobrol lama sama elo," Angga berdecak.
__ADS_1
"Lo mau kerja apa ngobrol? ini rumah sakit, bukan rumah gue," jawab Dea cuek, berjalan kembali menuju pelataran rumah sakit.
Angga mengekori Dea, "berarti gue boleh main ke rumah lo, De?"
Dea berhenti membalikkan tubuhnya sambil bersedekap dada, "lo mau main ke rumah gue?" Angga mengangguk antusias.
"Rumah lo masih di alamat yang sama 'kan?" tanya Angga.
Dea menggeleng, dia sudah tidak tinggal di rumah orang tuanya, Angga belum tahu jika dia pindah ke apartemen, pria itu dulu memang pernah main ke rumahnya.
"Gue udah pindah, kapan-kapan aja lo ajak Ani main ke apartemen gue, ya udah gue pulang dulu ya, Bye!" Dea langsung pergi begitu saja meninggalkan Angga yang masih terbengong.
Dea harus bergegas pulang ke apartemennya untuk beristirahat, entah kenapa dia jadi merindukan kasur dan guling nya. Dea ingin merebahkan tubuhnya sampai besok pagi kalau bisa, tapi sepertinya keinginannya harus ditunda ketika dia melihat sesosok pria berdiri dihadapannya saat ini.
"Vincent, lo kok ada di sini?"
"Gue emang sengaja datang buat nyari elo, De!" jawab Vincent mengusap tengkuknya.
"Kok tau kalau gue kerja di rumah sakit ini?"
"Ya, nyari taulah," Vincent berjalan mendekati Dea.
"Lo mau pulang, ya?" Dea mengangguk.
"Iya, jam kerja gue udah habis, emang lo nyari gue, ada perlu apa?" tanya Dea to the point.
Lagi-lagi Vincent mengusap tengkuknya yang sepertinya mulai berkeringat. "Boleh nggak gue ngajak lo pergi makan malam atau pergi shopping mungkin," Dea mengerutkan keningnya.
"Sorry, malam ini sepertinya gue nggak bisa kemana-mana karena gue ngerasa capek banget, ingin istirahat aja," jawab Dea.
__ADS_1
"Owh, kalau gitu gue main ke apartemen lo, ya? boleh dong?"
Dea melongo? apa tadi dia tidak salah dengar?
Untuk apa Vincent ikut ke apartemennya, sedangkan Dea tau sendiri jika laki-laki itu menyukainya sejak dulu.
"Dea, Vincent!" seru sebuah suara dari arah samping.
Kedua orang itu pun menoleh seketika, ada Kenan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
'Duh, apa lagi ini!! tadi siang istrinya, sekarang suaminya, kenapa kalian ngerecokin hidup gue yang sudah tenang, sih!'
"Kenan, lo kenal sama Dea?" tanya Vincent menatap Kenan dan Dea bergantian.
Kenan mengepalkan kedua tangannya ketika melihat Vincent berada di sini, bahkan dia mengenal Dea.
Tidak, Kenan tidak akan membiarkan Vincent mendekat Dea, biar bagaimanapun pria itu masih ada urusan dengannya.
"Vincent, langsung saja, gue udah muak dengan kebohongan kalian selama ini!" seru Kenan menunjuk pria itu.
Deg!
'Sial, apa Kenan udah tau!!'
"Apa maksud lo, bro? gue gak ngerti!"
Dea hanya diam melihat interaksi kedua pria itu.
"Lo udah hamilin Tasya sebelum gue nikahin dia, dan kalian menggugurkan kandungan itu 'kan?"
__ADS_1
Dea membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Bersambung.