
Keheningan menyelimuti dua insan yang berada di atas motor. Setelah kejadian waktu itu, entah mengapa Shanum enggan melingkarkan tangan di pinggang suaminya. Tak dapat dipungkiri, meski masih samar dan mungkin saja hanya kesalahpahaman, Shanum merasa janggal berada di dekat laki-laki itu.
Berkali-kali Raka melirik, pandangan sang istri terlihat kosong dan jauh. Bibir yang tadi tersenyum, kini terkatup rapat. Rasa cemburu masih meraja di hatinya, daripada rasa cemas dan gelisah yang akhir-akhir ini menyerang.
"Eh? Kenapa kita berhenti di sini?" Shanum terkejut saat motor tiba-tiba berhenti di tepi jalan.
Tanpa diperintah Raka, Shanum turun dan menatap suaminya.
"Kenapa berhenti di sini? Nggak pulang aja ke rumah?" tanya Shanum dengan dahi yang berkerut.
Raka bergeming, kedua tangannya begitu erat mencengkeram stang motor menahan segala gejolak di dalam hati.
"Raka!" Shanum menyentuh pundak sang suami, tapi Raka menghendikannya meminta untuk dilepaskan.
Shanum menarik tangan perlahan, mengepalkannya kemudian. Ia menghela napas, Raka masih tidak bisa diajak bicara.
"Ada hubungan apa kamu sama laki-laki itu?" Raka berdesis dari balik gigi-giginya yang merapat.
"Siapa? Kak Dzaky? Kami nggak ada hubungan apa-apa," ucap Shanum dengan tenang. Memang tak ada hubungan sejak ia menikah. Dzaky dan Shanum sama-sama menjaga jarak dan menyadari batasan mereka.
"Bohong!" Raka menoleh, menatap Shanum dengan mata yang memerah. Irama napas yang naik dan turun secara berat, menandakan hatinya tengah bergejolak.
"Bohong? Kenapa kamu bisa nganggap aku bohong?" Shanum tersenyum getir, tak ada kebohongan yang ia lakukan.
"Kalo kamu nggak ada hubungan apa-apa, kenapa dia bisa ada di rumah mamah kamu sama orang tua itu? Apa kamu merencanakan pernikahan sama dia?" sentak Raka menuding Shanum dengan bengis.
Shanum bergeming, menatap manik Raka dengan berani. Senyumnya terbit perlahan, ada cemburu yang terlihat di kedua mata itu.
"Kamu tahu siapa orang tua itu? Mereka eyang dan mbah aku yang baru datang dari Jawa. Aku pergi ke rumah eyang selama ini karena cuma tempat itu yang nggak banyak orang tahu," jelas Shanum masih dengan sikapnya yang tenang.
__ADS_1
Raka mendengus, tidak percaya begitu saja kepada cerita Shanum. Sudah terlanjur cemburu, dan mungkin saja Shanum sedang membalas dendam terhadapnya.
"Kamu pikir aku percaya? Aku tahu siapa dia, Shanum? Dia pacar kamu, 'kan? Dia juga masih ngarepin kamu buat jadi istrinya. Mungkin aja kamu juga begitu." Dia melengos, berpaling sambil mencibirkan bibir.
Shanum menghela napas, menggelengkan kepala.
"Tuduhan kamu itu nggak benar, Raka. Aku emang pernah suka sama dia dan berharap jadi istrinya. Mamah sama Papah juga tahu, tapi itu dulu sebelum aku nikah sama kamu. Sekarang, kami bukan siapa-siapa. Kak Dzaky juga tahu batasan, dia bahkan nggak pernah nyentuh aku dari dulu, apalagi sekarang. Beda sama Shila yang berani peluk kamu padahal tahu kamu sudah punya istri," ungkap Shanum masih dengan sikapnya yang setenang air.
Raka meradang, menatap Shanum dengan nyalang.
"Jangan bawa-bawa Shila untuk menutupi kelakuanmu-"
"Terus, apa kamu boleh bawa-bawa kak Dzaky dan nuduh kami yang bukan-bukan buat nutupin semua yang udah kamu lakuin?" Shanum melipat kedua tangan di perut, menatap berani pada sang suami sambil tersenyum miring.
Raka semakin bergejolak, turun dari motor dan berhadapan dengan Shanum dalam jarak yang dekat.
"Apa yang aku lakuin? Apa?" tantang Raka merangsek ke depan dan semakin rapat dengan tubuh Shanum.
"Kita omongin ini semua di rumah, jangan di sini." Shanum meminta pengertian Raka, berbicara dari hati.
"Nggak! Aku nggak mau pulang sebelum jelas semuanya," tolak Raka keras kepala.
Shanum kembali menghela napas, mengurangi rasa sesak yang merongrong jiwa.
"Apa yang mau kamu tahu lagi? Semua udah aku jelasin, nggak ada yang ditutupin. Apa lagi? Harusnya kamu yang jelasin kenapa Shila bisa peluk-peluk kamu di tempat umum tanpa tahu malu?" balas Shanum mulai memperlihatkan kekesalan.
Tubuhnya yang lelah karena baru saja menempuh perjalan panjang, harus menghadapi keegoisan dan kekerasan kepala Raka juga. Dia hanya ingin beristirahat, berbicara baik-baik, duduk berdua, tanpa saling emosi.
"Nggak usah bahas Shila, yang aku tanya kenapa dia bisa ada di rumah mamah sama kamu?" hardik Raka menuding jalan yang baru saja mereka lewati.
__ADS_1
Shanum memejamkan mata, rasa pening segera menyerang kepala membuatnya tak dapat berpikir jernih.
"Kamu mau tahu? Kami nggak sengaja ketemu waktu dia melakukan penelitian. Kebetulan eyang dan si Mbah nggak bisa naik pesawat, itulah kami menumpang di mobilnya dan ini baru aja dateng. Aku capek, Ka. Perjalanan Jawa Timur ke Jakarta itu nggak sebentar. Aku cuma pengen istirahat, pengen kita ngomong baik-baik. Nggak pake emosi!" ungkap Shanum, menatap kecewa sosok suami di hadapannya.
"Alasan!" Raka mendengus.
Shanum membuang napas kasar, malas meladeni suaminya itu.
"Ya udah. Mungkin kamu belum bisa berpikir jernih sekarang. Kalo gitu, kamu pulang aja sendiri. Aku mau balik ke rumah mamah, aku mau istirahat. Nanti kalo kamu udah bisa berpikir, kita ngomong lagi," putus Shanum kecewa.
Ditatapnya wajah Raka untuk beberapa saat, sebelum berbalik dan berjalan kembali ke arah rumah orang tuanya.
"Aku tahu kamu cuma mau ketemu sama laki-laki itu, 'kan? Kamu pengen lama-lama sama dia!" teriak Raka frustasi.
Shanum menghentikan langkah, lelah jiwa dan raga terlihat jelas di raut wajahnya yang cantik.
"Terserah! Buat sekarang, aku cuma mau istirahat. Aku capek!" ucapnya, kembali berbalik dan melanjutkan langkah meninggalkan Raka yang mematung menahan gejolak emosi di dalam hati.
"Ingat, Shanum! Kamu itu istri aku! Kamu nggak pantas dekat-dekat dengan laki-laki lain!" Raka kembali berteriak.
"Kamu juga suami aku, tapi kamu nggak tahu batasan. Diam-diam di belakang aku kamu menjalin hubungan sama Shila." Shanum menyahut dengan suara yang hanya dapat didengar olehnya sendiri. Ada getir di hati, jika bukan karena janin yang ada di dalam perut tak akan dia mendatangi Raka lagi setelah apa yang dia lakukan.
Lagi-lagi helaan napas panjang ia lakukan, untuk saat ini tak ingin mempedulikan Raka yang egois dan keras kepala. Shanum melambaikan tangan saat sebuah ojek melintas di dekatnya.
"Sialan!" Raka meninju motornya, menendang, dan memukul-mukul jok meluapkan emosi.
"Lihat saja, aku nggak akan tinggal diam. Aku pasti buat perhitungan sama laki-laki itu. Gara-gara dia, Shanum pergi dan menjauh. Argh! Sialan!" Raka kembali meraung sebelum menaiki motor dan berbalik menyusul Shanum.
"Shanum nggak boleh balik lagi ke rumah mamah, apa nanti kata mereka kalo Shanum datang lagi? Bisa-bisa aku juga yang disalahin!" Raka berdecak kesal, dia lupa ancaman orang tuanya. Bagaimanapun, dia harus bisa menyusul Shanum dan mencegahnya kembali ke rumah.
__ADS_1
Namun, di perjalanan, Raka berpapasan dengan mobil Dzaky. Keduanya saling menatap, memancarkan api permusuhan. Raka menghentikan laju motornya, dan turun untuk menyusul Dzaky. Sialnya, mobil pemuda itu terus melaju meninggalkan Raka.
"Pengecut!"