
Raka memarkir motor sedikit jauh dari kediaman sang mertua, berjalan pelan agar mendapatkan sesuatu yang tak pernah ia duga. Shanum mengadu yang bukan-bukan kepada orang tuanya.
"Kalo sampai terjadi sesuatu sama Shanum, Mamah nggak akan tinggal diam, Pah." Suara serak mamah mertua yang masih diiringi tangisan, menyambut kedatangan Raka saat baru selangkah menginjak teras rumah.
"Percaya aja sama mereka, Mah. Raka itu udah dewasa, dia nggak akan nyakitin anak kita, istrinya. Bukannya Mamah yang maksa Shanum buat gantiin calon istri Raka dulu yang pergi? Padahal Papah berharap Shanum bisa nikah sama Dzaky yang ilmu agamanya jauh lebih baik, tapi sekarang semuanya sudah terlanjur. Kita terima dan percayakan saja sama mereka," tutur papah mertua dengan nada pasrah.
Raka bergeming, entah merasa kesal atau menyesal. Ia tak tahu, yang pasti hatinya merasa gelisah. Dzaky terlihat lebih dewasa, mapan, dan mengerti agama. Namun, bila mengingat kebersamaannya di rumah ini, gejolak rasa cemburu kembali meraja.
Tangisan mamah mertua kembali terdengar, sebuah tangis penyesalan atas semua yang telah berlaku.
"Mamah nyesel, Pah. Mamah kira Raka itu laki-laki yang baik, nggak akan nyakitin Shanum. Nggak akan khianatin anak kita, tapi ternyata Mamah salah. Shanum harus menderita batin karena menikah sama dia, Pah." Kicauan menyedihkan dari mamah mertua, menyentak batin Raka.
Kepalan tangannya terurai, darah di seluruh tubuh berdesir hebat. Ada rasa bersalah menyelinap ke dalam relung-relung jiwa.
"Sekarang bukan waktunya menyesal, sebagai orang tua kita harus bisa jadi penengah bukan malah jadi kompor yang memperkeruh masalah mereka. Tenangin hati Mamah, istighfar. Mamah nggak lihat, betapa tegarnya anak kita? Dia mau kembali buat menyelesaikan masalahnya. Mamah harus menghargai keputusannya," ucap papah mertuanya lagi yang semakin mengoyak rasa di dalam hati Raka.
Sadar, bahwa bisa saja Shanum tidak kembali atau bahkan melayangkan gugatan cerai untuknya. Namun, wanita itu memilih kembali untuk menuntaskan masalah di dalam rumah tangga mereka. Raka memang bodoh! Terlalu mengedepankan emosi dan keegoisannya.
Astaghfirullah, Sha. Maafin aku, Sha.
Batin Raka bergumam lirih. Sekarang dia ragu untuk masuk ke dalam rumah itu lagi. Apakah Shanum ada di dalam, atau tidak? Ke mana lagi dia pergi jika tak ada di rumah.
"Doakan saja semoga mereka bisa menyelesaikan masalah secara baik-baik, dan kembali ke rumah ini dengan senyum kebahagiaan."
__ADS_1
Ucapan sang papah mertua sudah memberitahu Raka bahwa Shanum memang tidak kembali ke rumah itu. Ke mana dia pergi? Raka gamang, gelisah, takut sang istri pergi lagi meninggalkan dia.
Putar balik dan kembali ke motor, melaju menuju toko cabang milik Shanum. Kemungkinan dia ada di sana, jika tidak pastilah ke rumah Lia. Hanya itu yang saat ini ada di dalam pikiran Raka.
****
Sementara Shanum memang tidak kembali ke rumah orang tuanya, dia sudah memutuskan untuk pulang bersama Raka tak akan kembali sebelum masalah selesai. Shanum pergi ke toko cabang dan akan beristirahat di saja.
Namun, keberadaan Shila di depan tokonya, kembali menyulut emosi. Mencoba untuk tidak peduli, Shanum melangkah melewati Shila tanpa berniat menegurnya.
"Oh, jadi kamu udah balik lagi ke sini? Padahal aku udah seneng kamu pergi. Jadi, bisa berdua-duaan sama Raka," ucap Shila sambil mencibirkan bibir.
Mendengar itu, hati Shanum terasa sakit. Benarkah itu? Selama dia pergi untuk menenangkan hati, Raka dan Shila selalu berduaan? Langkah wanita hamil itu terhenti di depan teras toko, mematung membelakangi Shila yang berdiri angkuh.
"Harusnya kamu nggak usah balik lagi ke sini. Udah, tinggal di sana aja. Di mana pun, yang penting jauh dari Raka. Heran, deh, sama kamu. Nggak tahu malu, udah ngerebut calon suami orang masih nggak nyadar juga!" cibir Shila lagi semakin membuat dada Shanum bergejolak.
"Mau ke mana kamu? Mau ngeles, ya? Apa udah punya malu karena ngerebut calon suami orang? Katanya orang berpendidikan, orang bermartabat, orang kaya, tapi, kok, malah ngerebut calon suami orang?" teriak Shila sengaja agar terdengar semua orang.
"Ingat, ya, Shanum. Waktu itu aku datang ke pernikahan terlambat karena harus ngurus ibu aku yang sakit, tapi pas aku datang kamu udah duduk di sana sama Raka melakukan ijab kabul. Kamu pikir aku bisa terima? Aku pasti ngerebut Raka lagi, dia milik aku! Harusnya aku yang jadi istrinya, bukan kamu!" cerocos Shila masih dengan nada yang sama.
Shanum mengepalkan tangan, menahan segala gejolak emosi yang merebak dalam dada. Ia berbalik, melangkah mendekati Shila.
"Apa kamu ingin aku memohon sampai bersujud di kaki kamu, Shila?" Shanum tersenyum sinis, sama sekali tidak terlihat gelisah. Dia tenang, setengah air mengalir, tapi diam-diam menghanyutkan.
__ADS_1
"Memohon? Kamu memohon saja nggak akan aku terima. Aku akan tetap rebut Raka dari kamu!" teriak Shila semakin emosi.
Shanum tersenyum, dia masih sama seperti dulu. Tak mudah terpancing emosi.
"Silahkan! Aku nggak akan memohon sama kamu. Aku bukan wanita lemah yang dibutakan cinta dunia. Kalo Raka lebih milih kamu, aku akan lepas dia. Aku nggak mau hidup dalam rumah tangga yang dibayang-bayangi wanita lain!" ujar Shanum masih dengan sikapnya yang tenang.
Raka tak bisa diajak bicara, terkesan membela Shila. Shanum tahu, masih ada wanita itu di hati suaminya. Raka masih belum bisa melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu bersama Shila.
Pelakor itu tertegun, untuk beberapa saat hanya diam tak mampu menjawab. Hanya garis wajahnya saja yang terlihat semakin mengeras menandakan emosi yang tengah memuncak.
"Aku tahu, apa yang kamu pikirin. Kamu berpikir aku akan menjadi lemah karena sedang hamil, 'kan?" Shanum kembali menerbitkan senyum, mengusap perutnya yang membuncit karena merasakan gerakan dari dalam sana.
Hati Shila memanas, dia sudah berhasil mengandung benih Raka. Akan semakin sulit untuknya mendapatkan laki-laki itu lagi. Sungguh, dia tidak rela Shanum melahirkan anak itu.
"Kamu emang lemah, Shanum! Dari dulu, kamu emang lemah!" Shila melangkah, mengikis jarak di antara mereka. Entah apa yang akan dia lakukan, tapi Shanum terlihat waspada.
"Mau apa kamu?" Shanum menepis tangan Shila ketika hendak menggapai tubuhnya.
"Pergi dari sini! Sebelum aku berteriak memanggil warga! Kamu tahu, kamu itu perempuan perusak rumah tangga orang!" usir Shanum tegas.
Secara kebetulan, Raka tiba dan mendengar itu. Shila melirik, dan mulai berakting.
"Apa maksud kamu, Shanum?" Dia mulai melemah, menjadi wanita menyedihkan.
__ADS_1
Shanum mengernyit bingung, belum menyadari keberadaan Raka.
"Shanum, kenapa kamu usir dia?!" bentak Raka tidak terima.