Serpihan Hati

Serpihan Hati
Drama 1


__ADS_3

Sinar matahari kini meninggi terlihat dari teriknya yang begitu menyengat di setiap kulit manusia. Sinarnya seakan membuat semua orang bertahan di dalam ruangan dingin untuk menyegarkan tubuhnya.


Matahari seakan berteriak mengatakan cuaca hari ini akan tetap panas hingga sore nanti. Matahari seakan menunjukan kuasanya bahwa tak ada yang lebih panas dari dirinya saat ini.


Bara yang kini duduk di ruangan kerja nya menatap laptop untuk melihat pekerjaan yang harus di selesaikan. Bara yang memakai kaca matanya terlihat dia menjadi lebih serius.


Ceklek!! 


" Tuan, Nona Laura ada di sini?" Suara David yang masuk dan mengatakan Laura ada di kantornya kini membuat laki laki itu langsung menatap ke arah nya.


" Bara…" Tanpa di suruh masuk pun wanita itu tampaknya sudah biasa dengan sendirinya dia masuk ke dalam ruangan itu.


Bara hanya menghela nafasnya dengan berat melihat wanita yang tadi langsung dari kamarnya, secara tiba tiba berdiri di sini.


" Laura ada apa?, Bukankah kita nanti bertemu di rumah?" Bara sedikit waspada ketika apa yang di katakan istrinya kini masih ada di telinga nya.


" Astaga aku merindukan sahabat ku, apa aku tak boleh datang kemari?, Di rumah ada istri mu dan aku tak bisa leluasa mengobrol dengan mu jika ada istri mu."


Bara hanya tersenyum menanggapi wanita itu yang sedikit memajukan bibirnya, dia pura pura untuk marah.


Sahabat. Batin Bara.


" Ayolah jangan cemberut kau terlihat jelek jika cemberut seperti itu."


" Kau tak memberi ku pelukan selamat datang?, Kau jahat sekali…" Laura sebenarnya merindukan pelukan laki laki itu tapi sayangnya Bara hanya membalasnya dengan senyuman tipis di bibirnya.


Bara kini berdiri dari kursi kebesarannya menghampiri wanita yang menganggap dengan kata kata 'Sahabat'.


" Aku merindukan mu…" Bara memeluk Laura dengan perasaan tulus murni sebagai sahabat bukan ada perasaan cinta atau selebihnya.

__ADS_1


" Apa kabar mu?" Tanyanya dengan melepaskan pelukan itu. 


Laura sedikit kecewa nyatanya Bara hanya memeluknya sebentar tak seperti biasanya. " Aku baik!, Sekarang ceritakan kepada ku kenapa bisa kau menikah secepat itu?" 


Kini mereka berdua telah duduk di sofa dengan saling berhadapan. Bara yang tidak mau duduk bersebelahan. Kali ini Bara menjaga istrinya jika istrinya tau hal ini dapat di pastikan akan ada pertengkaran kecil antara mereka.


" Tak ada yang perlu aku ceritakan Laura."


" Kalian sungguh jatuh cinta?, Aku meragukan kalian yang jatuh cinta?" Matanya menyipit dia tak percaya bahwa kedua insan itu jatuh cinta. " Atau kalian bersikap mesra karena di depan orang agar tak ada yang menggosipkan hubungan kalian?, Atau ada pernikahan bisnis?"


Bara kini tertawa dia tak menyangka Laura bisa berkata seperti itu, menuduhnya yang bukan bukan. Bahkan di dalam pikirannya pun dia tak ada sama sekali.


" Apa ada yang lucu dari pertanyaan ku Bara?, Kau tak mengatakan sejujurnya kepada sahabat mu ini."


" Ayolah Laura kau menudu ku yang bukan bukan dan aku membuat lelucon yang tak masuk akal. Bahkan di dalam benak ku tak sempat terpikirkan oleh ku tentang apa yang kau katakan itu."


" Lalu?"


Bara menceritakan semuanya dengan tersenyum bahagia, mengingat semuanya ada di depan matanya. Kenangan manis yang tak mungkin di lupakan oleh dirinya. Bertemu dengan istri yang begitu lembut.


Sedangkan Laura dadanya bergemuruh marah, dia kecewa pada nyatanya laki laki itu malah jatuh cinta dengan wanita yang dinikahinya. Dia pikir Bara hanya sandiwara tapi nyatanya mereka jatuh cinta dan keromantisan itu ada nyatanya, bukan sandiwara yang seperti dia duga.


Kesempatan kali ini benar benar tak ada, kesempatan untuk mendekati Bara hilang lenyap seketika. Laura dapat melihat jelas bagaimana wajah itu terlihat begitu bahagia, Laura kini semakin di buat geram mendengar momen romantis yang di ceritakan.


" Selamat atas pernikahan mu tapi kau tega tak mengundang ku…" Laura yang cepat menguasai dirinya agar tak terlihat dia emosi kini dengan cepat memberikan selamat kepada nya.


" Pernikahan kami memang sedikit tertutup, aku kemarin merahasiakan pernikahan ku karena keluarga Christin tapi sekarang mereka sudah tau dan mungkin aku akan mengelar resepsi pernikahan ini."


" Kelurga Christin menentang pernikahan mu?" 

__ADS_1


Bara mengangguk pelan. " Mereka berharap aku ada untuk putrinya yang sudah tak ada. Aku merasa bersalah karena membuat mereka kehilangan putrinya tapi apa yang aku lakukan dulu tanpa aku sengaja. Kau tau bagaimana aku mencintai dia tapi takdir berkata bahwa aku dan dia memang bukan jodoh dan takdir yang memisahkan kami."


Laura kini tersenyum tipis dia yakin Bara masih belum bisa melupakan tunangannya yang sudah meninggal itu. " Jadi sebenarnya kamu belum bisa melupakan Cristin bukan?"


" Melupakan itu butuh proses, tak semuda aku membalikan telapak tangan dan Bella dengan senang hati membantu ku untuk melupakan kenangan ku dengan nya."


" Bara apa itu adil?, Maksud ku apa adil bagi keluarga Cristin, kau melupakannya dengan kau bahagia bersama wanita lain. Sedangkan mereka saat ini mungkin sedang menangis di makamnya. Jika aku jadi istrimu maka aku akan tetap membiarkan cristin tetap ada di hati mu, bukan malah membantu mu melupakannya. Lagian dia sudah meninggal bukan menjadi ancaman bagi rumah tangga kalian."


" Bukan dia yang menyuruh ku untuk melupakannya?, Tapi aku sendiri yang harus melupakannya, karena tak pantas jika seorang suami masih menyimpan rasa cinta untuk orang yang sudah pergi. Bella adalah wanita yang paling sempurna dan paling lembut yang pernah aku temui Laura, aku beruntung menjadikan dia istri ku, bukan dia yang beruntung memiliki ku tapi aku yang beruntung…" Bara yang terus memuji istrinya membela istrinya seakan memberikan rasa sakit tak terlihat di hati Laura.


" Baiklah jadi kamu yang beruntung mendapatkan dia!, Lalu keluarga Christin?, Apa mereka akan tetap tak bisa ada di hati mu atau kau tak mau membantu mereka?"


" Mereka yang tak ingin menerima bantuan ku Laura, aku tak bisa berbuat apapun semua terserah mereka, jika mereka datang dan meminta bantuan ku, pasti aku akan membantunya."


" Bara nanti aku akan coba bicara dengan mereka,kau tahu sendiri sedekat apa aku dengan Christin dan keluarga, jika nanti aku bicara mungkin mereka akan lebih mengerti."


Bara mengangguk mengerti, jika ada orang yang tepat memberi tau semuanya mungkin salah paham ini tak akan berlanjut lagi. Bara sebenarnya merasa bersalah tentang semuanya tapi bagaimana pun dia harus lebih menjaga perasaan istrinya saat ini.


Karena istrinya lah yang menjadi nomer satu di antara perasaan orang lain.



bisa bantu subsc*ribe* di cha*nel you*tub*e Coretan tinta biru Forget Love 🤗🤗 Mince juga ada di sana loe makasih 😍😍😍


Visual Forget Love 21+



Donzello Fousto

__ADS_1



Charlotte Blosom


__ADS_2