Serpihan Hati

Serpihan Hati
Bagian 34


__ADS_3

"Temenin aku, yuk!" rengek Shanum pada sahabatnya itu.


"Ke mana? Katanya tadi lagi sedih, sekarang tiba-tiba mau pergi," tukas Lia sedikit merasa heran dengan tingkah sahabatnya.


"Aku mau beli sesuatu buat si Mbah sama Eyang, tapi nggak mau sendiri sekalian mau ke toko perlengkapan bayi. Kamu yang bawa mobilnya, ya." Shanum kembali merengek, persis adik Lia jika meminta sesuatu.


"Hmmm ... kumat manjanya." Lia mencebik, tapi tak urung jua bangkit dari kasur dan menerima kunci mobil Shanum.


"Makasih, ya. Kamu emang sahabat aku yang terbaik!" puji wanita hamil itu sambil bergelayut di lengan Lia.


"Nggak usah lebay." Lia mendengus, tapi tak urung jua tersenyum. Keduanya berjalan keluar, apapun akan ia lakukan jika terus bisa membuat Shanum tersenyum.


Menyusuri jalanan kota, tujuannya adalah sebuah toko pakaian yang menjual perlengkapan bayi dan orang dewasa. Ada beberapa barang yang ingin dibeli Shanum sebagai persiapan dan hadiah untuk Mbah dan Eyang.


"Apa nggak terlalu dini kamu beli-beli barang, Sha. Baru lima bulan, lho," ujar Lia sembari terus fokus pada jalanan di depan.


"Aku cuma mau lihat-lihat, Lia. Kali aja ada yang mau aku beli. Kata Mamah nyicil," balas Shanum disambut anggukan kepala Lia.


****


Sementara di jembatan, Raka berlari mendekati pembatas. Menatap iba pada wanita yang berdiri dengan bahu terguncang di sana. Dia menangis, dan Raka sangat mengenali sosok tersebut.


"Bunuh diri nggak akan nyelesein masalah kamu. Mending kamu omongin sama keluarga kamu, gimana baiknya," ujar Raka cukup lantang hingga membuat gadis itu menoleh padanya.


Wajah basah dengan mata yang merah dan terus berair, sembab, dan menyedihkan. Dia kembali berpaling tak ingin bersitatap lama dengan sosok laki-laki di jalan tersebut.


"Apa peduli kamu! Nggak usah sok peduli sama aku, kalo akhirnya kamu juga hina aku. Pergi! Aku nggak butuh nasihat kamu!" sengit Shila di sela-sela isak tangis yang menguar lirih dari bibirnya.


Raka menghela napas. Dia memang tidak peduli, tapi setidaknya dia bisa mencegah Shila bunuh diri karena terlanjur melihat.


"Itu emang urusan kamu, tapi coba kamu bayangkan, coba kamu pikirkan. Ibu kamu di rumah pasti nungguin kamu pulang, pasti nyariin ke mana kamu pergi. Terus, kalo yang dia temuin itu cuma jasad kamu yang udah nggak bernyawa ... bisa kamu bayangin?"

__ADS_1


Raka menatap Shila, sungguh menyedihkan gadis itu. Isak tangis darinya semakin terdengar memilukan. Bayangan sang ibu yang menangis terus melintas dalam pelupuk. Yang dikatakan Raka memang benar. Wanita separuh baya itu tengah menunggu di rumah.


"Udahlah, mending kamu pulang. Temuin ibu kamu." Raka masih berusaha merayu agar Shila mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.


Shila bergeming dalam tangis, tubuhnya luruh dan duduk di atas pembatas. Meraung keras meminta belas kasih pada alam. Nyatanya, alam pun murka dengan apa yang ia lakukan. Gemuruh terdengar di kejauhan, langit cerah berubah seketika menjadi gelap. Rintik hujan mulai turun, mengguyur ibu kota.


"Turun, Shil! Hujan, lho. Nanti kamu bisa sakit," rayu Raka lagi sesekali mendongak melihat langit gelap.


"Aku malu, Ka. Aku malu sama diri aku sendiri," katanya lirih. Isak tangisnya semakin menjadi, air mata bercampur dengan air dari langit merinai di kedua pipinya.


"Semua orang pernah ngelakuin kesalahan, Shil. Termasuk aku, tapi semua orang juga punya kesempatan untuk memperbaikinya. Kamu juga bisa memperbaiki semua sebelum terlanjur. Kalo kamu mati sekarang, itu nggak akan bisa ngerubah apa yang udah terjadi." Raka terus meracau sembari sesekali akan mengusap wajah yang dijatuhi air hujan.


Jalanan sepi membuat Raka tidak bisa meminta bantuan dari orang-orang sekitar.


"Tapi aku malu pulang ke rumah, Ka. Aku takut ibuku kecewa sama aku. Apalagi kalo tahu Benny udah ninggalin aku. Ibu berharap aku bisa nikah sama dia, setelah nggak jadi nikah sama kamu. Kalo begini, aku harus ngomong apa sama ibu," racau Shila merayu Raka dan berusaha menumbuhkan penyesalan di hatinya.


Raka tertegun mendengar itu, sebenarnya Benny memang harus menikahi Shila. Seandainya waktu itu dia datang ke pernikahan, mungkin tidak akan pernah terjadi masalah seperti sekarang ini.


"Tapi gimana kalo ibu nggak percaya? Ibu juga kecewa sama kamu karena kamu nikahin perempuan lain tanpa mau tahu keadaan kami." Lagi, Shila terus menanamkan rasa sesal di hati Raka.


Suami Shanum itu semakin jatuh ke dalam tipu muslihat seorang Shila. Ia menghela napas, menunduk mendalami rasa yang tiba-tiba terasa aneh.


"Nanti aku minta maaf sama ibu kamu, tapi sekarang kamu turun aku antar kamu pulang." Suara Raka melemah, tersirat penyesalan dalam intonasi nada yang keluar dari lisannya.


"Ya, tapi aku takut mau turun. Takut kepeleset," ucap Shila setelah meneliti pijakan kakinya.


Raka mendongak, melihat Shila yang gelisah dan kebingungan mencari jalan. Ia mendekat, menawarkan tangannya untuk menjadi pegangan Shila.


"Sini, aku bantu. Hati-hati licin," ingat Raka sembari mengulurkan tangan ke dekat Shila.


Shila mulai beranjak, pelan dan hati-hati. Mencari pegangan sebelum menggapai tangan Raka. Namun, besi yang terkena air hujan berubah menjadi licin.

__ADS_1


"Argh!" Shila terpeleset dan bergelantungan di besi jembatan.


"Shila!"


"Raka! Tolong, aku nggak mau mati sekarang!" teriaknya panik.


"Tenang, Shil! Ini, ambil tangan aku. Cepat!" Raka ikut panik, mobil-mobil yang melintas di jalan bawah menjadi perhatiannya.


Shila berusaha menggapai tangan Raka, rasa takut kian menyelimuti hatinya. Dia tidak ingin mati dulu setelah sebuah rencana tiba-tiba muncul di otaknya.


"Raka, cepat! Aku takut!" rengek Shila tak berani menatap ke bawah.


Raka berhasil menggapai tangan wanita itu, menariknya perlahan hingga mereka berdiri berhadapan. Shila berhambur ke dalam pelukan Raka, menangis tersedu-sedu menumpahkan ketakutan.


Tepat saat itu, mobil Shanum melintasi jembatan. Matanya tanpa sengaja menangkap dua sosok yang berpelukan di bawah guyuran air hujan. Seketika darah di seluruh tubuhnya mendidih, bergejolak memanas. Merambat hingga menyentuh kedua mata.


Tega kamu, Raka. Kamu bilang mau mengakhiri semuanya, tapi ternyata kamu bohong.


Perih, serasa hati tercabik-cabik ribuan sembilu. Shanum memalingkan wajah pada jendela, menghapus mata perlahan. Ia tak ingin Lia melihatnya menangis. Mobil melintasi jembatan, meninggalkan dua insan yang terlibat gejolak api di tengah derasnya guyuran hujan.


"Kita pulang, Lia. Tiba-tiba kepala aku pusing. Nanti kamu bawa aja motor aku di rumah," pinta Shanum dengan suara yang lemah.


Keinginan untuk bepergian menghilang begitu saja. Dia ingin menunggu Raka di rumah, menjelaskan apa yang baru saja dilihatnya.


"Lho, kenapa? Ini udah setengah perjalanan, lho." Lia bertanya bingung.


"Kepala aku tiba-tiba pusing. Aku mau istirahat aja di rumah," jawab Shanum disambut helaan napas oleh Lia. Mobil berputar kembali ke jalan pulang.


Shanum memejamkan mata, bersandar kepala pada kursi. Sungguh lahir batinnya lelah.


Apakah setelah ini mereka akan bercerai? Atau tetap mempertahankan pernikahan? Yuk, kita lanjut di season berikutnya.

__ADS_1


Mohon maaf karena telah update.


__ADS_2