Serpihan Hati

Serpihan Hati
Bagian 26


__ADS_3

"Shanum, kenapa kamu usir dia?!"


Suara tinggi yang tiba-tiba menyerang gendang telinga, membuat Shanum membelalak yang percaya. Raka berjalan dengan rahang mengeras, menatap Shanum dengan berang.


"Kamu nggak apa-apa?" Bukan bertanya pada istrinya, melainkan pada Shila yang berdiri dengan menyedihkan.


Shanum mengernyit, dari sikap yang ditunjukkan Raka terhadap mantannya itu, dia sadar bahwa laki-laki di sana tak begitu peduli terhadapnya.


Shila menggeleng manja, menatap Raka dengan sayu. Bahkan, ada genangan air di kedua pelupuk matanya.


"Aku tadi cuma mau minta maaf sama Shanum, Ka, tapi dia marah terus usir aku," adunya pada Raka.


Kerutan di dahi Shanum semakin jelas terlihat. Kini dia tahu permainan apa yang sedang dilakonkan wanita perusak itu. Shanum merubah raut wajahnya menjadi tenang kembali. Seandainya Raka tetap bersikeras membela perempuan itu, maka Shanum akan menyerah pada pernikahannya.


Mendengar aduan Shila, laki-laki itu menoleh pada istrinya. Ada ketidakpercayaan yang memancar di kedua manik Raka, tapi Shanum tetap mencoba bersikap biasa saja.


"Kamu denger, Sha. Dia datang mau minta maaf sama kamu. Kamu tahu, udah beberapa hari ini dia bahkan bantuin aku buat nyari kamu. Cuma apa? Cuma mau minta maaf sama kamu karena kesalahpahaman kemarin, tapi kenapa kamu malah usir dia?" tanya Raka mencoba berbicara selembut mungkin agar Shanum tidak kembali emosi.


Wanita hamil itu menghela napas, semakin lelah saja harinya dengan drama yang dibuat Shila. Shanum menatap wajah sang suami, mencoba menyalurkan perasaan agar sampai ke hati. Nyatanya, hati Raka sudah membeku.


"Rasanya, kalo aku jelasin juga kamu nggak akan percaya, Raka. Kamu pasti akan lebih percaya sama dia dari pada aku, istri kamu. Mending, kamu bawa pergi dia dari sini. Aku capek, aku mau istirahat," ujar Shanum dengan nada lelah yang tak ditutup-tutupi.


Raka bergeming, tak habis pikir dengan sikap Shanum yang sekarang. Dia berubah, ke mana Shanum yang baik hati dan begitu mudah memaafkan?


"Bu! Ibu sudah datang?" Karyawan Shanum yang keluar membawa kue, tersenyum sumringah melihat kehadiran sang pemilik.


Istri Raka itu tersenyum, mengangguk dan meminta mereka untuk tidak mendekat. Pandangannya kembali beralih pada Raka yang masih menatapnya dengan dahi berkerut.


"Apa maksud kamu, Shanum? Kenapa sekarang kamu keras kepala kayak gini? Apa gara-gara laki-laki itu?" tuding Raka dengan rahang menggeram karena kembali tersulut emosi.

__ADS_1


Shanum mematung, menatap lekat kedua manik suaminya yang memerah marah.


"Kenapa harus bawa-bawa kak Dzaky? Ini semua nggak ada sangkut pautnya sama dia. Aku cuma mau istirahat, tolong pergilah dan jangan ganggu aku untuk hari ini!" tegas Shanum seraya memalingkan wajah dari Raka.


Rasanya muak melihat tatapan nyalang suaminya, apalagi secara terang-terangan dia membela Shila yang notabene telah menciptakan kesalahpahaman dalam rumah tangga mereka.


"Baik. Ayo, Shila. Kita pergi, dia memang keras kepala nggak bisa diajak bicara!" ujar Raka seraya mendorong Shila untuk pergi dari toko Shanum.


Senyum kemenangan terbit dari bibir wanita itu, mengejek Shanum yang sudah kalah selangkah darinya. Namun, senyum itu raib tatkala Shanum membalasnya dengan penuh misteri. Sebuah senyum yang mengandung arti keburukan bagi yang melihatnya.


"Tapi, Ka ... Shanum belum maafin aku. Aku nggak mau pergi sebelum dapat maaf darinya," tolak Shila berpura-pura.


"Udahlah, kita pergi aja dulu sekarang. Nanti kamu bisa coba lagi," ujar Raka tak mendengar rengekan Shila.


Shanum berdecih jijik, mereka berdua itu sama. Sama-sama tak memiliki perasaan. Ia menghela napas, tak ingin lagi rasanya menangis. Sia-sia saja air matanya tumpah selama ini, jika laki-laki yang dia tangisi nyatanya lebih memilih mantan kekasih.


"Kenapa kamu ngelakuin ini, Raka? Apa kebersamaan kita nggak ada artinya buat kamu daripada Shila?" Shanum menghela napas, betapa berat perjalanan yang harus ia tempuh.


Kemelut rumah tangga yang dialaminya, membuka mata batin Shanum bahwa selama ini Raka tidak benar-benar melepaskan Shila. Nama itu masih bersemayam di hatinya, mendapatkan tempat khusus di sana.


Rasa lelah yang melanda jiwa dan raganya, mengantarkan Shanum pada tidur lelap yang membuai. Sejenak dia melupakan tentang Raka dan Shila, dan hanya ingin fokus pada janinnya saja.


****


"Ka, gimana kalo Shanum nanti marah sama kamu? Padahal kalian baru ketemu, 'kan?" tanya Shila seolah-olah risau dengan perasaan Shanum setelah kejadian tadi.


"Kamu nggak usah khawatir, aku nanti ngomong sama dia baik-baik. Yang penting, kamu sekarang pulang dulu," ucap Raka bersimpati pada Shila.


"Tapi aku laper, Ka. Tadi keluar rumah aku belum makan." Shila menunduk sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Mmm ... ya udah." Raka berbelok ke sebuah restoran, niatnya hanya mengantar.


"Kamu nggak temenin aku makan dulu. Sekalian aja kita makan, Ka," cegah Shila sambil memegang tangan Raka yang hendak berbalik pergi.


Melihat raut wajah memelas darinya, ditambah karena pengusiran Shanum tadi. Raka merasa bersalah dan merasa harus menghibur hati Shila. Jadilah ia ikut masuk dan duduk di dalam berhadapan dengannya.


Shila merasa di awang-awang sekarang, terus tersenyum selama Raka menceritakan lelucon. Sekali lagi hanya untuk menghibur Shila. Secara kebetulan, Lia melintas di depan restoran tersebut. Tak sengaja saat menoleh, matanya menangkap sosok Raka yang sedang tertawa bersama Shila.


"Raka? Brengsek! Mereka semakin berani aja." Lia buru-buru mengeluarkan ponsel, memotret mereka berdua. Semua bukti akan ia tunjukkan kepada Shanum saat bertemu nanti.


"Aku nggak rela sahabat aku dikhianati! Awas aja kamu Raka, kamu akan tanggung akibatnya!" ancam Lia seraya menjalankan motornya meninggalkan restoran tersebut.


Motor Lia melaju lurus ke depan, entah ke mana lagi dia akan pergi untuk mencari sahabatnya itu. Tak terbetik dalam hati akan ke mana, laju motor Lia mengarah ke toko cabang milik Shanum.


Entah apa yang membawanya, tapi Lia menghentikan laju motor di depan toko itu. Dipandanginya toko Shanum, ada harapan serta kesedihan yang memancar di kedua maniknya. Lia turun, berniat mampir sebentar untuk mencicipi teh serta kue di toko tersebut.


"Eh, Mbak Lia. Tumben udah lama nggak ke sini?" sapa karyawan Shanum yang sudah mengenal dekat siapa Lia.


"Iya. Kangen sama bos kamu, makanya aku mampir ke sini." Lia tersenyum, duduk dengan tenang.


"Mau teh dan kue biasanya?" tanya karyawan tersebut disambut anggukan kepala Lia.


Gadis itu menghela napas, sungguh hatinya merindu berat terhadap sahabat terkasih.


Di mana kamu, Sha? Aku kangen sama kamu. Ya Allah!


Lia mengusap wajah, dan menjatuhkan kepala di atas meja. Menghadap ke jalanan, menatap hampa lalu-lalang kendaraan di depan toko.


"Lia!"

__ADS_1


__ADS_2