Serpihan Hati

Serpihan Hati
Bagian 28


__ADS_3

"Kamu yakin ini kantornya?" tanya Shanum ketika mereka berdua berdiri di depan sebuah bangunan tinggi.


"Iya, aku pernah ngikutin dia soalnya. Mudah-mudahan aja bisa ketemu walaupun kita nggak buat janji dulu sama dia," jawab Lia meski dengan sedikit keraguan di hati.


Shanum menghela napas, jika tidak dicoba mereka tidak akan pernah tahu.


"Kita coba dulu," ajak Shanum seraya melangkah beriringan dengan Lia.


Mereka mendatangi resepsionis menanyakan keberadaan bos di kantor tersebut.


"Maaf, tapi apakah Anda berdua sudah membuat janji sebelumnya? Karena jika belum, pak Benny tidak mengizinkan siapapun untuk bertemu tanpa membuat janji terlebih dahulu," jawab resepsionis tersebut dengan tegas.


Ia melirik perut Shanum yang membuncit, pikiran buruk pun berseliweran di dalam kepalanya.


"Mmm ... jadi begitu, tapi jika pak Benny tidak ada kesibukan mungkin kami bisa bertemu sebentar. Tolong, Mbak. Ini darurat," pinta Shanum memasang wajah memelas sambil menyentuh tangan wanita penerima tamu tersebut.


Ia terlihat gelisah, apalagi setiap kali pandangannya mengarah pada perut wanita tersebut, rasa tak tega muncul dengan sendirinya.


"Tolong, saya mohon!" iba Shanum lagi, kali ini dengan matanya yang berkaca-kaca untuk meyakinkan resepsionis tersebut.


Ia menghela napas, menyentuh tangan Shanum dengan lembut.


"Baiklah. Ibu bisa tunggu di sana, saya akan mencoba menghubungi pak Benny," katanya menunjuk sebuah sofa yang berada di lobi.


"Terima kasih." Shanum tersenyum haru, ia berbalik dan mengajak Lia untuk duduk di sofa yang ditunjuk wanita tadi.


"Kamu bisa akting juga, ya. Sampe-sampe buat dia bingung begitu," bisik Lia sambil terkekeh geli dengan apa yang dilakukan Shanum.


"Kalo nggak gitu nggak mungkin dia mau kasih tahu bosnya itu. Dia kira aku hamil anaknya," balas Shanum berbisik pula. Keduanya mendaratkan bokong di sofa empuk, sambil melihat-lihat keadaan kantor milik kekasih Shila itu.


Sesekali mereka akan melirik resepsionis yang sedang melakukan panggilan sambil mencuri pandang pada keduanya. Dari ekspresi wajahnya dia terlihat serius.


"Benar, Pak. Perempuan hamil yang ingin bertemu dengan Bapak. Mereka sedang menunggu di lobi." Dia menjelaskan ketika Benny bertanya terkejut.


"Baik, Pak." Ia menutup sambungan ketika sang atasan setuju untuk menemui mereka. Menatap Shanum dan Lia yang terlihat berbincang, kemudian membawakan keduanya minuman.


"Silahkan, Bu. Pak Benny akan turun," katanya memberitahu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, ya." Shanum tersenyum, tulus dan ramah. Tak seperti Shila yang begitu angkuh setiap kali datang ke kantor tersebut.


Resepsionis itu kembali ke tempatnya setelah melayani mereka berdua dengan sopan.


"Kamu ketemu dia di mana, Lia?" tanya Shanum sepeninggal wanita resepsionis tadi.


"Nggak sengaja, sih. Di restoran, waktu dia makan sama Shila. Kayaknya nggak mempan, deh. Benny terlalu bucin sama ulat bulu itu," jawab Lia sembari mencibirkan bibir mengingat usahanya untuk membuat Shila sadar telah gagal.


Shanum menghela napas, ia pun ragu Benny akan percaya, tapi sekali lagi jika tidak dicoba mereka tidak akan pernah tahu. Ketukan langkah yang mendekat membuat keduanya menegang, mata mereka saling melirik melempar kegundahan hati.


"Selamat siang!" sapa sebuah suara laki-laki dewasa yang terdengar berat.


Shanum dan Lia mengangkat wajah, menatap Benny dengan senyum ramah. Kening laki-laki itu mengernyit ketika mengenali Lia. Tampak tak senang karena dirinya dianggap hanya akan mengadu domba hubungannya saja.


"Hai, Ben. Kita ketemu lagi," ucap Lia sok akrab.


Benny mendengus, melipat kedua tangan di perut, berpaling angkuh.


"Aku kira siapa, rupanya kamu. Kalo aku tahu yang datang itu kamu aku akan suruh resepsionis buat mengusir kamu. Mau apa lagi kamu datang ke sini? Kalo kamu cuma mau ngadu domba aku sama Shila, atau kamu mau merusak hubungan aku sama Shila, pergi saja! Karena itu nggak akan ngaruh. Kamu cuma iri sama hubungan kami, 'kan?" cerocos Benny tak dinyana dia laki-laki cerewet dan banyak bicara.


Dih, amit-amit! Siapa juga yang iri. N*jis amat! Kepedean banget si ulat bulu itu.


"Aku nggak ada niat buat ngadu domba hubungan kamu, Ben. Duduk dulu, ini sahabat aku. Shanum, dia istri Raka," ucap Lia mengenalkan Shanum yang masih diam.


Benny melirik wanita cantik yang sesekali akan tersenyum kepadanya. Manis, ramah, dan sopan. Terlihat berkelas. Cukup lama ia menelisik penampilan Shanum, sedikit harinya membandingkan istri Raka itu dengan Shila. Sungguh jauh berbeda.


"Kalo nggak keberatan aku mau ngobrol sebentar sama kamu. Silahkan, apa kita mau ngobrol di sini atau cari tempat yang lain?" ujar Shanum dengan alunan suara yang lembut terdengar mengetuk nurani Benny.


Rasanya, tak pernah telinga itu disambangi suara selembut nyanyian surgawi milik Shanum. Untuk beberapa detik, Benny terhipnotis oleh sosok wanita hamil tersebut.


"Gimana?" Suara Shanum yang bertanya, menariknya kembali ke alam nyata.


"Yah. Kita ke restoran depan, rasanya nggak enak kalo ngobrol di sini," jawab Benny sedikit kikuk.


Shanum berdiri diikuti Lia, seraya berucap, "Ok. Kita ke sana." Shanum menarik tangan Lia berjalan lebih dulu. Disusul Benny, yang beberapa saat tak bergerak menatap sosok Shanum.


Entah mengapa, melihat wanita cantik itu jantungnya berpacu tak karuan. Apakah itu naluri seorang laki-laki? Padahal, pakaian yang dikenakan Shanum terlihat biasa saja dan sopan. Tak ada yang terbuka meski tidak menutup kepalanya dengan hijab.

__ADS_1


Rambut panjang ikalnya yang dibiarkan tergerai, semakin menambah anggun pada sosok tersebut. Sungguh, bila saja dia bertemu dengannya terlebih dahulu, tak akan menjalin kasih dengan Shila. Oh, pikiran Benny lari ke mana-mana.


"Jadi, mau ngomong apa? Apa tentang Shila?" tanya Benny setelah duduk berhadapan dengan kedua wanita itu.


Shanum menatap wajah di depannya, ada banyak cinta yang memancar di kedua manik itu. Benar kata Lia, dia memang bucin.


"Salah satunya. Kamu tahu Shila siapa?" tanya Shanum mengawali.


"Tahu. Dia pacar aku," jawab Benny enteng.


Shanum tersenyum menanggapi.


"Ya. Shila itu kekasih Raka, suami aku, sebelum kami menikah. Enam bulan yang lalu mereka hampir menikah, tapi Shila nggak datang. Entah apa alasannya? Nggak ada kabar, nggak ada berita. Ijab qobul akan dimulai, tapi pengantin perempuan nggak ada datang juga. Hampir pernikahan itu gagal."


Shanum menghela napas, menguatkan hati untuk mengungkap semua dengan harapan rumah tangganya akan bertahan dan terbebas dari gangguan.


"Terus?" Benny mendesak tak sabar. Ada sedikit geram di hatinya. Enam bulan yang lalu, itu artinya Benny adalah selingkuhan Shila. Dia merutuk dalam hati, ada rasa tidak terima timbul di sana.


"Terpaksa aku yang menggantikan Shila menjadi pengantin perempuan. Rumah tangga kami baik-baik saja. Pelan-pelan Raka juga melupakan Shila. Kami bahagia, dan sedang menunggu kelahiran si buah hati, tapi ... Shila datang lagi dan mengganggu rumah tangga kami." Lagi, Shanum menghela napas mencoba melepaskan diri dari sesak yang membelenggu.


Benny terlihat serius, ia mendengarkan dengan saksama cerita Shanum.


"Aku melihat sendiri bagaimana beraninya Shila memeluk suamiku di depan umum. Lalu, sekarang bahkan mereka semakin dekat seolah-olah nggak peduli sama aku. Sebagai kekasihnya, bisa nggak kamu minta Shila untuk jauhin Raka. Ada janin di sini yang butuh ayahnya," pinta Shanum sambil menunjuk perutnya.


Benny terenyuh, tapi rasa kesal juga datang menelusup ke dalam relung hatinya.


"Aku butuh bukti, karena Shila selalu berkilah." Benny menegaskan.


Lia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan foto-foto yang diambilnya.


"Itu kemarin, selepas dia mengancam aku di toko." Shanum memberitahu.


"Dan ini ... semua ini akan memperkuat bukti yang ada." Shanum mengeluarkan ponsel, membeberkan kejadian di depan tokonya yang tertangkap CCTV.


Ah, mereka tidak tahu jika toko Shanum terpasang CCTV. Rahang Benny mengeras, wajahnya menghitam penuh amarah. Dia menatap Shanum, ada sedikit iba di hatinya.


"Bisa kirim ke aku?"

__ADS_1


Shanum mengangguk, puas rasanya. Hanya tinggal berbicara dengan Raka, membuat hati laki-laki itu terbuka.


__ADS_2