
" Bibi..." Wanita tua yang tiba tiba masuk itu adalah istri dari Paman Hans, suaminya semalam menceritakan semua yang di ceritakan oleh keponakannya itu dan membuat sang bibi merasakan iba kepada keponakan satu satunya.
" Jangan menangis ada Paman dan Bibi di sini bersama mu. Kamu tidak sendiri Nak ada kami semua yang akan mengandeng mu. Paman siap menjadi wali mu sekarang. Kamu tidak membutuhkan Ayah yang seperti itu..." Sang Bibi kini menekan kata katanya dia melepaskan pelukan itu dan menatap keponakan dengan sedikit berkaca kaca.
" Bibi apa kah aku tidak berhak bahagia?, kenapa Ayah selalu menjadi penghalang kebahagian ku Bi?, apa aku sungguh anak yang tidak di harapkan oleh Ayah kandung ku sendiri?"
" Sayang kau berhak bahagia, jangan rusak semuanya dengan memikirkan orang yang tidak menginginkan mu. Jika dia memang menyayangi mu maka dia akan membuang ego nya demi mu, tapi dia masih tetap menyeret mu di dalam kesedihan. Jadi jangan pikirkan hal yang tidak penting untuk saat ini. Kau harus bahagia karena kebahagian sudah ada di depan mu."
" Kau benar Bibi aku harus bahagia, cukup sudah penderitaan selama ini. Aku harus bahagia demi aku sendiri. Aku akan berjalan ke altar pernikahan dengan Paman..." Keputusan yang tetap membuatnya merasakan luka yabg begitu dalam.
Berusaha kuat di depan orang adalah hal yang menyedihkan. Setegar apapun sosok wanita pasti akan memiliki titik rendah yang sulit dia bangkitkan. Pernikahan yang selalu di harapkan setiap wanita adalah di gandeng sang Ayah kandung dan di saksikan Ayah nya. Tapi nampaknya pernikahan impian itu harus dia kubur dalam dalam karena sang Ayah tidak akan datang ke sana. Jangankan jadi wali jadi saksi pun Bella tidak ingin berharap lagi.
Bella kini menghapus air matanya yang sempat menetes tadi, kini senyumnya kembali mengembang berusaha tegar demi hidupnya sendiri.
Bella kini memasuki geraja dengan semua mata terpukau karena kecantikan wanita itu yang begitu memancar jelas. Bella yang mengandeng sang Paman kini merasakan detak jantung yang tak beraturan, jantung nya berdetak hebat ketika menatap calon suaminya yang menunggu di depan sana dengan senyuman. Tak ada yang tahu bahwa laki laki tegap dan dingin itu juga merasakan gugup yang bukan main. Jantung mereka kini tak karuan ketika mata mereka saling beradu pandang.
" Aku berikan tangan ku kepada mu, jadilah pelindung dia yang bisa melindunginya dari segi apapun. Beri dia kebahagian yang semestinya, jangan sakiti hati lembutnya..." Ucap sang Paman dengan menyerahkan tangan Bella yang di terima oleh Bara.
" Saya akan menjaga nya dengan segenap jiwa ku Paman. Nyawa ku gantinya jika aku menyakitinya..." Jawab Bara yang membuat semua orang yang mendengarkan merasakan cinta yang begitu besar untuk wanita yang ingin di nikahi itu.
Bella yang memakai gaun putih kini begitu cantik dan elegan bahkan mata dari Bara terpesona oleh kecantikan yang begitu alami di wajahnya calon istrinya itu.
" Kamu begitu cantik sekali sayang..." Bisiknya ketika sang pastur membacakan pemberkatan untuk mereka berdua.
__ADS_1
" Kamu juga tampan..." Balasnya dengan berbisik.
" Kenapa lama sekali pemberkatan ini?, aku tidak tahan untuk tidak mencium mu sekarang."
" Dasar mesum jangan menggoda ku di sini..." Mereka hanya saling tersenyum di depan pastur yang masih membaca pemberkatan pernikahan itu.
Sedangkan di luar geraja Johan yang penampilan berantakan kini ingin menerobos masuk ke dalam tapi sayangnya semua penjaga yang ada di sana kini langsung mencegahnya dengan sigap.
" Maaf anda siapa?"
" Saya ingin masuk ke dalam, itu putri ku yang menikah, aku ingin mengandeng nya."
" Anda jangan mengarang Tuan, Nona kami sudah masuk dengan di gandeng oleh Ayah nya jadi anda tidak perlu mengarang cerita. Jadi silahkan anda pergi sebelum anda kami seret..." Ucap sang pengawal dengan tegas.
Semua pengawal kini secara tiba tiba memberi hormat kepada laki laki yang tiba tiba datang dari arah belakang.
" David katakan kepada mereka bahwa aku adalah Ayah dari Bella mempelai wanita yang ada di dalam..." Johan yang tadi melihat kebelakang kini segera meminta David sang asisten dari menantunya.
" Tapi saya ingin menjadi saksi di pernikahan putri ku..." Johan menyentuh jas David dia begitu marah ketika David malah mengusirnya juga.
" Lihatlah penampilan anda yang acak acak seperti ini, dan aroma alkohol sangat menyengat apa anda pikir saya akan membiarkan anda masuk ke dalam, jangan berharap banyak Tuan Johan. Apa saya pikir saya tidak tahu rencana anda yang akan membuat kacau pernikahan ini, jadi silahkan pergi dari sini, karena Nona saya tidak membutuhkan anda sebagai wali atau saksi..." Jawabnya dengan tegas.
David memberikan kode kepada pengawal untuk membawa mereka pergi dari sana. Para pengawal dengan cepat mencekal kedua tangan Johan sedangkan yang satunya kini membungkam mulut dari laki laki yang berteriak keras memanggil nama putrinya.
" Nona Bella Amora kau bersedia menikah dengan Tuan Bara Valentino yang pilih sendiri dari hati mu?" Sang pastur kini menanyakan kesedian nya untuk menikah.
" Saya bersedia..." Jawabnya dengan cepat.
" Tuan Bara Valentino kau bersedia menikah dengan Nona Bella Amora yang kau pilih sendiri dari hati mu?"
__ADS_1
" Saya bersedia."
" Maka bacalah sumpah pernikahan dengan lantang..." Ucap sang Pastur.
" Saya mengambil Bella Amora menjadi istri saya untuk saling memiliki dan menjaga,
" Saya juga mengambil Bara Valentino menjadi suami saya untun saling memiliki dan menjaga,
" Dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang,
" Pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai,
" Untuk saling mengasihi dan saling menghormati,
" Sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah Amien."
" Sampai maut memisahkan kita sesuai dengan hukum Allah Amien..." Sumpah pernikahan yang mereka ucapkan dengan tegas membuat semua orang yang mendengarnya kini langsung bernafas lega.
Ucap Amien yang juga di ucapkan oleh semua orang yang menjadi saksi pernikahan mereka. Semua orang saling tersenyum ketika mereka kini sah menikah di mata hukum dan negara.
" Silahkan pasang cincin pernikahan kalian dan mempelai pria bisa mencium mempelai wanita."
Bara kini memasang cincin kepada jari Bella sebaliknya dengan Bella yang juga memasang cincin kepada jari Bara.
Bara dan Bella saling berpandangan dan tangan nya kini menyentuh pipi Bella dan sedikit kemudian dia mencium bibir Bella, meluma* nya dengan sebentar, Bella yang mendapatkan hal itu kini langsung sedikit membalasnya dengan ciuman yang juga sama sama lembutnya.
Suara sorakan dari semua orang yang disana kini membuat kedua orang yang masih saling berciuman langsung melepaskan nya dengan rasa malunya.
__ADS_1
Sabar Bara nanti malam akan dapat jatah lebih oke 🤣🤣🤣🤣