Serpihan Hati

Serpihan Hati
Maaf 1


__ADS_3

Malam hari di mana semua orang menikmati hari hari nya, malam di mana semua orang berkumpul menjadi satu kini malah menjadi malam yang menyebalkan bagi sosok wanita cantik yang sedang menahan rasa kesalnya. Wanita yang membuat laki laki tampan juga penuh dengan kegelisahan. Sejak pertengkaran pertamanya sepasang pengantin baru kini masih saja terus berdiam diri, meskipun Bara terus mengajaknya untuk mengobrol.


Bara kini menghela nafasnya ketika melihat istrinya hanya diam dan tak ingin menatap ke arah sama sekali. " Sayang kau ingin kemana?" Bara yang melihat istrinya kini sudah berpenampilan anggunnya dengan sedikit mengoles make up tipis.


" Aku mau makan malam..." Ujarnya dengan ketus.


" Aku sudah pesankan makanan untuk kita, sebentar lagi pasti akan datang."


Bella kini berdiri di menyambar tas kecilnya dengan menatap ke arah suaminya yang terlihat sedikit terkejut.


" Aku mau makan di luar, jika kamu mau makan di sini, makan sendiri..." Bella kini melangkah melewatinya.


" Sayang please jangan begini, aku minta maaf! aku tahu aku salah tapi jangan seperti ini."


" Aku lapar Bara, aku butuh makan tidak butuh permintaan maaf mu, karena menyiapkan hati ketika tidak di akui juga butuh tenaga..." Bella yang tadi tangan nya di tahan kini sedikit menghempaskannya dengan kasar.


" Baiklah tunggu aku, kita akan makan di luar bersama, sebentar aku mandi dulu oke?" Bara dengan cepat sedikit berlari meninggalkan istrinya dan masuk ke dalam kamar mandinya.


Bella kini menjadi acuh rasa sakit yang di goreskan keluarganya menjadikan pelajaran yang begitu berharga, menjadikan dia kuat dan melawan orang orang yang menyakiti hatinya. Sosok Ayahnya saja mampu di lupakan karena rasa sakit terlalu dalam apalagi sosok Suami yang baru dia nikahi.


Sedangkan di tempat lain restoran bawah hotel tersebut ada laki laki yang dari tadi masih mengobrol dengan klien nya, perusahan asing yang ingin memulai bisnis di sini. Laki laki itu kini terlihat sangat tenang dan gagah, kedewasaan wajahnya menambah kesan bahwa laki laki itu memiliki sikap yang selalu tenang dalam kondisi apapun.


" Baiklah Tuan saya akan mencoba untuk mempertimbangkan apa yang anda ajukan tadi, tapi untuk kapannya saya tidak tahu tapi saya akan mempertimbangkannya..." Seorang laki laki tua yang memiliki rambut putih itu kini berdiri dengan menyalami laki laki yang gagah tersebut.


" Baiklah Tuan saya terima kasih karena anda sudah ingin mempertimbangkan nya dan saya akan menunggu..." Ujarnya dengan memberikan senyuman tersebut.

__ADS_1


" Kalau begitu saya permisi dan selamat malam untuk anda."


" Selamat malam dan hati hati Tuan..." Mereka saling sedikit menunduk memberikan tanda hormat dan kemudian saling meninggalkan untuk menyelesaikan bisnis mereka.


Laki laki itu kini menatap kepergian kliennya yang bersamaan ada seorang wanita yang dia kenal tadi, wanita yang dia selamatnya. Mata Bella kini melihat sekelilingnya dan meja di sana semuanya sudah penuh tak ada meja yang kosong untuk dirinya.


" Nona.. Nona..." Laki laki itu berteriak dengan melambaikan tangan nya. Bella yang mendengarnya dan melihatnya hanya bingung ketika laki laki itu malah menatap dirinya dari jauh.


" Apa aku mengenalnya?" Gumamnya dengan pelan dengan tetap mengamati laki laki itu dari kejauhan. Senyumnya mengembang dan langsung berjalan menghampiri laki laki tersebut. " Selamat malam Tuan-"


" Amar nama saya Amar..." Laki laki itu langsung memperkenalkan dirinya di depan wanita yang begitu cantik. Amar yang begitu terpesona kini malah tak bisa mengahlikan matanya dari wajah wanita tersebut.



" Tuan Amar saya belum mengucapkan terima kasih kepada anda karena sudah menyelamatkan saya tadi siang."


Bella yang melihat sekitarnya tak ada meja lagi kini matanya juga menatap ke arah pintu masuk agar suaminya cepat datang tapi nampaknya sang Suami masih berada di dalam kamarnya.


" Baiklah Tuan saya rasa saya memang harus duduk di sini..." Bella akhirnya menerima tawaran yang di berikan oleh Amar karena malam ini meja di sana sudah tak ada lagi yang kosong.


Amar dan Bella kini segara memesan makan malam mereka. Amar bahkan dengan sedikit mencuri pandang kepada wanita yang duduk di sebelahnya dengan tatapan mengagumi kecantikan wajahnya.



" Nyonya saya belum tahu nama anda?"

__ADS_1


" Saya Bella anda bisa memanggil saya Bella, jangan memangil saya Nyonya saya rasa wajah saya tidak terlalu tua."


Amar kini tertawa ketika protes pertama yang di layangkan oleh Bella. Amar kini mengangguk dengan sisa tawanya. " Maafkan saya Nyo- Bella tapi saya tidak tahu harus memanggil apa?, jika saya memanggil Nona juga tidak mungkin bukan?"


" Apa wajah saya terlihat Tua?, karena sebutan Nona tidak pantas?, astaga..." Bella tak habis pikir kepada laki laki yang ada di depannya.


" Tidak tidak, anda sudah menikah jadi saya tidak sopan jika saya memanggil anda Nona."


" Baiklah terserah anda saya Tuan Amar."


" Anda bisa memanggil saya Amar karena saya masih belum menikah."


Bella kini yang di buat syok dia tak menyangka laki laki yang ada di depannya ini belum menikah. " Benarkah anda belum menikah?, laki laki setua anda?"


Kini Amar malah tertawa keras di sana, wanita yang ada di depannya kini malah mengatai dirinya Tua, bukannya dia marah tapi dia malah tertawa keras mendengar ini semua.


" Apa anda seorang Gay?"


" Astaga tentu saja tidak Bella, saya masih normal."


" Lalu kenapa anda belum menikah?, tidak mungkin jika tidak ada wanita yang mendekatinya, saya rasa anda adalah seorang yang muda akrab dengan orang jadi saya rasa saya tidak percaya jika anda tidak ada yang mendekatinya."


" Mungkin benar banyak yang mendekatinya tapi mereka hanya mengincar salah satu yang aku punya dan aku orang yang juga tidak ingin terikat suatu komitmen, menurut saya komitmen adalah hal yang merumitkan."


" Tidak semua komitmen merumitkan Tuan Amar, hanya kita membutuhkan saling percaya dan itu akan membuat komitmen itu berjalan seperti biasanya."

__ADS_1


" Mungkin anda benar tapi saya orang yang entahlah mungkin sulit mempercayai wanita. Karena pada dasarnya wanita kadang tak pernah puas dengan satu apa yang di miliki. Maaf bukannya saya menghina wanita tapi kebanyakan mereka memang seperti itu tapi terkadang ada juga wanita yang tetap bertahan dengan satu yang dia punya."


" Jika anda sudah mengecap wanita seperti itu akan susah buat saya mengatakan bahwa banyak wanita yang di luar sana yabg setia dengan keadaan laki laki nya yang tidak memiliki apapun..." Amar dan Bella kini saling bertatapan dengan tatapan yang berbeda.


__ADS_2