
Laura yang ada di dalam kamar menatap satu persatu foto Bara yang ada di sana kini seakan merasa tak sabar ingin sekali bertemu dengan laki laki itu. Tapi kini menatap sebuah foto besar yang ada di atas ranjang laki laki itu. Matanya menyipit dengan tanda tanya.
" Apa ini beneran?, Tapi kenapa tak ada di berita jika Bara menikah?, Siapa gadis itu?" Gumamnya dengan penuh tanda tanya.
Semua pikiran seakan memenuhi pikirannya tapi dia tak menemukan jawaban sama sekali tentang ini semua.
" Apa hanya sebuah model pernikahan?" Tanyanya pada dirinya sendiri. " Pasti ini hanya sebuah model foto pernikahan, dan Bara dan wanita ini adalah modelnya…" Ujarnya dengan yakin.
Ceklek!! Suara pintu yang terbuka membuat wanita yang tadi berkeliling menatap semua foto yang ada di sana kini langsung menatap ke arah pintu kamar mandi dengan senyuman yang begitu mengembang. Dia berharap Bara yang ada di sana.
Laura langsung menoleh ke arah samping senyum yang sedari tadi mengembang kini langsung menciut, senyuman dan harapan itu kini luntur seketika. Seakan apa yang dia harapkan tak ada di depan nya.
Bella yang keluar dulu dari kamar mandi dengan masih memakai jubah mandinya kini juga sedikit tanda tanya kepada hatinya.
Mata mereka kini saling beradu pandang dengan penuh tanya yang sempurna. Tak ada percakapan di antara kedua wanita itu, hanya saling menatap dengan arti masing masing.
" Sayang kamu sudah siap-, Laura…" Bara yang keluar dengan balutan handuk yang melingkar pun juga terkejut melihat wanita lain berada di dalam kamarnya dengan menatap diam ke arah istrinya.
" Laura kamu di sini?, Kapan kamu datang?" Bara langsung menanyakan kedatangan teman masa kecil nya itu.
" Siapa dia?, Kenapa dia ada di dalam kamar mandi mu?, Apa kalian mandi bersama?..." Tanyanya dengan cepat.
" Apa dia juga semacam jalan*, apa Tante Andin tau ini semua?, Astaga Bara…" Dia menutupi rasa kesal nya dengan langsung menyemburkan bahwa Bella adalah sebuah jalan*.
Bara kini memeluk istrinya dari belakang mencium pipi Bella dengan penuh kasih sayang. " Apa kamu tak melihat foto pernikahan kita?, Maaf aku tak bisa mengundangmu di pernikahan kami."
Deg!! Laura kini sedikit limbung tapi dengan cepat wanita itu menguasai dirinya atas keterkejutan ini semua. Dia tak menyangka laki laki yang begitu diharapkan dari dulu lagi lagi didahului oleh wanita lain.
" Menikah?" Laura mengulanginya dengan masih syok.
__ADS_1
" Iya kami sudah menikah!, Sayang perkenalkan dia Laura teman kecil ku, dan Laura dia adalah Bella istri tersayang ku…" Bara memperkenalkan mereka dengan tersenyum. Bara tak luput untuk selalu mencuri mencium pipi dari istrinya itu.
Bella hanya bisa sedikit memukul tangan Bara ketika dia mencuri ciuman di pipinya.
" Sayang hentikan kau ini…" Ujarnya.
" Baiklah aku keluar, maaf aku tadi tiba tiba masuk…" Laura dengan raut yang kecewa kini dengan cepat keluar dari kamar mereka dengan langkah cepat dengan kepalanya yang menusuk.
Rasa sakit hatinya kini seakan tercabik cabik, laki laki yang begitu dicintai harus ia relakan kepada wanita lain. Laura kini dengan segera masuk ke dalam kamarnya, bersandar di pintu dengan rasa kecewa serta rasa sakit yang begitu dalam.
" Argh.. kenapa aku terlambat lagi, kenapa…" Teriaknya dengan kencang.
Dulu dia yang mencintainya harus dia kubur ketika Bara bertunangan dengan wanita lain, dia harus merelakannya dan sekarang di saat tunangannya telah meninggal dan dia kembali mengharapkan laki laki itu kini dia harus kembali merasakan sakit ketika sebuah fakta dia sudah menikah. Lagi lagi hatinya harus tercabik cabik begitu sakit ketika semua fakta fakta itu harus terungkap.
Laura menangis merasakan sakit pada hatinya yang begitu perih. Sakit pada hatinya kini seakan tak ada obatnya, dia meratapi dirinya yang seakan ingin berjuang tapi lagi lagi harus ditolak untuk kedua kalinya.
Dia jatuh ke lantai dengan air mata yang deras membasahi pipinya, sikap romantis yang diberikan oleh Bara tadi seakan menggoyah hatinya yang begitu tajam. Cabikan kepada hatinya membuat dia tak bertahan dan tak mampu untuk di tahan lagi.
" Sayang kamu kenapa dari tadi diam?" Bella yang sedang memakaikan dasi untuk suaminya.
" Tak ada apapun, hanya saja aku masih kepikiran dengan teman mu tadi!, Kenapa di tak mengatakan apapun ketika tau kita sudah menikah dan langsung pergi begitu saja, apa karena dia menyimpan rasa dengan mu?"
" Astaga maksudmu Laura?, Tak mungkin dia menyukai ku!, Aku dan dia sudah lama menjadi teman, sejak kecil selalu bersama, aku sudah menganggap Laura sebagai adik sebaliknya dengan dia yang menganggap aku sebagai kakaknya."
" Bara kenapa kamu menjadi naif?, Tak ada kata kata pertemanan antara pihak wanita dan pihak laki laki."
" Sayang tapi aku dengan Laura murni hanya menjalin pertemanan dan tak ada yang lebih dari itu…" Bara tentu saja mengelaknya karena laki laki itu memang menganggap Laura hanya teman tak ada kata kata lebih.
" Iya kamu Bara tapi tidak untuk Laura, kau lihat tadi dia bahkan tidak mengucapkan apapun untuk mu, di langsung pergi begitu saja ketika tau kita menikah. Aku rasa dia menyimpan rasa untuk mu dan saat ini dia kecewa karena nyatanya kamu sudah menikah…" Insting seorang wanita pasti akan lebih tajam dari insting laki laki.
Bara hanya diam dia tak menjawab apapun, tapi selama ini dia dan Laura tak ada kedekatan yang berlebihan. Di antara mereka hanya sebatas pertemanan yang wajar, masih ada batasan batasan normal jika dikatakan mereka hanya teman.
__ADS_1
" Baiklah jangan pikirkan dia, sekarang yang terpenting aku adalah milikmu…" Bara malah menarik pinggang istrinya agar tubuh mereka saling menempel.
" Sayang lepaskan, kamu akan berangkat, jangan mulai…" Bella sedikit memberontak dengan mendorong pelan tubuh suaminya yang sengaja menggodanya.
" Astaga Sayang, aku tak bisa jika tak ingin menyentuhmu."
Bara malah menempelkan bibir mereka, meluma* bibir itu dengan pelan, menekan tubuh agar tubuh mereka saling menempel dengan sempurna. Bella tentu saja tak bisa menghindar jika hal ini selalu dilakukan oleh suaminya.
Bella kini membalas ciuman* tersebut dengan lembut, mereka kini saling membalas dengan ciuma* yang begitu mereka dambakan. Seakan ciuman itu kini menjadi candu bagi mereka berdua.
Bara merema* panta* istrinya dengan gemas membuat sang istri hanya melengu* di sela sela ciuma* tersebut. Ciuman yang awalnya lembut kini menjadi cumbua* yang sedikit liar.
" Sayang hentikan…" Desaha* nya tertahan ketika Bara menggigit lehe* istrinya memberikan tanda lagi di atas leher itu.
" Ini memabukan Honey…" Erangnya dengan pelan.
Bella merasakan ada sesuatu yang bangkit dari bawah sana, tapi kini mereka hanya bisa saling berpandangan tanpa ada yang ingin melepaskan pandangan mata mereka.
" Sayang lepaskan nanti kamu pasti terlambat datang ke perusahan."
" Aku bos nya Honey apa kau lupa hal itu?"
" Meskipun kamu bos nya tapi tak bisa kamu seenaknya datang Sayang. Nanti kita bisa lanjutkan lagi."
" Janji?" Bella malah tersenyum malu, suaminya sekarang seakan tak ingin berhenti melakukannya. " Janji dulu baru aku lepaskan?"
" Iya baiklah aku janji, kau puas…" Bara hanya meluma* sebentar bibir itu yang kemudian melepaskan pelukan itu dengan tersenyum senang.
Panasan saja dulu jangan yang hot hot nanti malah bingung sendiri kalian jika baca yang hot terus 😂
__ADS_1