Serpihan Hati

Serpihan Hati
Bagian 30


__ADS_3

"Dari mana aja kamu? Bukannya pulang ke rumah malah keluyuran nggak jelas!"


Shanum tertegun, menelan liur kesulitan karena rasa sesak yang kembali menghimpit. Selanjutnya, helaan napas ia lakukan guna menenangkan hati dan pikiran. Hari masih siang, terik matahari tak mampu kalahkan panasnya situasi di dalam rumah itu.


Ia berbalik, menatap Raka yang berdiri dengan wajah memerah padam. Tak ada keramahan yang terlihat di sana, entah apa yang dilakukan Shila sehingga Raka berubah drastis.


"Aku sama Lia tadi." Shanum kembali menghela napas, tak dapat menunggu lebih lama lagi.


"Aku nggak nanya kamu sama siapa? Aku tanya kamu ke mana? Aku tunggu di rumah, tapi kamu nggak ada pulang." Raka semakin berang, menatap nyalang pada wanita yang beberapa bulan lalu memberinya kebahagiaan.


Shanum terdiam, mencoba untuk tetap tenang dan sabar. Jika keduanya menjadi api, maka tak akan ada solusi yang mereka dapat.


"Bisa kita duduk berdua? Ngobrol dengan tenang dari hati ke hati. Aku capek kalo harus tarik urat terus sama kamu. Rumah tangga kita dipertaruhkan di sini, Raka. Tenangin hati dan pikiran kamu, kita bicara," tutur Shanum seraya melangkah ke arah sofa dan duduk di sana.


Tak ada emosi yang terlihat di wajah cantik itu, dia tetap tenang setenang air sama seperti dulu. Raka menyadarinya, tapi ego di dalam hati menjadikannya keras bagai batu. Ia berbalik dan duduk berhadapan dengan sang istri tanpa mengendurkan ketegangan di wajah.


"Sejauh apa hubungan kamu sama dia sekarang?" tanya Shanum setelah beberapa saat memperhatikan garis wajah suaminya. Ada sesak merebak di dalam dada, tapi sekuat mungkin ia tahan agar tidak mengalir pada kelopak mata.


"Hubungan apa? Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Kamu nggak percaya sama suami kamu sendiri?" sentak Raka dengan mata melotot merah pada Shanum.


Wanita itu diam, memandang lekat suaminya yang telah benar-benar berubah. Ke mana Raka yang dulu lembut? Ia menghela napas, berbicara dengan emosi semakin membuatnya lelah.

__ADS_1


"Bisa nggak kamu ngomong pelan-pelan? Dan itu ... coba mata kamu jangan melotot kayak gitu. Ingat, di sini ada anak kamu. Ada benih kamu yang bisa denger suara orang tuanya. Aku minta kita bicara baik-baik, aku tanya kamu baik-baik, coba jawab baik-baik juga. Kalo kamu nggak ngerasa, nggak perlu keluarin urat leher kayak begitu. Nggak perlu!" Shanum menggeleng, kedua alisnya bertaut heran, berkata dengan nada lembut khas seorang Shanum.


Raka mendengus, memalingkan wajah enggan bersitatap muka dengan istrinya.


"Kamu yang nanya macam-macam, bikin emosi aja. Pasti si Lia sama laki-laki itu-"


"Nggak usah bawa-bawa mereka. Ini masalah kita berdua. Kita yang harus menyelesaikannya sendiri. Aku tanya karena aku punya beberapa bukti kedekatan kamu sama Shila. CCTV di toko juga bisa jadi bukti apa yang terjadi selama aku pergi." Shanum menghela napas, meski berbicara tanpa menggunakan emosi tetap saja hatinya merasa lelah.


"Terus kamu nuduh aku selingkuh, gitu?" sambar Raka penuh emosi. Dadanya yang naik turun menandakan ia tengah dilanda gejolak amarah.


"Aku bukan nuduh, aku cuma tanya sama kamu. Kalo emang nggak ada hubungan apa-apa, kamu tinggal jelasin kenapa selama aku pergi kamu sering berduaan sama dia? Kamu tahu, 'kan, aku nggak suka kamu deket-deket sama dia apapun alasannya. Aku nggak suka!" Shanum menggelengkan kepala lagi menegaskan ucapannya.


Hembusan napas Raka semakin berat terlihat, pandangan matanya masih berpaling dari Shanum. Tak berani menatap.


Raka mendengus, masih tak berani memandang wajah cantik di depannya itu. Shanum tahu, dia tidak akan berani mengatakan itu.


"Udah aku duga. Kamu memang ada hubungan sama dia. Kamu mengorbankan rumah tangga kita, Raka. Kamu nggak peduli janin yang ada di rahim aku. Ternyata, Shila lebih berharga dari pada kami." Shanum tertawa getir, tangannya mengusap cepat air yang hendak jatuh dari pelupuk.


Raka terlihat gelisah, lisannya tak kunjung menemukan kata-kata yang tepat untuk mematahkan persepsi Shanum.


"Kamu harus pilih, Ka. Kamu pilih kami atau dia? Kalo kamu mau balikan sama dia, maka kami akan mengalah dan pergi dari hidup kamu, tapi kalo kamu pilih kami ... tinggalin dia dan fokus sama kami saja," tawar Shanum setelah menormalkan perasaan yang tiba-tiba saja bergejolak.

__ADS_1


Mata Raka terbuka lebar, sedikit rasa cemas timbul di hati ketika mendengar penuturan Shanum. Itu artinya Shanum memilih perpisahan? Tidak!


"Kenapa kamu keras kepala, Sha?" Raka mulai melemah, tapi tetap menyalahkan Shanum.


"Bukan aku, Ka, tapi kamu. Kamu yang nggak ngerti perasaan aku sebagai istri kamu. Kalo kamu nggak bisa jawab sekarang, aku kasih waktu kamu tiga hari. Kalo masih ada urusan kamu yang belum selesai sama dia, selesaikan dalam waktu tiga hari itu. Aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi," ujar Shanum seraya beranjak dari sofa dan masuk ke kamar mereka.


Berselang, ia kembali keluar bersama selimut dan bantal khusus miliknya. Lalu, masuk ke kamar yang lain dan menguncinya. Raka mengerang, menjambak rambut sendiri. Masalah rumah tangga mereka semakin rumit terasa, apalagi dengan pilihan yang diberikan Shanum.


Ia beranjak dan berdiri di depan kamar yang dimasuki istrinya.


"Sha! Kamu istri aku, dan kamu juga lagi hamil anak aku. Udah pasti aku pilih kalian. Shila bukan siapa-siapa aku, Sha. Aku tahu, aku pernah khilaf. Aku minta maaf, Sha. Aku menyesal. Tolong jangan kayak gini!" Raka memelas sambil mengetuk pintu kamar itu.


Namun, beberapa saat menunggu tetap tak ada jawaban. Shanum bungkam, tetap pada tawarannya.


"Shanum! Sayang! Maafin aku, Sha. Nggak seharusnya aku marah-marah sama kamu tadi. Buka pintunya, Sha!" Raka kembali mencoba, tapi tetap masih tak ada suara.


"Selesaikan masalah kamu sama dia. Baru ngomong lagi sama aku!" sahut Shanum sama sekali tidak merubah keputusan.


Dia tak ingin masih ada yang tertinggal karena itu bisa kembali datang dan mengungkit semua yang telah terjadi. Raka menghela napas, menunduk sambil memejamkan mata.


"Baik, Sha. Kalo itu emang mau kamu, tapi setelah itu kamu harus maafin aku, Sha. Kita kayak dulu lagi. Shanum!" Permintaan Raka disambut hening oleh Shanum.

__ADS_1


Tangannya jatuh terkulai, wajah tertunduk lesu. Ia berbalik dan berjalan gontai mendekati sofa. Ambruk sambil memijit pelipis. Semua yang terjadi pada hidupnya adalah buah dari apa yang telah dia lakukan. Kini, Raka tinggal menyesali semuanya.


__ADS_2