Serpihan Hati

Serpihan Hati
Bagian 33


__ADS_3

"Yang sabar, Sha. Terus kamu maunya gimana?" Lia mengusap-usap punggung Shanum sesaat setelah temannya itu menceritakan kejadian yang baru ia lihat.


Shanum memutuskan pergi menemui Lia usai memergoki Raka membela Shila. Helaan napasnya terhembus berat, seolah-olah beban menggunung ditanggungnya.


"Menurut kamu aku harus apa?" Shanum balik bertanya sambil menatap Lia dengan senyum tipisnya.


"Kalo aku jadi kamu mending cerai aja, deh. Daripada makan hati, lama-lama bikin jantungan," ujar Lia dengan wajah tak sedap dipandang.


Shanum tertawa getir. Perceraian, bukan itu yang sebenarnya dia inginkan meski pernikahan yang dijalani atas dasar keterpaksaan.


"Mungkin nggak sekarang, aku mau ngasih pelajaran dulu sama Raka. Aku juga mau lihat kesungguhan dia menyesali semuanya. Ya, kalo masih bisa dipertahankan mungkin aku akan bertahan sebentar lagi, tapi nggak menutup kemungkinan itu jalan terakhir yang akan aku ambil," tutur Shanum dengan segenap ketegaran hatinya.


Bercerai begitu saja? Rasanya itu terlalu mudah. Raka harus menerima pelajaran terlebih dahulu sebelum merasakan perpisahan.


"Ya, itu terserah kamu. Emang kamu mau ngelakuin apa?" tanya Lia penasaran juga.


"Aku mau kamu ngelola toko aku ...." Tatapan Shanum begitu dalam menohok kedua manik Lia.


Gadis itu tertegun mendengar penuturannya. Sebuah penawaran yang dulu pernah ia dengar, tapi ditolaknya. Shanum menggenggam tangan Lia, meremasnya dengan lembut.


"Aku tahu, kamu udah nggak kerja sekarang. Semua ini karena kamu setiap hari cariin aku. Kamu nggak bisa nolak, Lia. Kamu terima, aku percaya sama kamu," ungkap Shanum dengan sepenuh hati.


Lia terharu, sungguh tak mengira jika Shanum akhirnya tahu bahwa dia sudah dipecat dari pekerjaan. Ia menunduk menghela napas, dan mengangguk. Pelukan hangat diterima Lia dari Shanum, sebuah rasa syukur dan ungkapan terima kasih.


"Makasih, Sha. Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi," ucap Lia tersendat-sendat karena menahan isak.


"Nggak usah kayak gitu. Kita ini sahabat, harus saling membantu. Rasanya terima kasih aja nggak cukup buat menebus semua waktu yang kamu buang sia-sia buat nyariin aku," balas Shanum seraya melepas pelukan dan keduanya tertawa.


Shanum menyusut air mata yang menggenang di pelupuk. Sedikit terhibur hatinya saat meluapkan isi hati pada sahabat. Terasa ringan beban di pundak, setelah berbagi rasa resah dan gelisah.


"Terus, kita ngapain?" tanya Lia sambil mengusap kedua matanya yang berair.


"Kamu tenang aja. Besok kamu harus datang ke toko buat gantiin aku."


Lia mengangguk, keduanya melanjutkan obrolan. Apa saja yang penting mengisi kekosongan. Kamar sempit dengan kasurnya yang tak setebal milik Shanum, terasa nyaman untuk wanita hamil itu.

__ADS_1


****


Sementara Raka, memacu motornya menuju rumah mengira Shanum masih ada di sana dan belum pergi ke mana pun. Terburu-buru langkahnya mendekati teras, tapi pintu rumah terkunci. Raka berlari ke garasi, motor Shanum tak ada di sana.


"Mungkin dia pergi ke toko." Raka kembali ke motornya, rasa resah dan gelisah seketika hadir tanpa diundang. Dia harus meminta maaf dan memperbaiki semuanya.


Motor melesat di jalanan dengan kecepatan tinggi. Ingin rasanya segera tiba, dan berbicara dengan Shanum dari hati ke hati. Ia memarkir motor di depan toko sang istri, tapi satu sosok yang berdiri tak jauh dari etalase menyita perhatiannya.


Dada Raka bergemuruh, amarah seketika memuncak melihat Dzaky yang tersenyum pada seseorang dibalik meja kasir. Raka berlari mendekati pemuda jangkung itu, menariknya tanpa aba-aba.


"Brengsek!"


Bugh!


Satu pukulan menghantam wajah Dzaky, beruntung laki-laki itu cepat bereaksi sehingga pukulan Raka hanya mengenai udara.


Dzaky membalas, sigap menangkap tangan Raka dan mendorongnya. Postur tubuh Dzaky yang lebih tinggi dan besar membuatnya dengan mudah mematahkan serangan Raka.


"Kenapa kamu tiba-tiba memukulku?" tanya Dzaky seraya menepuk-nepuk kemeja yang dikenakannya.


"Mau apa kamu datang ke sini? Mau godain istri aku? Sadar, Bung! Shanum udah nikah dan dia lagi hamil anak aku!" sentak Raka tidak terima dengan kedekatan keduanya.


Dahi Dzaky mengernyit, terheran-heran dengan tuduhan Raka. Padahal, dia datang hanya untuk mengambil kue pesanan sang ibu untuk acara pengajian di rumahnya.


"Nggak usah berlebihan. Ini toko kue, siapa aja boleh datang ke sini. Lagian aku datang ke sini cuma mau ambil pesanan aja, bukan mau ketemu sama Shanum. Kamu kira Shanum ada di sini? Dia bahkan nggak ada di toko," jawab Dzaky dengan sikap tenangnya.


Raka mendengus, tak percaya pada apa yang dikatakan pemuda jangkung itu.


"Alasan! Aku tahu laki-laki licik kayak kamu itu pastinya akan melakukan segala macam cara buat dapetin apa yang kamu mau!" Raka semakin bertingkah sengit. Namun, Dzaky tetap tenang dan menghela napas pelan.


"Terserah. Kalo kamu terus berpikiran buruk sama orang, sampai kapanpun kamu nggak akan pernah bahagia." Dzaky berjalan mendekati seorang pelayan yang membawakan pesanannya.


Ia tersenyum dan beralih pada Raka, menunjukkan bungkusan di tangan, dan berlalu pergi tanpa berniat meladeni Raka.


"Maaf, Pak. Ibu emang nggak ada di toko, beliau belum datang dari kemarin," ucap Wati memberitahu Raka tanpa diminta.

__ADS_1


Suami Shanum itu terdiam, berbalik dan memeriksa meja kasir yang biasa diduduki sang istri.


"Terus, tadi yang duduk di sana siapa?" tanya Raka menunjuk meja tersebut.


"Itu saya, Pak. Ibu emang belum datang ke sini, mungkin di toko cabang," jawab Wati memberitahu suami atasannya itu.


"Oh, ya udah. Makasih." Raka berbalik dan kembali menaiki motornya. Melaju meninggalkan toko sang istri dengan perasaan berkecamuk.


Malu? Rasanya tidak, untuk apa malu kepada Dzaky? Sementara yang dia katakan adalah benar. Raka memutuskan mengambil jalan memotong untuk cepat sampai di toko cabang.


Jalanan sepi dari kendaraan karena hanya sebuah jalan gang kecil yang dipadati penduduk. Berharap Shanum memang ada di sana, dan tidak ada masalah lagi.


Raka berlari ke dalam toko, mencari keberadaan sang istri.


"Bapak cari ibu, ya?" tanya salah seorang karyawan saat melihat Raka memindai seluruh toko.


"Iya, dia ada di sini?"


Karyawan tersebut menggelengkan kepala. "Nggak ada, Pak. Ibu belum datang ke sini lagi," jawabnya membuat Raka bingung.


Hatinya merasa cemas, dia kemudian kembali keluar berniat pergi ke rumah Lia. Mungkin saja Shanum ada di sana.


"Ke mana sebenarnya Shanum? Jangan sampai dia pergi lagi kayak kemarin," gumamnya dalam hati.


Ia berdecak, kesal sendiri. Kenapa masalah yang terjadi harus berlarut-larut. Salahnya karena tak dapat bicara baik-baik semalam. Mungkin Shanum masih marah akan sikapnya.


Raka memelankan laju motor ketika melewati sebuah jembatan, matanya menangkap satu sosok yang berdiri di pembatas jembatan, menghadap ke arah sungai.


Motor berbalik kembali, urung pergi ke rumah Lia. Rasa kemanusiaannya tergerak untuk menyelamatkan orang tersebut.


"Woy!"


****


Hampura kakak-kakak semua, othor lagi ada kegiatan di sekolah. Mengisi raport anak-anak, dan lain sebagainya. Harap dimaklum. Terima kasih sudah menunggu dengan sabar.

__ADS_1


__ADS_2