
Pagi hari, Shila sudah berdandan amat cantik di depan cermin di kamarnya. Mematut diri menelisik kekurangan yang masih melekat. Bibirnya membentuk senyum puas, tatkala penampilan telah sempurna seluruhnya.
"Sempurna! Hari ini aku mau bikin kejutan buat Benny. Dia pasti seneng banget. Ah ... enaknya punya dua laki-laki bodoh yang bisa aku manfaatin uangnya." Shila terkekeh geli, menata rambutnya kembali sebelum berbalik menyambar tas.
Aroma parfum menguar di sepanjang jalan yang dilewatinya. Langkah kaki ceria itu mendatangi dapur, mencium aroma masakan yang dibuat asisten rumah tangga.
"Bi, udah bikin bekel? Pastiin yang enak, lho." Shila bertanya sembari melihat kotak bekal yang belum tertutup.
"Coba dicek dulu, Non. Udah enak belum rasanya?" ujar Bibi seraya menata makanan di meja makan.
Shila mendatangi masakan yang akan dibawanya untuk Benny. Mencicipi, mengangguk puas. Benny selalu senang bila ia datang membawakan makanan.
****
Dengan senyum di bibir, Shila memasuki lobi kantor milik Benny. Beberapa karyawan menyapa, tapi sebagian bersikap tak acuh karena merasa tidak begitu mengenalnya. Lagipula Benny, atasan mereka tidak pernah mengumumkan secara resmi tentang Shila sebagai tunangan ataupun calon istrinya.
"Beritahu pak Benny, aku menunggunya di lobi. Katakan juga aku membawa sarapan," ucap Shila kepada resepsionis tak peduli apakah Benny sibuk atau tidak, karena dirinya merasa dipentingkan selama ini.
Wanita penerima tamu itu tidak menyahut, melainkan langsung memegang gagang telpon menghubungi atasannya. Dia mengatakan apa yang diperintahkan Shila tadi. Senyum lebar terbit dari bibir yang dipoles gincu merah itu.
"Baik, Pak." Sang resepsionis menutup sambungan, menatap Shila aneh.
"Pak Benny akan turun. Silahkan Anda menunggu," beritahu resepsionis sembari menunjuk ruangan khusus yang sering mereka gunakan.
Shila mengukir senyum sepanjang menunggu kedatangan Benny. Berkali-kali ditatapnya ponsel berniat menghubungi, tapi khawatir akan mengganggu kerja Benny. Jadilah, dia harus bersabar barang tiga puluh menit ke depan.
Namun, setelah detik jam berlalu sekian banyak. Lima belas menit berlalu dengan sepi, Shila mulai merasa jenuh. Senyumnya luntur, merebahkan diri di sofa yang tak jarang mereka gunakan untuk bergulat.
Helaan napas panjang pun terhembus darinya, rasa bosan semakin melanda. Tiga puluh menit telah berlalu, tapi Benny tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Kenapa lama banget, sih? Ngapain aja coba si Benny?" gerutunya kesal. Ia bangkit dari berbaring, duduk sambil menekan tombol dial menghubungi Benny.
"Sial! Nggak diangkat lagi!" Shila keluar, kembali menemui resepsionis menanyakan keberadaan Benny.
"Tadi pak Benny cuma bilang suruh nunggu aja sampe beliau datang. Soalnya ada rapat dadakan, mungkin belum selesai," jawab sang resepsionis memberitahu Shila.
Gadis tak tahu malu itu berdecak, bertolak pinggang sambil menatap luar kantor. Dahinya mengernyit, garis wajahnya pun berubah menegang tatkala di seberang kantor Benny, ia melihat laki-laki itu tengah tertawa bahagia bersama seorang wanita cantik.
__ADS_1
"Sialan! Dia bilang ada rapat, tapi nggak tahunya lagi asik berduaan sama perempuan. Awas kamu, Benny!" Shila mengepalkan kedua tangan, kulit wajahnya telah memerah dipenuhi amarah.
Rapat apa yang hanya berdua dengan seorang wanita muda. Tertawa, saling melempar senyum. Bergemuruh dada Shila ketika hatinya menerka tentang perselingkuhan yang dilakukan Benny.
Shila menyeret langkah menuju restoran depan. Matanya tak berpaling dari dua sosok manusia yang tengah menikmati waktu itu. Tak peduli pada klakson mobil dan motor yang berbunyi tatkala ia menyebrang tanpa memperhatikan jalanan.
Gejolak api cemburu semakin membakar dada kala Benny terlihat sengaja membersihkan makanan di salah satu sudut bibir wanita itu. Kepalan tangan Shila semakin menguat hingga buku-buku jarinya memutih.
Dengan satu gerakan cepat, tangan Shila menjambak rambut wanita itu dan menariknya keluar dari kursi.
"Perempuan sialan!"
"Argh!"
"Shila!" Benny bangkit dengan cepat, mencengkeram kuat tangan Shila yang masih melekat pada rambut wanita itu. Dia meringis merasakan ngilu di pergelangan tangannya.
"Lepasin!" geram Benny dengan rahang yang mengeras.
Hal tersebut mengundang perhatian banyak orang. Mereka menjadi tontonan menarik, gratis untuk dinikmati.
"Perempuan j*l*ng! Kamu mau rebut Benny dari aku, hah!" hardik Shila meradang.
"Argh! Sakit!" Dia merintih ketika rasa perih melanda kulit kepalanya.
"Shila! Lepas sekarang juga! Kamu buat aku malu!" sarkas Benny menggeram.
Shila meringis, perlahan tangannya terlepas dari rambut wanita itu karena cengkraman Benny yang semakin meyakitkan.
"Argh! Sakit, Ben!" Shila merintih, memegangi tangan Benny berharap akan melepaskan cengkeramannya.
Namun, Benny justru menariknya keluar dan menghempaskan tubuh Shila ke halaman restoran.
"Apa-apaan, sih, Ben! Kenapa kamu kasar sama aku?" teriak Shila tidak terima.
Ia memegangi pergelangan tangannya yang memerah, terasa perih.
"Harusnya aku yang nanya kenapa kamu tiba-tiba jambak rambut dia?" Benny terlihat meradang, tapi masih bisa menahan nada suaranya agar tidak berteriak.
__ADS_1
"Kenapa? Jelas aku marah, Ben! Kamu suruh aku nunggu di lobi, sedangkan kamu enak-enakan makan di sini sambil ketawa-ketawa sama dia. Kamu selingkuh, Ben?" sahut Shila menatap Benny penuh emosi.
Benny mendengus, tak mau peduli apapun yang dibicarakan Shila. Tatapannya jatuh pada kedua manik merah wanita di hadapannya, tak ada lagi cinta juga kehangatan yang selalu Shila dapatkan.
"Kalo aku selingkuh memangnya kenapa? Aku punya banyak uang, aku bebas milih perempuan mana yang mau aku kencani. Kamu mau apa?" tantang Benny sambil tersenyum licik.
Shila semakin terbakar, bibirnya terbelah tak percaya. Dia kira dengan memberi Benny segalanya, laki-laki itu tidak akan pernah berpaling. Nyatanya, semua laki-laki itu sama. Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, dengan mudah meninggalkan.
"Kamu nggak bisa ngelakuin ini sama aku, Benny. Kamu nggak boleh! Aku udah kasih kamu semuanya ... semuanya!" jerit Shila tidak terima.
Air matanya bercucuran, jatuh beriringan. Sesak berkumpul memenuhi dada, membentuk rasa sakit yang tak terkira. Sungguh, ia tak menduga bila Benny akan menyakitinya.
"Kenapa aku nggak bisa? Kenapa aku nggak boleh? Sedangkan kamu sendiri bebas jalan sama siapa saja, tidur sama laki-laki mana saja. Kenapa aku nggak? Udahlah, Shil. Kamu nggak usah munafik! Berapa laki-laki yang tidur sama kamu setiap minggunya? Aku tahu itu, Shila!" Benny melipat kedua tangan di perut, memandang remeh wanita di hadapannya.
Shila tak mampu berkata-kata, hanya air matanya saja yang turun kian deras. Sampai wanita itu muncul dan berdiri di samping Benny. Hati Shila semakin memanas.
"Siapa, sih, Mas? Kok, bar-bar banget. Datang-datang langsung main jambak aja," tanya wanita itu dengan suara yang manja.
Shila membelalak saat mendengarnya memanggil Benny dengan sebutan mas. Sedekat itukah mereka? Sudah berapa lama Benny berselingkuh dengannya?
"Bukan siapa-siapa, dia cuma mantan aku yang datang minta balikan." Benny merangkul bahu wanita itu, bahkan membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
Shila semakin dibakar rasa cemburu, tangannya kembali mengepal. Dia kembali maju dengan gerakan cepat, mencakar wajah wanita itu.
"Perempuan sialan! Penggoda pacar orang! Aku ini calon istri Benny!"
"Argh!"
"Shila!" Benny mendorong sangat kuat tubuh Shila hingga terpelanting ke tanah. Dia meringis, kembali berair mata saat Benny berlaku kasar padanya.
"Sakit, Mas!" Wanita itu meringis sambil memegangi pipinya yang terkena kuku Shila.
Amarah Benny memuncak, ia berjalan mendekati Shila yang masih berada di atas tanah. Menariknya berdiri dan menampar pipi itu cukup keras hingga tubuh Shila kembali terjatuh dengan robekan si salah satu sudut bibirnya.
"Aku peringatkan sama kamu, jangan pernah datang lagi temuin aku. Kamu bukan siapa-siapa aku! Pergi! Aku nggak sudi lihat muka kamu!" hardik Benny meluruskan telunjuk tepat di depan wajah Shila.
Dia berbalik merangkul wanita itu dan mengajaknya pergi.
__ADS_1
"Laki-laki pengecut! Bisanya cuma main kasar sama perempuan!"
Sebuah suara sarkas menghentikan langkah Benny.