Serpihan Hati

Serpihan Hati
Kejujuran Bara


__ADS_3

wanita itu kini masih tertegun dengan apa yang di dengar, dia tak menyangka laki laki yang menyebabkan putrinya meninggal kini sudah memiliki istri, bahkan dia melupakan putrinya yang telah pergi selamanya. Egois kah wanita tua ini jika dia masih mengharapkan Bara adalah bagian keluarganya?, Egois kah wanita tua ini jika masih berharap jika Bara tidak akan menikah dan lebih sendiri untuk rasa berkabung untuk putrinya?.


Janji yang Bara lontarkan dulu di pemakaman Cristin kini hilang sudah, harapan yang di inginkan wanita tua itu kini tak ada artinya lagi. Harapan hanyalah harapan dan kini hanya tinggal omong kosong yang tak akan ada lagi.


" Kau sudah menikah dengan wanita ini?, jangan bercanda Bara?" Wanita tua itu kini masih berusaha untuk menyangkal ini semuanya dia berusaha untuk tidak terpengaruh apa yang dia dengar.


" Ibu maafkan Bara tapi apa yang aku katakan emang benar, kami sudah menikah dan kamu saling mencintai. Bara tidak bisa menempati janji Bara dengan Cristin maafkan Bara..." Bara kini tertunduk tapi apa yang menjadi beban kini terangkat sudah, dia lega karena bisa mengakui Bella adalah istrinya.


Plak!! satu tamparan yang kini di terima oleh Bara membuat Bella terkejut.


" Tante cukup..." Bella kini juga setengah berteriak dia tak menyangka wanita yang di panggil Ibu oleh suaminya kini malah menyerangnya dengan sebuah tamparan.


" Jangan ikut campur! dia adalah orang yang sudah menyebabkan putri saya meninggal dan dia yang berjanji untuk tetap setia kepadanya, bahkan dia tidak ingin menikah selain dengan putri ku. Tapi lihatlah sekarang dia menikah dengan wanita seperti ini?, apa dia pikir putri ku bahagia di sana melihat kau melupakan janji mu itu?" Wanita itu kini meninggikan suaranya hingga semua orang menatap ke arahnya.

__ADS_1


Amar kini juga berdiri dia bicara kepada staf di sana untuk mengosongkan segera restoran itu. Dia tidak ingin ada hal yang tidak di inginkan hingga membuat salah satu dari mereka merasakan ada kerugian.


" Jika kau menikah dengan nya hanya karena paksa Mama mu aku tak apa, aku tau seperti apa Mama mu, jika kau menikah dengan dia hanya karena hasrat mu pun aku juga tak masalah hal itu, tapi jika kau menikah dengan nya karena cinta kau sungguh keterlaluan kau mengkhianati putri ku..." Sambungnya lagi dengan menatap Bara dengan sungguh sungguh.


" Tidak ada yang mengkhianati putri mu di sini Tante!! putri mu sudah meninggal."


" Cukup jangan ikut campur dalam hal ini karena ini urusan ku dengan Bara bukan dengan mu, kau pikirkan saja nasib mu yang akan di ceraikan oleh Bara karena dia akan tetap setia kepada tunangannya."


" Saya jelas ikut campur karena Bara adalah suami ku, tak ada yang mengkhianati anak Tante di sini. Apa anda pikir Bara akan setia kepada orang yang sudah meninggal?, anda tanyakan kepada seluruh laki laki di sini, apa mereka akan tetap setia dengan orang yang sudah meninggal?, apa anda pikir Bara harus terpaku dengan wanita yang sudah di makamkan?, apa anda tak pernah berfikir sama sekali dengan mental Bara?" Bella kini menekan kata katanya dia tak bisa diam saja jika suaminya seakan kini di pojokan.


" Tak ada yang aku rebut di sini Tante, anak anda sudah meninggal dan Bara sudah tidak memiliki tunangan semenjak putri anda meninggal, jadi jangan berkata yang tidak tidak."


" Kau sekarang bangga karena Bara adalah suami mu, kau mungkin memiliki tubuhnya tapi kau yakin memiliki hatinya?, dia hanya mencintai Cristin tunangan nya, jadi jangan bangga dengan apa yang kau punya."

__ADS_1


" Saya akan membantunya melupakan putri anda karena orang yang sudah meninggal tak akan hidup lagi hanya karena cinta. Saya tidak peduli dengan anda adalah keluarga anda yang masih menganggap Suami ku adalah putra anda tapi yang jelas dan anda harus tau, Bara Valentino adalah Suami ku, milik ku bukan milik anda."


" Kau..." Wanita itu kini yang ingin menampar Bella dengan sigap di tahan oleh Bara. Bahkan kedua mata itu kini saling bertatapan.


" Maaf bu aku tak ingin merusak hubungan kita, aku tak ingin membuat ibu merasa sedih. Tapi aku di sini memang sudah menikah dengan Bella, apapun yang ibu katakan tadi adalah tidak benar, aku mencintai istri ku dan Cristin ada di hati ku tapi mereka memiliki tempat yang masing masing. Kini bukan Cristin yang aku cintai lagi tapi istri ku yang aku cintai bu. Maafkan aku jika aku membuat ibu kecewa tapi apa yang aku katakan benar..." Bara melepaskan tangan itu dengan lembut dia mengatakan apa yang dia rasakan.


" Jadi kau melupakan putri ku hanya karena wanita ini?"


" Bu Cristin sudah tenang di sana dan aku tentu saja tidak bisa setia kepada wanita yang sudah tenang di atas sana, dia sudah bahagia di atas jadi jangan karena kita seperti ini Cristin merasakan kesedihan Bu. Bara sungguh tak ingin mengingkari janji kepada mendiang Cristin tapi aku juga tak mungkin untuk sendiri, aku berhak mendapatkan wanita yang bisa aku sentuh. Sekali lagi maafkan Bara! Bara gak bisa menepati janji itu..." Bara sedikit menunduk setelah itu dia membawa istrinya untuk pergi dari sana.


Bara dan Bella kini meninggalkan restoran yang sudah sepi tak ada orang sama sekali. Wanita itu kini hanya menatap tajam kepergian mereka berdua. Rasa marah serta rasa kecewa kini membaur menjadi satu, rasa ingin melampiaskan kemarahan kepada Bara kini memuncak tapi apa yang di katakan Bara benar, dia tak mungkin setia dengan orang yang sudah di kubur, orang yang sudah meninggal. Bara juga membutuhkan wanita yang bisa di sentuh, wanita yang bisa di ajak untuk menyandarkan rasa lelahnya, saling menceritakan keluh kesah nya. Bukan wanita yang sudah meninggal yang tak bisa di ajak untuk sekedar mengobrol.


Sedangkan Bara dan Bella kini hanya ada kesunyian dan kebisuan selama perjalanan mereka menuju ke arah kamarnya. Bella kini tau bahwa suaminya kini merasakan kesedihan karena harus melawan wanita tua yang sudah di anggap ibunya itu. Jika saja bukan karena dirinya tadi mungkin Bara tidak akan mengatakan semuanya.

__ADS_1


Sedangkan Bara ada rasa lega karena mengatakan siapa wanita yang saat ini dia gandeng meskipun ada pertengkaran antara mereka tadi setidaknya dia sudah bisa jujur mengatakan semuanya dengan rasa leganya.


Terkadang kejujuran itu harus kita lakukan meskipun ada pahit di dengar dan kejujuran pun juga harus di katakan meskipun akan ada pertengkaran yang akan membuat hubungan suatu rusak karena kejujuran tersebut.


__ADS_2