
" Sayang..." Bella kali ini yang sudah berada di dalam kamar nya dia yang saat ini berada di dalam pelukan suaminya. " Bisa aku meminta satu hal dari mu?"
" Katakan ada apa Sayang?"
" Hmm.. aku merasa tidak nyaman dengan Laura teman kecil mu itu. Aku bukan tak ingin dia ada di sini tapi aku merasa tak nyaman jika ada wanita lain berada di rumah ini..." Bella mengutarakan maksudnya apa yang ada di pikirannya dari tadi.
" Dia tadi sudah berani masuk ke dalam kamar kita tanpa permisi dan dia juga tiba tiba pergi dan tadi dia datang ke kantor secara tiba tiba padahal kamu pasti nanti bisa pulang dari kantor..." Sambungnya lagi dengan hati hati.
" Aku tak bisa mengusirnya secara tiba tiba sayang itu tidak sopan!"
" Aku tau dan aku juga tak menyuruhmu untuk mengusirnya. Kata Mama dia datang kemari untuk bekerja di kantor mu, kamu bisa memberikan pekerjaan yang tidak ada di kota ini, mungkin di kantor cabang yang jauh dari sini."
Bara terdiam dia memikirkan apa yang di katakan oleh istrinya. Dia perlu pertimbangan jika meletakkan orang di cabangnya.
" Sebelum aku meletakkan dia di cabang aku harus melihat kinerja nya dia dulu Bel agar aku tau dia pantas di bagian mana."
" Kamu bisa mengawasinya di kantor cabang, maksud ku di sana jelas ada orang yang kau percaya bukan. Kamu adalah pimpinan nya kamu berhak mengirimkan di mana saja Sayang..." Katanya lagi dengan lembut.
" Kau cemburu jika ada wanita lain berada di dekat ku?"
" Tentu aku cemburu! kau adalah suami ku. Istri mana yang tak cemburu jika melihat ada wanita lain ada di dekat suaminya. Aku tak ingin ada pihak ketiga di antara hubungan rumah tangga kita Bar. Aku ingin serpihan hati ini utuh tak ingin berantakan..." Bara tersenyum dia senang ketika istrinya berkata jujur bahwa dia cemburu.
" Tapi aku harus meminta izin dulu dengan Mama jika ingin mengirimnya ke kantor cabang, Laura anak dari sahabatnya."
" Aku sudah mengatakan kepada Mama dan Mama setuju. Mama mendukung apapun yang akan membuat kita nyaman di pernikahan ini..." Jawabnya dengan cepat.
Bella sudah merencanakan semuanya, dia sudah mengatur semuanya. Sebelum dia mengatakan kepada suaminya di sudah mengatakan kepada mertuanya, dan sang mertua mendukung apapun yang membuat Bella nyaman berada di rumah ini.
__ADS_1
Mama Andin tak hanya menganggap Bella adalah menantunya tapi dia juga sudah menganggap Bella adalah putrinya. Bella lah yang membuat rumah suram itu hidup lagi, rumah yang selalu penuh dengan rasa duka kini kembali ceria lagi. Putra satu satu nya bertahan hidup karena Bella.
Mama Andin sudah berjanji kepada dirinya sendiri, apapun yang membuat dia nyaman selagi masih masuk akal maka dia akan mengabulkan semuanya dan mendukung semuanya. Mama Andin juga tak ingin ada pihak ketiga di dalam rumah tangga anak nya yang sudah bahagia saat ini.
" Jadi kamu sudah merencanakan semua?" Tanyanya dengan membawa punggung tangan istrinya untuk dia cium.
" Apa kau tak setuju dengan saran ku?, jika kamu tak suka maka jangan lakukan biarkan dia ada di sini selama nya dan bekerja dengan mu..." Suaranya kini berubah menjadi dingin.
" Astaga Sayang aku menyetujui apa yang kau katakan, nanti aku akan menghubungi David untuk mengatur Laura di perusahan cabang di negara lain."
" Kau tak marah bukan?"
" Tentu saja tidak kenapa aku harus marah sayang?, apa yang membuat mu nyaman dan senang maka aku akan lakukan untuk mu."
Tak ada kebahagian selain melihat senyum istrinya. Bara sebenarnya juga merasa risih jika ada wanita lain yang ada di rumah itu. Bara tak ingin ada yang salah paham dengan semua kondisi nya saat ini. Apa yang di rencanakan istri masuk akal dan itu membuat dia segera menyetujuinya.
Aku menang Laura menyingkirkan mu di sini. Batin Bella dengan tersenyum. dia masih ingat tantangan yang di berikan oleh Laura yang ada di restoran tadi siang.
Flashback
Kedua pasangan itu yang tadi makan siang bersama di dalam sebuah restoran dengan canda tawa yang bahagia, seakan tak ada orang lain yang ada di sekitarnya. Mereka berdua selalu berbuat romantis di dalam sana. Kebahagian mereka membuat seorang yang melihatnya merasa ingin marah, tangannya mengepal dengan kuat, wajahnya memerah karena merasa iri kepada kedua orang yang sedang bermesraan di depan matanya.
" Sayang aku ingin ke toilet sebentar..." Bara mengangguk dengan pelan.
Bella segera meninggalkan mejanya dia nya yang ingin mencuci tangannya. Bella yang sudah berada di dalam kamar mandi dengan mencuci tangannya dengan tenang.
" Jangan merasa menang di sini..." Suara itu tiba tiba muncul dari belakang punggung Bella.
__ADS_1
Bella hanya melihatnya dari kaca besar yang ada di depannya. Bella tau sebenarnya dari tadi dia di pantau oleh wanita itu. Dengan cepat dia segera pergi ke kamar mandi hanya untuk melihat tindakan apa yang akan di lakukan oleh wanita ini.
" Apa maksud mu aku tak mengerti..." Bella kini pura pura bodoh dia pura pura tak tahu maksud dari ucapan wanita yang ada di sampingnya saat ini.
" Dengar Nyonya Valentino jangan bangga dengan posisi mu sekarang, karena posisi mu sekarang harusnya wanita lain yang menempatinya."
Bella yang sudah menyelesaikan mencuci tangannya kini menatap wanita yang ada di sampingnya dengan tersenyum sinis.
" Siapa yang harus menempatinya?, apa itu kamu Nona Laura?" Bella melipatkan tangannya di dadanya menatap Laura dengan sinis.
" Apa maksud mu?" Ujarnya dengan gugup.
" Kau pikir aku tak tau apa yang sedang kau pikirkan Nona Laura?, kau pikir aku tak tau jika kau menyukai Bara heh?"
Laura tertawa keras di sana. " Jadi kau tau? maka aku tak perlu menutupi semuanya dari kamu bukan? aku memang mencintai Bara dari dulu,bahkan dari kami kecil. Tapi kau tiba tiba merebutnya dan mengantikan posisi yang selama ini aku impikan."
Bella tersenyum sinis ketika wanita yang ada di depannya kini malah mengakuinya. " Orang yang kau sukai itu adalah suami ku Nona! apa kau tak malu mengakui perasaan kepada suami ku? atau kau memang tak laku maka dari itu menyukai suami orang lain..." Ejeknya.
" Kau..." Tunjuknya.
" Apa? apa yang aku katakan salah? jika kau wanita terhormat maka kau akan malu mengakui perasaan mu kepada suami orang. Tapi sepertinya kau bukan wanita terhormat."
" Akan ku pastian kau akan menangis dan aku akan merebut Bara dari mu. Ku pastikan Bara akan berada di pelukan ku."
" Kita lihat saja, kau atau aku yang akan tetap berada di posisi nya."
Bella langsung meninggalkan kamar mandi yang di dalam Laura sedang marah karena tantangan nya tak membuat wanita itu gentar saat ini.
Flashback of
__ADS_1