Serpihan Hati

Serpihan Hati
Meminta Restu 2


__ADS_3

Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil, dengan Bara yang mengemudi sendiri. Bara yang sudah perlahan bisa memulihkan kondisinya kini secara perlahan bisa mengendari mobil dengan pelan pelan. Bara yang fokus ke arah depan, sedangkan Bella hanya menatap ke arah samping. Rasa canggung itu seakan membunuh mereka, tapi Bella kini malah enggan bertanya, sedangkan Bara malah merasa kecewa karena kekasihnya tak memiliki kepekaan kepada dirinya.


Bara kini malah meminggirkan mobilnya ketika rasa canggung itu seakan menjadi hawa yang begitu panas membunuh mereka berdua. Bella hanya mengerutkan keningnya ketika menatap kearah Bara yang juga menatapnya.


" Kenapa harus berhenti?, ada apa?" Tanyanya dengan polos.


'Wanita itu bodoh atau pura pura bodoh?, apa dia tak tahu kesalahannya?, dan aku seperti ini karena ulahnya'. Batin Bara dengan kesal dia sungguh kesal.


" Bara ada apa?, kenapa kau malah menatap ku seperti itu?, apa ada masalah?" Bella kini menyentuh lengan laki laki itu yang kini menatapnya dengan tatapan dingin nya.


Bara kini menghela nafasnya dengan berat ketika sang wanita malah bertanya dengan sungguh sungguh.


" Ini semua karena ulah mu, dan kau pura pura tak tahu?" Suara ketus itu kini malah membuat wanita itu mengerutkan keningnya.


" Karena aku?, memang apa kesalahan ku?"


" Jadi kau sungguh tak tahu?" Bella kini menggeleng dengan segara karena dirinya memang tak tahu apapun. Dia juga sedikit tak percaya ketika kekasihnya malah menyalahkan dirinya.


" Semalam kenapa kau malah mengunci kedua pintu, bahkan aku mengetuknya berulang kali kau tak mendengarnya, aku menunggui mu sampai larut malam dan kau tahu aku bahkan tak bisa tidur menunggumu, memikirkan kau kenapa kenapa. Dan tadi pagi kau malah sudah keluar dari kamar mu dan tidak menemui ku sama sekali..." Bara kini mengatakan permasalahannya kenapa pagi ini suasana hatinya berantakan tak karuan.


" Astaga Bara kau marah pada ku karena aku mengunci pintu dan tak menemui mu pagi tadi?"

__ADS_1


" Tentu aku marah Bell, kau tahu aku takut kau kenapa kenapa, aku takut kau melakukan hal bodoh."


Bella kini menghela nafasnya dengan berat sebelum dia mengambil tangan kekasihnya, menggenggam nya dengan erat serta memberikan senyuman tipis di bibirnya.


" Terkadang seorang itu butuh waktu sendiri tapi bukan untuk menyakiti dirinya,tapi waktu untuk memikirkan apa yang harus dia lakukan, langkah apa yang ingin dia inginkan. Langkah apa yang harus ingin dia gapai dengan sungguh sungguh. Aku semalam memang sengaja mengunci semua pintu karena aku butuh waktu sendiri, aku butuh waktu untuk menyakinkan diriku untuk tidak mengharapkan sosok Ayah ku, aku juga berpikir bahwa langka yang ingin aku ambil ini adalah langkah yang terbaik untuk kami semua..." Bella menatap Bara dengan sungguh sungguh.


" Aku melepaskan semuanya, melepaskan beban yang ada di pundak dengan rela. Jika memang mereka mencampakkan ku pun aku juga sudah rela melepaskan beban itu. Selama ini beban yang aku rasakan begitu berat, beban itu begitu menyiksa di hati dan pikiran ku. Tapi semalam aku berpikir bahwa aku harus merelakan ini semua, aku melepaskan mereka seperti mereka melepaskan aku. Aku kini siap menjadi bagian keluarga mu dengan Bella yang terbaru, Bella yang baru lahir dari sosok yang tak ingin terluka. Aku yakin keluarga baru ku akan mampu membuat ku bahagia dalam hal apapun..." Mata mereka saling beradu tak ada tangisan atau mata yang berkaca kaca di mata wanita itu.


Bara kini menarik tangan wanita itu, mendekapnya dengan erat. Dia lega mendengarkan penjelasan yang di katakan oleh wanita itu. Mereka saling berpelukan dengan erat, menyalurkan cinta yang begitu tulus untuk kedua insan tersebut.


" Aku mencintai mu dan aku tidak ingin kehilangan wanita yang baik seperti mu..." Liriknya dengan sedikit mencium rambut wanita itu.


" Terima kasih karena sudah mencintai ku sedalam itu. Kau adalah laki laki yang pertama yang mencintai ku. Aku tak pernah merasakan kasih sayang dari siapapun. Dan kali ini aku dapatkan dari kamu dan keluarga mu, terima kasih untuk semuanya..." Pelukan itu begitu tambah erat. Mereka saling berusaha untuk saling membuka hati dan belajar untuk saling mencintai.


" Paman..." Bella yang dari dulu begitu akrab kepada pamannya kini langsung berteriak fan sedikit berlari menghampiri pamannya yang sedang berkebun.


" Astaga Bella, kau lama sekali tak pernah datang. Paman kira kau melupakan kami..." Sang Paman kini langsung memeluk wanita yang sudah dianggap sebagai putrinya itu.


" Paman kau tahu sendiri aku sedang sibuk..." Bella melepaskan pelukan itu. " Di mana bibi?" Tanyanya ketika matanya menatap sekeliling kebun itu tapi tak melihat bibinya.


" Sedang pulang sebentar..." jawabnya dengan mengelus pipi keponakannya itu. " Dia siapa Bella?" Tanyanya ketika menatap laki laki yang ada di belakang keponakannya itu.

__ADS_1


Bella memperlihatkan giginya, dia lupa jika dia datang tidak hanya sendiri. " Paman aku melupakan sesuatu."


" Kau ini..." Sang Paman kini mengacak acak rambut keponakannya itu.


" Paman ini Bara, Bara ini Paman Hans..." Kedua laki laki kini saling berjabatan tangan dengan senyum tipis di bibir mereka masing masing.


" Paman bisakah kita duduk sebentar dan kita bicara, ada hal yang ingin kami sampaikan..." Sang Paman kini mengangguk setuju.


" Paman akan bersih bersih dulu."


" Tidak perlu paman, ayolah..." Bella kini dengan cepat menarik tangan sang Paman untuk duduk di tempat peristirahatan sang Paman yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


Kini mereka bertiga duduk hanya ada meja kecil menjadi penghalang mereka.


" Paman saya dan Bella datang kesini untuk meminta restu untuk menikah keponakan Paman Hans."


Deg!! hati sang paman kini berdetak hebat ketika pemuda yang ada di depannya itu kini meminta izin kepadanya untuk menikahi keponakannya. Mata sang Paman kini menatap keponakannya dengan sungguh sungguh.


" Bella kalian tak sedang bercanda bukan?, hal sakral seperti itu tidak pantas menjadi bahan lelucon?" Sang Paman seakan tak percaya bahwa keponakannya meminta restu tentang pernikahan.


" Paman kami tak sedang membawa lelucon di sini, kami serius. Kami memang datang ke sini untuk meminta restu kepada Paman..." Kini giliran sang keponakan yang berbicara.

__ADS_1


" Kau yakin ingin menikah Bella?, pernikahan tak hanya satu bulan dan dua bulan, tapi untuk selama lama nya, kau sudah memikirkan semuanya, dan kau yakin dengan pilihan itu?" Bella kini malah diam dia tak bisa menjawabnya.


Bersambung ya 🤗 tinggalkan jejak dulu 🤗🤗


__ADS_2