Serpihan Hati

Serpihan Hati
Bagian 27


__ADS_3

"Lia!"


Mata Lia yang terpejam, terbuka ketika mendengar suara yang ia rindukan. Namun, dia menepis, dan menganggapnya hanya halusinasi semata karena kerinduan yang mendalam.


"Paling cuma halusinasi," gumamnya lirih, seraya terpejam kembali. Menikmati hawa kebersamaan dengan sahabat di tempat yang dulu sering mereka habiskan bersama.


Dulu, Shanum memintanya untuk tidak bekerja dan bersama-sama membangun usaha. Akan tetapi, Lia memilih untuk bekerja daripada menjadi beban sahabatnya.


"Amalia Sudrajat! Kamu nggak denger aku?" Suara itu kembali terdengar menyentak alam bawah sadar Lia.


Matanya terbuka lebar, napasnya tercekat di tenggorokan. Untuk beberapa saat dia seperti orang linglung, sebelum akhirnya menoleh ke belakang memastikan telinga tak salah mendengar.


Senyum itu ... senyum yang menghilang beberapa hari ini dan dia tidak menyerah untuk mencarinya. Senyum hangat seorang sahabat yang lama tak ia jumpai.


"Shanum?" Untuk memastikan penglihatan, Lia bergumam memanggil nama itu.


Shanum mengangguk, meski raut lelah terlihat di wajahnya ia tetep tersenyum hangat. Lia bangkit menghampiri wanita hamil itu, memeriksa tubuhnya dengan mata berkaca-kaca.


"Shanum? Ini bener kamu?" tanyanya lagi untuk memastikan.


"Iya, siapa lagi? Peluk!" Shanum merentangkan kedua tangan, memeluk mesra sahabatnya. Menumpahkan segala kerinduan, kegundahan yang melanda hati.


"Ya Allah. Siang malam aku cari kamu, Sha. Aku takut kamu kenapa-napa. Ditelpon nggak bisa, dicari ke mana-mana nggak ketemu. Ya Allah!" Pecah tangis Lia seiring gejolak hati yang tumpah ruah.


"Ke ruanganku, yuk. Aku capek, baru datang. Kita ngobrol di atas," ajak Shanum sembari merangkul bahu Lia dan mengajaknya ke lantai dua.


"Nanti buatin jus jeruk aja, ya. Antar ke atas," pinta Shanum pada karyawannya.


"Baik, Bu."


****


"Jadi, selama ini kamu ke mana? Kenapa nomor kamu nggak aktif?" tanya Lia setelah keduanya berada di ruangan Shanum di atas karpet bulu.


Shanum baru saja merebahkan diri karena terlalu lelah, saat seorang karyawan memberitahunya tentang kedatangan Lia. Mereka juga bercerita tentang sahabatnya itu yang tak henti mencari keberadaan Shanum. Juga tentang Raka dan Shila, pun tentang Dzaky yang sempat memukul Raka.

__ADS_1


"Aku ke Jawa, Lia. Ke rumah Eyang, sekedar menenangkan diri, tapi rupanya keputusanku salah. Dengan aku pergi, mereka menjadi semakin dekat. Apa kamu tahu kenapa kak Dzaky mukul Raka? Aku denger dari karyawan tadi." Shanum bercerita dan menatap penasaran pada Lia.


Gadis berambut hitam lurus itu menghela napas, mengingat kejadian beberapa hari lalu di depan toko cabang milik Shanum.


"Itu kejadiannya di sini, Sha. Kak Dzaky nggak sengaja mergokin Raka sama Shila. Aku juga nggak nyangka dia bakal pukul Raka, tapi aku puas lihatnya," ujar Lia menatap Shanum yang berbaring di atas kasur.


Istri Raka itu menghela napas, berpaling ke arah jendela. Sepertinya pernikahan mereka berada di ujung tanduk. Salah melangkah, perceraianlah yang akan terjadi.


"Kamu baru datang dari Jawa, Sha?" tanya Lia mengalihkan pembicaraan saat melihat wajah murung sahabatnya.


Shanum kembali berbalik, tersenyum padanya.


"Iya, aku ke sini sama Eyang sama si Mbah juga. Kamu tahu nggak? Aku diantar kak Dzaky, kami nggak sengaja ketemu di sana pas dia lagi penelitian," ungkap Shanum.


Entah kenapa, ada binar kebahagiaan saat ia menceritakan itu. Sedikit kedua pipinya merona, Lia tahu masih ada nama Dzaky di dalam hati sahabatnya.


Oh, jadi dia bener-bener tahu di mana Shanum terus nyusul ke sana segala. Pake maen rahasiaan segala, tapi aku seneng, sih.


Lia terkekeh di dalam hati, Dzaky memang lebih pantas menjadi suami Shanum daripada Raka.


"Lia!"


"Ya, kenapa? Sekarang, di mana Eyang sama Mbah kamu?" tanya Lia penasaran.


"Mereka di rumah mamah, mau tinggal di sini," jawab Shanum sambil tersenyum.


Lia membulatkan bibir sambil manggut-manggut mengerti. Ia menurunkan pandangan, menatap tangan Shanum yang secara lembut menyentuh jemarinya.


"Ceritain apa yang terjadi selama aku pergi!" pinta Shanum dengan suara lirih.


Dia telah menyiapkan hati untuk mendengar semua itu, meski tahu akan merasakan sakit Shanum harus mengetahui semuanya. Tentang seberapa dekat Raka dengan Shila, tentang suaminya saat ia tinggal pergi.


"Kamu beneran mau tahu? Tapi kamu pasti masih capek, Sha. Nanti aja lah," kilah Lia tak tega melihat wajah lelah wanita hamil itu.


Shanum menghela napas, melepaskan sentuhannya seraya berpaling kembali kepada jendela.

__ADS_1


"Sekarang atau nanti itu sama aja, Lia. Aku nggak bisa nunggu nanti, karena semakin lama akan semakin terasa sakit. Lebih baik aku tahu sekarang," ujar Shanum kembali menatap wajah sahabatnya.


Lia terdiam, mematri pandangan pada wajah sedikit pucat sahabatnya itu. Senyum yang diukir Shanum tidak membuat lega perasaan Lia.


"Tapi kalo kamu nggak kasih tahu, aku yang akan cari tahu sendiri," sambung Shanum membuat Lia gelagapan.


Ia menghela napas, mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Menunjukkan bukti-bukti berupa foto kepada Shanum. Bukti kedekatan mereka, bukti pertemuan keduanya.


Shanum tersenyum getir, serasa ada rantai yang membelenggu lehernya hingga ia kesulitan untuk menelan ludah. Sungguh sakit hati, tapi Shanum tak ingin menangis. Ia kembalikan ponsel kepada Lia, cukup melihat foto itu saja sudah menjelaskan tentang permintaannya tadi.


"Sha!" Lia mengusap lengan Shanum, ikut merasakan sakit yang mendera hati sahabatnya itu.


Namun, lagi-lagi, Shanum tersenyum tenang. Tak ada luapan amarah yang memancar dari kedua matanya.


"Nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa, kok. Aku udah tahu ini semua pasti terjadi. Mereka belum selesai, Lia. Harusnya aku menyadari itu," ucap Shanum bergetar menahan tangis yang terus merangsek.


"Sha!" Tak ada kata yang dapat Lia ucapkan untuk sekedar menghibur hatinya yang luka. Tak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Bukannya kamu pernah bilang kalo sempat lihat Shila sama laki-laki yang bernama Benny itu?" tanya Shanum teringat pada cerita Lia yang sempat melihat Shila bersama Benny.


"Iya, kenapa?" Lia mengernyit bingung.


"Aku mau ketemu sama dia," jawab Shanum yakin.


Disambut helaan napas Lia yang panjang.


"Aku udah ngomong sama dia, Sha, tapi percuma. Shila itu pinter ngeles, dia pinter memutar balikkan fakta. Buktinya, sekarang Shila masih deket-deket sama Raka," ungkap Lia tak habis pikir dengan laki-laki itu juga.


Shanum tetap tersenyum, keputusannya sudah bulat. Dia akan pergi menemui Benny.


"Nggak apa-apa. Aku yang nanti ngomong sama Benny. Besok kamu antar kamu aja ke kantornya. Bisa, 'kan?" pinta Shanum memelas.


Lia pasrah. Ia mengangguk setelah menghela napas panjang mengiyakan permintaan Shanum.


"Makasih, ya. Bantu aku juga mengurus yang lainnya." Shanum tersenyum penuh misteri, dia sudah memiliki rencana untuk membuat kejutan bagi keduanya.

__ADS_1


Lia ikut tersenyum, apapun yang dilakukan Shanum dia akan membantunya sampai akhir.


__ADS_2