
Happy Reading.
Dea memijat pelipisnya, merasakan kepalanya yang sedikit berdenyut, seorang makhluk laki-laki yang sejak tadi mondar-mandir di depannya membuat wanita itu sedikit geram.
Kenan membuatkan pasta dan lemon hangat untuk Dea, bukan keinginan wanita itu tetapi Kenan yang memaksa karena sepertinya dia memang ingin berlama-lama di apartemen Dea.
"Nih, aku bikinnya penuh cinta, biar kamu jatuh cinta lagi sama aku," ucap Kenan tersenyum.
"Ck, udah tua nggak usah kebanyakan gombal!" jawab Dea yang kali ini sudah tidak seketus tadi.
Jujur saja sebenarnya Dea sedang bertarung dengan jantungnya yang berdegup kencang. Tidak bisa dipungkiri jika memang wanita itu merasa bahagia ketika Kenan mendatanginya di apartemen.
Yang dikatakan oleh pria itu benar, jika lebih baik status duda daripada suami orang dan sekarang dia merasa sedikit lega karena pria yang di hadapannya saat ini katanya sudah menceraikan istrinya.
"Terima kasih, di mana lo tahu kalau gue suka pasta dan lemon hangat?"
"Udah lama sebenarnya, sejak saat itu, saat aku rindu sama kamu," jawab Kenan membuat Dea mengerutkan keningnya. "Aku berusaha memasak pasta yang kamu suka dan berharap ketika kita ketemuan hal yang pertama aku lakukan adalah membuatkan pasta untukmu."
"Oh, ya? Sejak kapan kamu rindu sama aku? terus tahu dari mana jika aku suka pasta?" kali ini Dea mengikuti gaya panggilin Kenan.
Kenan mengambil pasta itu dengan garpu, kemudian menyodorkan di mulut Dea, berusaha menyuapi wanita itu. "Sejak kamu mulai menjauh dariku, dan sejak kamu lulus ketika aku tidak bisa menatapmu lagi," jawab Kenan menatap lurus ke arah mata Dea.
__ADS_1
"Maksudnya?" Dea mengunyah pasta yang terasa lembut dan gurih di mulutnya.
Kenan melihat ada saos yang menempel disudut bibir Dea sebelah kiri, pria itu langsung berinisiatif membersihkan sedikit saos dibibir Dea dengan ibu jarinya, kemudian memasukkan ibu jarinya kedalam mulutnya sendiri.
Dea melototkan matanya melihat hal itu, "ihh, jorok!! Lo nggak jijik?" seru wanita itu.
Kenan terkekeh, "nggak ada rasa jijik kalau sama cewek yang disukai, De! Dan aku suka sama kamu, sayang kamu, cinta kamu, apapun yang ada di dalam diri kamu, aku suka!"
Dea menggelengkan kepalanya sambil berdecak, "ck, tapi suka juga sama punya Tasya!"
'Mampus!! Kenapa gue ungkit-ungkit nama mantan istrinya, sih!! Nyari penyakit lo De!!' jerit Dea dalam hati karena keceplosan.
Sudah lumrah bukan, Dea juga tahu ketika waktu itu saat mereka pertama kali bertemu bahkan sedang melakukan program kehamilan.
"Terus tau kalau aku suka sama pasta dari siapa?" Dea mengalihkan kecanggungan nya dengan pertanyaan lain.
Kenan langsung tersenyum dan hal itu terlihat sangat tampan di mata Dea. Memang Dea tidak salah jika harus menyukai kakak kelasnya ini.
"Kamu nggak tau sih, gimana dulu aku kelimpungan nyari kamu," Kenan menatap Dea intens, "waktu itu aku ketemu sama salah satu sahabat kamu yang pake kacamata itu, kalau nggak salah namanya Mila, aku tahu dia besti kamu karena setahu aku kamu sama dia terus kemana-mana," Kenan terkekeh mengingat masa putih abu-abu mereka.
"Karmila, ya? Udah lama aku nggak tahu kabar dia," gumam Dea mengingat salah satu sahabat karibnya itu.
__ADS_1
"Denger-denger dia udah nikah dan punya dua anak, sempat ngundang aku waktu itu, tapi aku nggak bisa datang," ucap Kenan.
"Benarkah? Jadi Mila udah nikah dan punya dua anak? Wah, ternyata dia yang menang!" Dea terkikik mengingat taruhannya bersama Karmila.
Kenan memicingkan matanya, "kalian taruhan apa?" tanya pria itu penasaran.
"Kami hanya bertaruh, siapa yang akan nikah duluan di antaranya kami, berarti dia yang paling cantik," jawab Dea terkekeh.
Masih ingat ketika Karmila mengatakan jika nanti pasti Dea yang akan menang, karena dia menyukai Kenan dan cintanya pasti akan berhasil.
Namun, nyatanya Karmila salah, dia tidak berhasil dengan Kenan karena cintanya ditolak.
Kenan menarik Dea ke dalam pelukannya, entah kenapa dia merasa begitu bersalah terhadap Dea yang tiba-tiba tersenyum getir.
"De, mau 'kan nikah sama aku setelah semua proses perceraian ku selesai?"
Dea hanya diam saja, bibirnya terkatup rapat, perasaannya benar-benar berkecamuk. Bukankah sejak dulu ini yang di inginkan Dea, memiliki Kenan seutuhnya.
"De, aku hanya minta kamu jangan lari lagi dariku, stay di sini dan biar aku yang ngejar kamu sekarang," ucap Kenan sungguh-sungguh.
Bersambung.
__ADS_1