Serpihan Hati

Serpihan Hati
Bagian 32


__ADS_3

"Laki-laki pengecut! Bisanya cuma main kasar sama perempuan!"


Suara keras yang datang dari arah belakang menghentikan langkah Benny dan wanita yang bersamanya. Kedua orang itu menoleh, menatap Raka dengan kening yang berkerut. Lalu, Benny tersenyum sarkas saat mengenali siapa laki-laki yang baru saja datang.


Raka membantu Shila untuk berdiri, dia bahkan menelisik wajah wanita itu. Kini, sempurna akting Shila. Air mata kian bercucuran mencari simpati dari Raka. Benny berdecak jijik.


"Oya? Terus sebutan apa yang cocok buat laki-laki yang mengkhianati pernikahannya?" Benny berkacak pinggang, meremehkan suami Shanum itu.


Mata Raka membola, tubuhnya ikut menegang. Ada yang berdesir di dalam hatinya, sesuatu yang besar dan kasar menghantam rongga dada. Ia menoleh pada Benny, menyalang pandangan matanya.


"Kenapa? Kamu itu bodoh, ya. Udah punya istri cantik, baik, sopan ... sempurna menurut aku, tapi malah pilih yang ... ya, begitu. Kalo kamu emang udah nggak mau sama Shanum, aku siap, kok, nerima dia dengan sepenuh hati. Kalo aku yang jadi suaminya, nggak akan pernah aku sia-siain dia. Dia pantas dijadikan ratu di rumahku juga di hatiku," ucap Benny membakar rasa yang sudah bergejolak di dalam dada.


"Brengsek!" Raka merengsek ke depan, hendak melayangkan pukulan. Namun, dengan sigap Benny menangkisnya dan memberikan pukulan pada wajah Raka.


Suami Shanum itu jatuh tersungkur dengan luka lebam di pipi. Napasnya tak beraturan, sesak dan berat. Ada cemburu dan ketidakrelaan ketika mendengar ucapan Benny. Dari mana laki-laki itu tahu perihal istrinya. Bahkan, dia tahu namanya.


"Sekarang coba lihat! Siapa yang suka main kekerasan? Aku atau kamu? Ah ... aku jadi khawatir sama Shanum kalo punya suami emosian kayak kamu ini. Apa kamu juga sering mukulin dia?" Wajah Benny tak lagi ramah, mengingat keadaan Shanum yang sedang mengandung jika harus mendapatkan perlakuan kasar dari Raka.


"Bukan urusan kamu!" sengit Raka masih berada di atas batako depan restoran.


Benny tertawa, semakin membuat Raka berang. Yang mereka tidak tahu, tak jauh dari tempat perdebatan itu Shanum menyaksikan. Dia sengaja membuntuti Raka teringin tahu ke mana perginya sang suami. Ia menghela napas, sekarang jelas sudah semuanya.


Shanum menjalankan mobilnya, meninggalkan tempat tersebut. Biarlah mereka akan bicara lagi nanti saat di rumah. Raka menatap nyalang laki-laki di hadapannya.


"Raka, Raka! Kamu itu emang g*bl*k, ya. Punya istri sempurna disia-siain. Malah milih yang kayak begitu. Kamu tahu apa tujuan Shila deketin kamu lagi? Dia cuma mau uang kamu, Raka. Dia cuma mau uang! Kalo kamu nggak punya uang, dia nggak akan mau sama kamu." Benny memainkan dua jarinya menegaskan ucapan.


Shila membelalak, tak percaya Benny akan berubah drastis. Padahal mereka tidak ada masalah sebelumnya. Kecuali ... Benny tahu tentang permainan Shila. Lia! Hanya satu nama itu yang ada di dalam otaknya.

__ADS_1


"Jangan asal ngomong kamu, Benny!" tuding Shila penuh emosi.


Benny beralih tatapan pada wanita yang pernah membuatnya tergila-gila itu. Tawa kembali menggelegak darinya, merendahkan sosok wanita di hadapan.


"Kalo bukan uang tujuan kamu, terus apa? Bukannya enam bulan lalu kalian mau menikah, tapi gagal karena Shila nggak datang? Apa lagi kalo bukan karena si Raka ini kere. Kamu tahu, Raka waktu itu dia-"


"Benny!" teriak Shila histeris. Dadanya kembang kempis karena mencari udara. Jangan sampai Benny membocorkan semuanya.


Pandangan Benny beralih pada wajah Shila, dia tertawa melihat ketegangan di sana. Sungguh menggelikan. Dia sadar pernah menjadi laki-laki bodoh seperti Raka.


"Kenapa, Shil? Kenapa kamu takut aku bilang sama Raka? Biar dia tahu kalo menikah dengan Shanum adalah sebuah keberuntungan dan kembali sama kamu adalah sebuah kehancuran." Benny tersenyum licik, tak ada lagi tatapan memuja darinya yang ditujukan kepada Shila.


Gelisah tak lagi dapat ia tutupi, kerisauan hati yang menyerang nyata terlihat di ekspresi wajahnya. Benny menyukai itu. Detik berikutnya, Shila kembali menjadi wanita menyedihkan. Dia menangis.


"Aku minta maaf, Ben. Untuk semua yang aku lakuin. Aku akan menebusnya, aku janji." Shila menatap bersungguh-sungguh pada kedua manik Benny.


Bukannya terenyuh, laki-laki itu justru mendengus. Sementara Raka kian penasaran dengan apa yang akan diucapkan Benny.


"Tapi aku juga udah-"


Kalimat Shila menggantung, digigitnya bibir karena tak kuasa membela diri. Dia ingin mengatakan bahwa sudah memberikan semuanya untuk Benny termasuk kehormatan. Sayang, ada Raka.


"Udah apa, Shila? Bilang aja. Mungkin aku akan maafin kamu," ujar Benny menantang Shila. Ia melipat kedua tangan di perut, menatap sarkas mantan kekasihnya itu.


Shila bungkam, memalingkan wajah dari semua orang. Kekhawatiran masih berjejak di sana, gerak dan tingkah tubuh Shila pun ikut tak beraturan. Raka semakin dibuatnya penasaran. Dia berdiri, menatap keduanya bergantian.


"Baik. Kalo kamu nggak mau bilang, aku yang akan bilang biar Raka tahu gimana sebenarnya kamu," ucap Benny disusul seringai yang tajam.

__ADS_1


Shila mendongak cepat, menggelengkan kepala memelas pada Benny. Tawa menjengkelkan itu kembali terdengar, membuatnya geram.


"Apa yang aku nggak tahu di sini? Sebenarnya apa alasan kamu waktu itu nggak datang ke pernikahan kita, Shila? Apa ibu kamu emang benar-benar sakit?" tanya Raka menuntut penjelasan.


"Waw!" Benny bertepuk tangan, mengalihkan perhatian keduanya. "Hebat! Hebat! Ibu kamu sakit ternyata, ya, Shil?" Benny memandang shila yang gelagapan tak mampu membela.


"Kalo bukan sakit, terus apa?" Raka semakin penasaran.


Belum sempat Benny berucap, Shila menarik tangan Raka dan membawanya pergi menjauh.


"Oh, kamu takut dia tahu, Shila! Kamu denger, Raka. Waktu itu dia sama aku, di hotel, menghabiskan waktu, berdua saja. Kamu pikir aja apa yang dilakukan dua insan berlainan jenis di tempat itu!" seru Benny cukup lantang.


Tak hanya Raka yang mendengar, tapi juga seluruh pengunjung restoran. Raka menghentak tangannya, melepaskan diri dari cekalan Shila. Terkejut, itulah yang ditampilkan wajah suami Shanum itu.


"Apa benar, Shil? Benar begitu?" tanya Raka geram.


Tubuh Shila membeku, untuk kemudian dia berbalik dan berjalan cepat mendekati Benny.


Plak!


Satu tamparan dilayangkannya di pipi laki-laki itu. Cukup keras hingga membuat Benny mengernyit.


"Kamu udah ambil semuanya dari aku, termasuk kehormatan. Jangan lupa itu, Benny!" ingat Shila sebelum akhirnya memilih meninggalkan tempat tersebut.


Benny tersenyum miring, sama sekali tidak bersimpati kepada wanita itu. Sementara Raka, masih terlihat linglung dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.


"Pulanglah, Raka. Perbaiki hubungan kamu sama Shanum. Dia lebih berharga dari seluruh dunia ini."

__ADS_1


Suara Benny membuat Raka mendongak, laki-laki itu tersenyum dan mengangguk. Tak ada niatan untuknya mengambil Shanum, tapi jika takdir menggariskan, dia tidak akan menolak.


Raka berlari ke motonya, memacu ke jalan pulang. Kata-kata Benny terus mengiang di telinga. Tentang betapa berharganya seorang Shanum.


__ADS_2