Serpihan Hati

Serpihan Hati
Bagian 29


__ADS_3

"Aku minta maaf atas semua yang terjadi sama kamu. Aku juga nggak nyangka Shila ngelakuin ini semua. Selama ini aku penuhin keinginannya, aku turutin apa yang dia mau. Aku nyesel karena rumah tangga kamu sekarang jadi korbannya," ungkap Benny dengan raut wajah penyesalan yang kentara.


Entah apa yang ia sesali? Apakah menyesal karena sudah menjalin kasih dengan Shila, ataukah menyesal tidak mampu mengawasinya hingga terlepas begitu saja.


Shanum tersenyum, lagi-lagi senyum yang tak pernah ia lihat dari wanita manapun. Sungguh Raka tak tahu diuntung, dianugerahi istri cantik dan santun masih saja mencari kesenangan di luar. Apakah daging mentah lebih nikmat dari pada yang sudah matang?


"Ini ujian buat aku, Ben. Kalian juga harus ngomong baik-baik nantinya. Kasih pengertian sama Shila, kalo perlu segera ajak dia menikah. Itu lebih baik kayaknya," ujar Shanum disambut helaan napas panjang oleh Benny.


Shanum dan Lia saling melirik, ada sesuatu yang tersimpan dan sedikit menjadi beban untuk laki-laki dewasa di hadapan mereka.


"Aku udah sering ajak dia nikah, tapi selalu saja ada alasan. Mungkin aku akan cari wanita lain saja yang siap aku nikahin." Benny tersenyum penuh arti sambil menatap Shanum.


Tidak dipungkiri, di usianya yang sudah memasuki kematangan ia menginginkan sebuah keseriusan di dalam satu hubungan. Sementara Shila selalu banyak alasan ketika Benny mengajaknya menikah.


"Itu hak kamu, apapun itu putuskan kalo memang yang terbaik," sahut Shanum tak ingin terlalu ikut campur.


"Aku juga minta maaf sama kamu, Lia, karena udah nggak percaya yang kamu bilang." Benny mengalihkan pandangan pada sahabat Shanum itu.


"Kamu itu terlalu bucin tahu, nggak. Dibutakan cinta sama Shila, sampe-sampe nggak bisa lihat yang benar," ujar Lia disambut senyum getir oleh Benny. Benar, dia memang terlalu bucin sehingga segala keburukan Shila dianggapnya angin lalu.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Imam Syafi'i. Bila cinta sudah bertahta di hati, segala keburukan tak akan pernah dipeduli. Pun sebaliknya, bila kebencian telah meraja segala kebaikan akan tetap terlihat buruk.


"Itulah ... Sayidina Ali pernah berkata, cintailah kekasihmu sekedarnya saja. Karena boleh jadi, dia akan menjadi orang yang paling kamu benci." Shanum menimpali dengan bijak.


Entah kenapa, berbicara dengan istri Raka itu membuat hati dan perasaan Benny jauh lebih tenang dari pada dengan Shila. Padahal mereka baru pertama kali bertemu dan tanpa ia duga. Benny tersenyum, mengangguk percaya.


"Iya, kalian benar. Sekali lagi makasih, kalian sudah mengingatkan aku yang selama ini terlalu dibutakan cinta Shila," ungkap Benny setulus hatinya.

__ADS_1


"Ya sudah. Kami pamit. Sekali lagi, selesaikan masalah kalian baik-baik. Sentuh perempuan tepat di hatinya, jangan sesekali meninggikan suara di hadapannya. Assalamu'alaikum!" Shanum memberi nasihat sebelum beranjak bersama Lia untuk berpamitan.


"Ya, aku akan ingat itu. Wa'alaikumussalaam. Hati-hati!"


Mereka berpisah, Benny bahkan mengantar keduanya sampai ke parkiran kantor. Sedikit merasa khawatir tatkala Shanum akan pergi menggunakan motor bersama Lia.


"Mmm ... Sha, kamu mau naik itu? Aku antar aja pake mobil, ya. Kamu lagi hamil, lho," tawar Benny tak menyembunyikan kecemasannya.


"Nggak usah, nggak apa-apa. Dia ahlinya, kok. Aku nggak akan kenapa-napa," sahut Shanum seraya melambaikan tangan ketika Lia menjalankan motornya.


"Hati-hati!" teriak Benny sambil tersenyum. Ada rona merah di pipinya yang timbul begitu saja tanpa diundang.


"Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi, Sha." Ia bergumam sambil terus menatap punggung Shanum yang kian menjauh di jalanan. Benny kembali masuk ke dalam kantor setelah memastikan mereka tak terlihat.


****


Shanum menghela napas sebelum menjawab, "Iya, Lia. Aku nggak mau masalah ini terus berlarut dan mengganggu pikiran aku. Aku mau semuanya selesai dengan cepat."


Lia mengangguk-angguk, memang seharusnya begitu.


"Kamu bener, harus cepat diselesaikan."


"Ya, kalo emang masih bisa dipertahankan aku akan bertahan, tapi kalo Raka tetap nggak bisa jauh dari Shila mungkin aku akan mundur." Shanum kembali menghembuskan napas berharap sesak yang selalu menghimpit memberinya kelonggaran.


"Kenapa? Raka itu, 'kan, suami kamu. Hak kamu buat mempertahankan dia. Tunjukin sama Shila kalo cinta kalian itu kuat," ujar Lia disambut kekehan Shanum.


"Apa yang mau dipertahanin, sedangkan dia sendiri nggak mau peduli. Berjuang sendiri itu bikin capek hati, Lia. Cuma nyakitin diri sendiri, mending aku cari kebahagiaan aku sendiri. Aku nggak mau bayi yang ada di perut aku jadi ikutan stress karena mikirin bapaknya," jawab Shanum enteng.

__ADS_1


Untuk apa lagi bertahan, jika Raka sendiri ingin melepaskan. Lebih baik mencari jalan masing-masing menempuh kehidupan sendiri-sendiri.


"Iya, kamu bener, Sha. Kamu juga berhak bahagia, justru aku nggak suka kalo Shila yang nantinya bahagia." Lia mencibirkan bibir, menolak kebahagiaan untuk si Pelakor.


Mereka diterpa hening, untuk beberapa saat tak ada perbincangan yang terjadi.


"Eh, Sha. Kayaknya si Benny terpesona sama kamu, deh. Dia kayak yang gimana gitu ngelihatin kamunya," celetuk Lia setelah diam beberapa saat.


Bukannya tidak memperhatikan, tapi Lia justru menelisik setiap ekspresi yang ditunjukkan kekasih Shila itu.


"Masa, sih? Perasaan biasa aja, deh," kilah Shanum, padahal dia pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, menolak mengakui.


"Ih, beneran, Sha. Mungkin kalo kamu lepas dari Raka, dia rela ngejar hati kamu. Nggak apa-apa kamu bukan gadis juga, atau lagi hamil. Kayaknya begitu, mukanya itu sampe nggak kedip lihatin kamu." Lia menggebu-gebu, tapi Shanum sama sekali tidak tertarik.


Lagi pula, dia melepaskan diri dari Raka bukan untuk mencari laki-laki lain. Semata-mata hanya untuk menenangkan hati dan pikiran agar janin di dalam rahimnya tetap tenang dan tumbuh dengan baik.


"Udahlah biarin aja. Itu hak masing-masing orang. Sebenarnya perselingkuhan itu nggak akan terjadi kalo salah satu dari dua insan yang terlibat memiliki benteng diri berupa batasan. Yang laki-laki menundukkan pandangan, yang perempuan mempertahankan harga diri. Itu aja sebenernya."


"Tapi mereka sama-sama mau, makanya terjadi perselingkuhan. Mereka berdua itu sama. Kalo nggak sama, nggak akan sampe kejadian. Kayaknya orang yang selingkuh itu lupa sama yang di rumah, dia nggak inget karena dibutakan kenikmatan sesaat. Padahal merusak," timpal Lia melengkapi ungkapan Shanum.


Benar, mereka berdua sama. Sama-sama menginginkan, sama-sama masih mengharapkan. Lagipula, mungkin Raka lupa pada apa yang sudah dilakukan Shila sebelum mereka menikah. Kehadiran wanita itu dengan segala rayuannya, membutakan mata hati Raka sehingga dia mudah terhanyut begitu saja dalam kubangan dosa.


Motor Shila berhenti di depan rumah Shanum, mereka berpisah setelah saling mengingatkan satu sama lain. Shanum menghela napas, menatap rumah yang ia tinggalkan beberapa hari lamanya. Langkah yang diayunkan, tak lagi sama ketika kaki menginjak halaman.


Tak ada kebahagiaan yang menjalar di hati, tak ada rasa rindu untuk bertemu. Entah ke mana perginya? Raka seolah-olah tak menginginkan kepulangannya. Shanum membuka pintu perlahan dan menutupnya kembali.


"Dari mana aja kamu? Bukannya pulang ke rumah malah keluyuran nggak jelas!" Suara teguran Raka menghentak tubuh Shanum.

__ADS_1


__ADS_2