Setitik Pilu

Setitik Pilu
10. Jangan Lagi, Tolong


__ADS_3

Pagi hari,,,


Arletha kembali akan bersiap untuk pergi ke sekolah. Sudah tak ada lagi raut sedih dalam wajahnya. Dia tampak bersemangat untuk memulai hari ini.


"hari baru semangat baru" sambil tersenyum dan melangkah ke luar rumah untuk berangkat ke sekolah.


-----------------------


di sekolah,,


Saat sampai di sekolah, suasana di sana masih sepi. belum banyak siswa yang datang, jadilah Arletha sendirian lagi.


karena di kelas belum ada orang, Arletha pergi ke taman sekolah yang ada di belakang. di sana sepi, tapi itulah ketenangan yang diinginkan oleh Arletha.


di taman itu, dia berusaha memotivasi dirinya sendiri dan mengumpulkan lebih banyak semangat untuk hari ini. setelah cukup energi yang dibutuhkan, Arletha kembali ke kelas. sesampainya di kelas, ternyata sudah mulai ramai saja.


-----------------------


hari ini,, Arletha tampak bersemangat dan fokus dalam belajarnya. dia seolah tak peduli lagi dengan perubahan yang terjadi. walau ini hanya nampaknya saja, bukan kenyataan dalam hati Arletha.


tak terasa waktu sudah memperbolehkan para siswa untuk pulang. Tiba-tiba Tyas menghampiri Arletha.


"Let yuk jalan-jalan, jangan pulang dulu yaaa" ajak Tyas sambil tersenyum dan seperti memohon.


"boleh deh. tapi kemana?" Arletha

__ADS_1


"ke taman kota aja, udah sore gini pasti sejuk deh, bagus juga kayaknya". Tyas


"baiklah, lets goo!!" Arletha


kemudian mereka berdua pergi ke taman kota. ya hanya berdua tanpa Kenzie. Karena Tyas hanya ingin pergi dan membicarakan suatu hal bersama Arletha.


-----------------------


di taman kota


sesampainya di taman kota,


"benar perkataan Tyas bahwa taman kota memang indah dan sejuk saat seperti ini. jika dinikmati membuat tenang juga" batin Arletha.


"huhhh, capeknya hari ini. enakan habis sekolah trus ke sini. sekalian cuci mata gratis gitu ya kan, wkwkwk" kata Tyas.


untuk sejenak, mereka berdua sama-sama diam menikmati pemandangan dan suasana taman kota. mencari sebuah objek yang bisa menarik perhatian mereka untuk di lihat.


setelah lama menikmati suasana, Tyas mulai bicara.


"hmm Let, sebenernya aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Tyas sambil menampakkan wajah sedih.


"ada apa sih Yas kok sedih gitu. kamu taukan aku tu baperan". jawab Arletha


"gimana ya. emm. aku tu sebenarnya mau ituuu. ih duhh. susah banget sih. duh gimana yaa". Tyas

__ADS_1


"Udah deh, tarik napas. tenangkan pikiran dulu. gak usah panik gitu sih. emang ada apa sampai susah gitu ngomongnya?" Arletha


"Janji ya jangan marah. jangan benci aku. pokoknya aku tetep mau temenan sama kamu. bodo amat mau gimananya ntar. ya ya ya Arletha. plis jangan marahh" kata Tyas hampir menangis.


"iya iyaa. emang kamu kenapa sih Yas. jangan sedih dong. kita tetep temenan kok. ada apa?" Arletha.


"sebenarnya mama papa mau pindah ke kota lain. dan otomatis aku disuruh ikut juga. jadinyakan aku juga harus pindah sekolah, dan harus pisah sama kamu kan" kata Tyas sambil menangis.


Arletha terlihat kaget, dan masih mencoba untuk mencerna perkataan Tyas.


Sambil menetralkan mimik wajahnya dan menenangkan dirinya sendiri, Arletha berkata


"hei, kenapa nangis sih Tyas, gak papa dong kalo kamu mau pindah. kan ini juga demi masa depan kamu dan orang tua kamu. yang penting kamu masih sekolah kan. walau sekolahnya baru, kamu masih bisa sekolah dan pasti di sana kamu dapet teman baru lagi kan. gak usah sedih. kita masih bisa temenan kok. walau kita jauh secara fisik kan masih bisa lewat online. kalo liburan kita bisa ketemu juga kan. tenang aja yang penting kita gak lost kontak. pasti kita tetep temenan kok"


Arletha mengungkapkan kata-kata penenang untuk Tyas agar dia tidak sedih lagi. Arletha tetap terlihat tersenyum seolah tidak apa-apa akan perpisahan mereka ini. padahal dalam hati dia sudah menangis meraung-raung. tapi dia harus tetap terlihat tenang untuk temannya ini.


"Tuhan, apa lagi rencana Mu untuk ku? kenapa ada perpisahan dengan orang yang aku sayang lagi. apalagi di tengah masalah yang mungkin akan terjadi juga. kenapa harus seperti ini?" batin Arletha mulai menangis.


"sudahlah jangan nangis lagi. jadi jelek tau. kalo gitu. sekarang ayo kita pulang, istirahat. karena mulai besok kita akan menghabiskan banyak waktu untuk bersenang-senang sebelum kamu pergi. jadi siapkan tenaga mu ya kawan" ajak Arletha dengan senyumnya.


Sambil mengusap air matanya, Tyas menjawab "baiklah. terima kasih Arletha. yuk mari kita siapkan tenaga untuk bersenang-senang besok. pasti cukup waktu kok untuk kita bersama sebelum berpisah" di akhir kalimat ini Tyas kembali terlihat sedih.


"sudahlah. senyum dong. yuk pulang" Arletha.


---------------------------

__ADS_1


hari ini lagi-lagi ada ada hantaman keras untuk Arletha. bagaimana kelanjutan kisahnya? yuk ikuti terus ya


terimakasih untuk para reader yang sudah membaca. ku tunggu kritik, saran dan dukungan kalian selalu๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2