Setitik Pilu

Setitik Pilu
47. Persiapan


__ADS_3

Kemarin, menjadi salah satu hari terindah bagi Arletha. Setelah sekian lama tak bersua, akhirnya sapa dan laku dilakukan kembali.


Pagi ini Arletha terlihat bersemangat untuk sekolah. Ya, walaupun akhir-akhir ini memang dia sangat bersemangat menjalani harinya. Tak ada bully, tak ada hal yang membuatnya merasa tertekan seperti saat lalu.


"Rasanya bahagia sekali saat tak ada yang membebani pikiranku. Tak terasa mungkin kini saatnya aku mulai bahagia lagi setelah pilu yang kurasakan dulu. Semoga Tuhan selalu merestui kebahagiaan yang aku rasakan kini" Batin Arletha sambil memandang langit dari jendela kamarnya.


"Baiklah mari bersiap memulai hari lagi. Tetap semangat jangan menyerah" Semangat Arletha untuk dirinya sendiri.


Setelah itu, Arletha pun bersiap dan akan pergi ke sekolah.


.


.


.


Keadaan dan suasana kelas pun masih sama seperti sebelumnya. Ramai dan terasa hangat bagi mereka yang tak punya masalah satu sama lain.


Bel waktu masuk pun telah berbunyi, tapi bukannya guru yang datang. Yang datang adalah tiga orang anggota osis.


"Ada apa? Kenapa mereka yang datang?" Kira-kira itulah yang dipertanyakan anak-anak. Ada pula yang tengah kesemsem dengan para cogan itu, hehe.


"Permisi, yang namanya Arletha sama Ica ada?" Tanya salah satu dari mereka.


Arletha dan Ica pun lalu mengangkat tangannya.


"Bisa ikut kita bentar? Udah ijin sama guru kok dapet tugas dari kesiswaan" Kata orang satunya.


Setelah mendapat penjelasan ijin, Arletha dan Ica mengikuti tiga anggota osis tadi.


Saat berjalan menuju tempat yang entah di mana itu, Ica pun berinisiatif bertanya "Em kak kita mau disuruh apa ya kak?"


"Hem, jadi gini kalian nanti dimintai tolong untuk ikut bantu kita jadi panitia buat rekrutmen anggota osis baru sekalian pemilihan ketua semua bidang gitu sih dan untuk bagian apa itu nanti setelah rapat mungkin akan dibagi sama anak osis" Jawab Yuda, salah satu anggota osis yang memanggil mereka tadi.

__ADS_1


"Wah, gitu ya kak" Jawab Arletha.


Yuda pun tersenyum sebagai respon untuk jawaban Arletha, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan.


.


.


.


Ternyata sudah banyak yang berkumpul di sana, tepatnya di aula lantai atas. Sudah ada pak guru yang bertugas juga sebagai kesiswaan di sana. Arletha dan Ica pun memilih tempat duduk yang masih kosong, dan mereka dapatkan di tengah-tengah dekat jendela.


Sesaat setelah duduk, ada yang menjawil pundak Arletha. Arletha pun menoleh dan mendapati sesosok manusia tak asing dalam hidupnya. Siapa dia?


Ya siapa lagi? Kenapa sangat bertepatan? Mungkin memang takdir! Itulah Sandy, tapi tak bersama Ikhsan.


Saat Arletha menoleh, dia pun langsung tersenyum manis. "Hai Let, cie kita ketemu lagi. kayaknya habis gini kita bakal sering ketemu deh hehe" Kata Sandy.


"Iya deh dan kayaknya aku bakalan bosen tuh" Jawab Arletha.


Sandy yang mendapat jawaban tadi langsung manyun dan cemberut, kehilangan kata-kata dan seperti tak bersemangat lagi.


Arletha yang tahu akan ada yang ngambek pun langsung tersenyum manis dan mengatakan "Hehe, hanya bercanda kak serius amat sih tanggepannya. Nambah jelekkan kalo manyun gitu"


"Bodo amatlah Let, bodo" Jawab Sandy sok ngambek lagi, padahal sih aslinya seneng banget bisa dapet senyuman Arletha juga bisa lebih sering ketemu Arletha karena even ini.


"Oke, sepertinya sudah banyak yang berkumpul ya. Baiklah saya ucapkan selamat bagi kalian para siswa yang ada di kelas sepuluh karena kalian sudah terpilih secara otomatis untuk menjadi anggota osis selanjutnya tanpa tes dan tanpa perantara. Saya sebagai pembina kalian berharap kalian dapat bekerja sama dengan baik dan memberikan pembaruan kegiatan untuk osis tahun ini. Nah, agenda kita yang sudah dekat ini adalah pemilihan ketua untuk setiap bidang seperti ketua osis, ketua tim basket, futsal dan lain-lain. Intinya semua yang ada dalam kegiatan kita di sekolah ini. Kalian yang ada di sini otomatis juga menjadi panitia dalam penyelenggaraan kegiatan itu. Saya sangat berharap semua dapat berjalan lancar dan kita semua bisa saling bahu-membahu menyukseskan acara ini..bla....bla...bla.." Kata Sang pembina Osis.


Banyak sekali yang mereka bahas saat ini. Dan diikuti oleh pembagian panitia untuk setiap acara dan sekilas tugas-tugas yang akan mereka lakukan. Setelah tim-tim itu terbentuk, mereka berkumpul dan akan membahas lebih rinci tugas mereka nanti.


Beruntungnya Arletha dan Ica dijadikan satu tim, dan itu membuat Arletha senang karena ada yang dia kenal dan tidak akan terlalu canggung dengan yang lain.


Kali ini memang Arletha dan Sandy tak satu tim, tapi mereka tetap berada dalam even yang sama. Yaitu malam puncak, Arletha yang ada dalam tim Seni dan Sandy dalam tim koordinator pemenang vote untuk setiap bidang. Paling tidak saat gladi bersih mereka akan bersama hehe.

__ADS_1


Kini mereka sedang berdiskusi, apa saja yang akan ditampilkan dalam malam puncak itu. Pensi apa saja, siapa dan darimana saja yang akan dimintai tolong. Ternyata anggota tim yang diikuti oleh Arletha tidak membuat Arletha canggung sama sekali. Mereka sangat humoris dan tidak tegang, saling bertanya dan suka berbincang santai. Jadilah mereka membahas banyak hal seperti dengan sahabat lama.


Lalu tiba-tiba Ica pun berkata "Eh gimana kalo Arletha duet gitu, nyanyi nanti. Suaranya bagus loh kak" Mengucapkan itu sambil tersenyum licik dan penuh makna.


"Eh boleh-boleh, sama si Sandy gitu duet kan so sweet, ntar banyak yang baper juga, hehe" Sahut Kamal sebagai ketua bagi tim Arletha.


"Lah eh jangan kak. Yang lain aja, banyak yang lebih bagus" Kata Arletha sambil menunduk malu dan seolah tak ingin.


"Enggak, kita setuju kamu ikut sebagai perwakilan dari tim kita. Tenang, ntar Sandy aku yang bilangin deh, dia mah pasti oke aja. Dan gak ada penolakan titik" Kata Yuda salah satu anggota osis di sana dan yang tadi memanggil Arletha.


"Nah sudah diputuskan, semua setuju dan Arletha bakal tampil sama kak Sandy nanti. Tenang Let, pas kamu latihan kita pasti temenin, pasti kita dukung deh, iyakan kak?" Kata Ica


Semua pun setuju dengan ide Ica itu. Akhirnya Arletha hanya bisa pasrah dan menerima setiap apa yang ditugaskan padanya. Padahal mah aslinya juga seneng bisa duet sama Sandy, cuma ya gitu gugup jauh sebelum waktunya tiba, overthinking mulai merayapi pikiran Arletha.


"Sudahlah terima aja, berdoa semoga lancar" Batin Arletha.


Sampai jam istirahat pun rapat setiap tim belum selesai, karena merasa lapar semua yang di sana memutuskan untuk memesan makanan dan akan makan bersama di sini.


Arletha yang merasa butuh udara sejenak pun izin keluar ditemani Ica. Mereka singgah sebentar di kantin membeli minuman dan berjalan-jalan lagi. Ya, hanya jalan-jalan, itu yang dibutuhkan Arletha saat ini.


Setelah beberapa menit jalan-jalan, mereka kembali lagi ke tempat berkumpulnya para panitia itu.


Menunggu selama setengah jam dan akhirnya makanan datang. Semua yang di sana makan bersama dan terlihat sangat bahagia. Entahlah mengapa, hehe.


Rapat hari ini berlangsung hingga sore hari, melebihi jam pulang sekolah. Itu pun belum semua mencapai kesepakatan, mungkin besok atau besoknya lagi akan diulang kembali.


Saat semua bersiap akan ke kelas mengambil tas, Sandy pun menghampiri Arletha. "Let pulang sama aku ya, yuk ke kelas kamu dulu, tas aku udah di sini kok" Ajak Sandy.


"Let aku duluan ya, kak Sandy nitip Letha dijagain lo ya, hehe. Byee Let" Ucap Ica langsung ngacir keluar tanpa menunggu jawaban Arletha.


Yang lain pun hanya senyum dan meng-ehem-i itu semua.


Setelah berpamitan dengan yang ada di sana, Arletha dan Sandy pun menuju kelas Arletha dan langsung pulang.

__ADS_1


____


__ADS_2