
Beberapa hari kembali Arletha jalani. masih terdengar desas desus suara tak mengenakkan di telinga. tapi, mau berbuat apa? tak ada yang bisa membuat itu berhenti kecuali Tuhan.
Arletha POV
hari ini lagi-lagi akan aku hadapi. mengapa malam selalu pergi lebih cepat? padahal aku masih ingin bersamanya.
baiklah semangat saja Arletha. lets go to school......
saat sampai di sekolah tepatnya di kelas, entah kenapa anak-anak tidak terlihat merendahkan seperti kemarin. justru ada yang tersenyum padaku. padaku? apa aku tak salah lihat?
menyadari aku yang masih terlihat cengo di depan pintu itu tiba-tiba aku dihampiri oleh Kila salah satu teman sekelas ku.
"eh Letha, gak masuk? kok malah bengong aja di depan pintu? tanya dia sambil tersenyum.
tersenyum? wah sepertinya ada yang tidak beres. tapi demi menghargai niat baik mereka, aku pun masuk ke kelas dan tersenyum pada setiap orang yang melihat ke arahku.
"hei ada apa ini? memang Tuhan maha besar, maha agung, maha segalanya dan maha-maha yang lain. hanya dengan satu malam tak berjumpa, perbedaan sikap mereka bisa mencapai 180 derajat dan seolah tak tahu dan lupa apa yang mereka lakukan kemarin padaku" batinku berbicara dengan diriku sendiri.
__ADS_1
sudah lama aku di kelas itu dengan perasaan bertanya-tanya tentang keadaan saat ini. sambil berfikir pula "kenapa Wini tidak datang datang sih"
baru saja aku pikirkan, dia mengirimi aku pesan yang menyatakan dia tidak masuk hari ini. haiss ya sudahlah tak apa.
beberapa menit sebelum jam pelajaran dimulai, Fifi datang ke kelas tapi nampaknya ada sesuatu yang terjadi. wajah teman-teman sekelas menjadi tidak bersahabat.
"hehhh mana baju kita, masa udah lama gak jadi-jadi. gue aja yang jahitin baru tiga hari di penjahit udah jadi. masa ini udah berbulan-bulan gak jadi-jadi" ucap salah satu anak kelas.
"iya-iya sabar napa. kan banyak pesennya mana bisa cuma sebulan jadi" jawab Fifi sewot.
"heh kalo gue tiga hari jadi satu. tuh berapa baju buat kita tinggal ngaliin aja. gak sampai tuh segini lamanya" sahutnya kembali
"sabar sih" jawab Fifi.
"dah lah. kita gak ikhlas ya duit kita lu gunain. tanggung jawab dong jadi orang. gak usah sok deh. gue tahu bajunya belum dipesenin sampai sekarang. gak usah bohong lagi" ucap Ica.
Ica? bukankah dia teman baik Fifi? kok jadi ikutan mojokin? aku harus melerai deh kayaknya makin panas aja nih hawa.
__ADS_1
"eh udah dulu yuk. mau masuk nih. gurunya juga mau dateng. lanjutin nanti ya baik baik ngomongnya" ucapku pada semua.
"hehh ya sudahlah. bener kata Arletha tuh guru mau masuk. awas lu kita semua belum selesai" jawab Tika.
akhirnya beberapa menit kemudian guru itupun masuk ke kelas dan kami mulai belajar.
terlihat anak-anak lain sudah fokus pada pelajaran, tapi ekor mata ku menangkap raut wajah Fifi yang tidak seangkuh biasanya. kali ini terlihat lebih panik? gusar? cemas? pokoknya seperti dia menahan sesuatu yang buruk untuk dirinya sendiri. entahlah biarkan dulu, lihat setelah jam istirahat saja. aku pun kembali fokus pada pelajaran ini.
setelah pelajaran selesai dan guru beranjak meninggalkan kelas, suasana kembali mencekam. tapi kali ini berbeda, bukan aku yang merasa terpojokkan dan merasa takut.
walaupun Fifi terdengar berkata-kata pedas dan cenderung tak peduli, tapi dari tatapan mata, gesture tubuh, dan wajahnya tidak terlihat bahwa dia berani seperti biasanya. kali ini dia terlihat gelisah entah itu memang benar atau hanya perasaanku saja.
yang jelas aku merasa hari ini berbalik 180 derajat dari hari yang kemarin.
_______
wah ada apa ini? next chapter yaa😂😂
__ADS_1
jangan lupa kritik saran dan dukungannya 😘😘