
Ujian telah selesai. kini saatnya istirahat.
"ya ampun soalnya susah amat sih. gak ada yang nyontekin lagi. huh. pinter bagi-bagi kek" ucap salah seorang siswa di kelas itu.
"iya nih. beuh susah amat. udah waktunya dikit gak dapet contekan gak selesai semua lagi. enak bener deh kayaknya kalo pinter" sahut yang lain
"pinter apa dulu tuh" tanya seorang siswi
"pinter cari muka lah ya. deketin guru gitu. sapa tau dikasih bocoran soal jadikan gampang gitu ngerjainnya" sahut Fifi memprovokasi.
Arletha yang memang anak perasa akan suatu keadaan, dia langsung saja merasa tidak enak dan ingin menangis. dia bisa merasa bahwa ucapan-ucapan anak-anak sekelasnya itu adalah untuk dirinya.
walaupun yang mereka omongkan bukanlah sebuah kenyataan yang sesungguhnya, tapi dari cara mereka berbicaralah Arletha percaya bahwa itu dilontarkan untuknya.
Ada keinginan Arletha untuk pergi dan menangis tapi apalah daya, dia belum berani melangkah keluar. jangankan melangkah, mendongakkan kepala melihat teman-temannya saja dia tak berani. Arletha masih tetap pada posisinya sebelum guru tadi keluar. tak berani bergerak, karena dia merasa saat dia bergerak semua mata akan semakin tertuju padanya. dia diam pun semuanya sudah melihat ke arahnya apalagi jika dia menimbulkan sebuah pergerakan. pasti cibiran itu akan semakin menjadi.
saat Arletha terdiam, Wini pun tak bisa melakukan apapun selain memandang Arletha, dia juga tak punya keberanian untuk melawan semua orang itu. dia juga tidak berani menghentikan itu semua.
"Letha maaf ya aku cuma bisa diem aja kayak gini. maaf Letha aku gak berani buat menghentikan perkataan-perkataan mereka itu. maaf Arletha" batin Wini sambil memandang Arletha prihatin.
"yaudah lah guys, emang kita kan fair ya ujiannya. sedapatnya ajalah. jelek terima aja. kan kita jujur. gak cari celah dari guru. gak nyontek juga tuh. kan jujur banget kita berarti. udahlah santai aja" ucap Fifi lagi.
setelah ucapan Fifi itu, banyak dari teman-teman Arletha yang menyahuti itu hingga riuh. Arletha pun berfikir apakah mereka sangat sengaja melakukan itu, buktinya sampai merelakan waktu istirahat mereka hanya untuk mengobrol atau lebih tepatnya menyindir Arletha ini.
"kamu kuat Letha. kamu kuat. jangan nangis lagi. semua omongan mereka gak bener. kamu gak melakukan apa yang mereka debatkan. kamu gak kayak gitu Letha. plis kamu kuat sampai pulang sekolah plis" semangat Arletha dalam hatinya.
__ADS_1
sindiran-sindiran itupun terus berlangsung hingga jam istirahat berakhir. hingga saat sang guru telah datang dan siap memulai pelajaran lagi, barulah mereka semua diam. diam ucapannya, namun tatapan mematikan dan kesinisan mereka tak sama sekali berkurang.
Arletha melalui sekolahnya hari ini dengan begitu beratnya. tidak tau apa-apa tapi tiba-tiba mendapat respon seperti itu. diam pun tak memadamkan kobaran amarah dan emosi-emosi negatif dari teman-temannya.
hingga saatnya pulang sekolah, situasi masih sama. saat guru telah pergi dari kelas, Arletha kembali mendapatkan tatapan itu dan kata-kata sindiran lagi.
banyak kata-kata sindiran yang ia dapatkan, tapi dia berusaha mengabaikan dan akan keluar kelas. dia memberanikan diri menatap Wini dan mengajaknya pulang. Wini yang paham situasi langsung saya menarik tangan Arletha pergi keluar kelas. sebelum melewati pintu kembali terdengar kalimat-kalimat menyakitkan dari beberapa teman sekelasnya.
________________
saat sudah berada di luar sekolah tepatnya di taman yang saat ini sedang sepi, Wini memilih tempat yang bisa membuat mereka leluasa untuk membicarakan apapun. lalu Wini kembali menatap Arletha dan berkata, "Letha, kamu gak apa-apa?"
"iya Win gak apa-apa kok aku. emang aku kenapa sih?" jawab Arletha sambil tersenyum.
"gak usah sok kuat lagi. aku tau kamu sakit hati. aku tau kamu marah dan pengen nangis. it's okay, di sini cuma ada aku dan kamu juga Tuhan yang sudah tau akan segalanya. so, udah cukup kamu menahan diri kamu" Wini.
Wini yang melihat itupun langsung saja memeluk Arletha dan memberikan ruang untuk Arletha menumpahkan emosinya lewat tangis ini.
dua jam sudah mereka berada di taman itu. tangis Arletha pun sudah mulai mereda.
"udah enakan?" tanya Wini.
Arletha mengangguk dan berkata "makasih ya Win udah mau nemenin aku gini sampai baju kamu ikut basah gitu. udah buang-buang waktu kamu juga buat nemenin aku nangis doang gini. maaf ya"
"Letha, apasih kok ngomong gitu. aku ikhlas karena cuma ini yang bisa aku lakuin buat kamu. maaf juga karena tadi pas di kelas aku cuma bisa diem dan gak nolongin kamu dari kata-kata mereka. cuma ini pertolongan yang bisa aku kasih buat kamu. maaf ya" ucap Wini.
__ADS_1
"Wini dengan kamu ada di saat aku kayak gini aku udah bersyukur banget. aku gak nangis sendiri lagi. aku ada kamu yang mau nemenin aku nangis. makasih banget ya Win" Arletha.
"udah pokoknya sekarang kamu jangan sedih lagi. besok kalo mereka masih begitu udah gak apa-apa. kamu pasti bisa. jangan nangis di depan mereka. kamu harus terlihat gak peduli dan kuat di depan mereka. dan saat kamu udah gak kuat, kamu boleh nangis. cari tempat yang membuat kamu nyaman agar kamu pun bisa lega setelah mengeluarkan emosi kamu ini" Wini.
"iya Wini. pokoknya makasih banget buat hari ini lagi. makasih kamu mau kenalan sama aku waktu itu. makasih kamu udah mau nemenin aku saat-saat kemarin. mau berbagi suka dan duka bersama. gak merasa terganggu dengan aku yang seperti ini. makasih banget ya Wini. aku gak tau lagi kalo misalnya dulu sewaktu Tyas pindah dan Kenzie yang berubah dan menjauhi aku, kamu gak hadir. aku gak tau sekarang akan jadi apa. beruntung aku ketemu kamu dan kita bisa sedekat ini. aku bersyukur Win" cerita Arletha.
"Letha aku juga seneng bisa kenalan sama kamu bisa menghabiskan waktu bersenang-senang sama kamu. aku seneng Letha. kalo waktu itu kamu gak ngajak kenalan, aku pun kayaknya juga gak akan punya temen. beruntung saat itu aku ada di kelas dan kamu mau nyamperin aku" jawab Wini.
"intinya kita sama-sama beruntung dan mungkin ini salah satu cara Tuhan buat bikin kita semakin kuat menghadapi hari. bersyukur deh" kata Arletha.
"ya bener banget itu" Wini
"oke deh. cukup melow-melownya. sekarang udah mau malem. yuk pulang" ajak Arletha.
"oke deh. yuk"
________________
akhirnya hari ini telah berlalu lagi. terima kasih Tuhan. Engkau telah membuktikan bahwa masih ada suka di tengah luapan pilu. tak terlihat memang saat kita tak mampu bersyukur. tapi, saat kita bisa menyadari itu secara detail, pasti akan ada pemikiran sebuah jalan keluar istimewa yang telah Tuhan berikan. ya, ucapan syukur dalam keadaan apapunlah yang menjadi kunci agar kita bisa melihat sebuah keajaiban dalam keterpurukan ini.
terima kasih Tuhan untuk satu hari lagi yang telah Engkau berikan untukku dan Engkau telah memampukan aku melewati hari ini bersama dengan temanku juga.
hanya ucapan terima kasih Tuhan yang mampu aku panjatkan untuk Mu.
_______________
__ADS_1
wuhuuu kata terbanyak author selama menuliss. semoga suka ya
kritik, saran dan dukungan kalian sangat ku tunggu loh. terima kasih sudah membaca 😊😊