
di kantin sekolah, Ica pun akan memulai bercerita sebuah kisah terpendam seorang Fifi. ada apa? ini dia...
---------
"jadi gini,, beberapa hari lalu aku gak sengaja denger dia sama ibunya ngobrol. waktu itu sih aku rencana mau ke rumah Fifi biasalah mau gosip. haha. dan sebelum masuk ke rumah aku dengar ibunya bilang mau pinjem uang gitu, kalo buat kebutuhan sehari-hari sih oke gak apa-apa lah ini buat hal yang masih bisa ditunda. em sebelumnya kamu belum tahukan gimana kondisi Fifi yang sebenarnya? nah aku ceritain dulu deh ya" kata Ica, dia meminum es tehnya dan akan melanjutkan cerita lagi.
"Fifi yang kalian lihat itu dan yang aslinya beda banget tau. di sini, di depan banyak orang dia ngerasa sok bangetkan, sombong dan hal buruk lain yang menunjukkan bahwa dia itu waw. padahal kenyataannya adalah
tet tet tet
bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Ica yang baru memulai ceritanya itupun kesal karena terpotong oleh bel.
"lah kok masuk sih kan baru mau mulai ceritanya. huhhhh" ucap Ica kesal sambil memonyongkan bibirnya.
"udah gak apa-apa Ca, nanti kita lanjut lagi ya aku masih penasaran nih sama cerita lengkapnya" jawab Arletha.
"oke lah entar pulang sekolah kamu jangan pulang dulu, kita nongkrong oke" sahut Tika.
Arletha pun mengangguk menyetujui ide mereka. batinnya berkata "tak apalah sesekali ikut bergabung dengan mereka, mungkin ini saatnya aku bisa lebih dekat dengan teman sekelas, ya walaupun bahasannya bisa dikatakan negatif sih"
dan setelah membuat rencana itu, mereka semua kembali ke kelas untuk memulai pelajaran kembali.
----------
tiga jam sudah berlalu, kini saatnya pulang telah tiba.
__ADS_1
saat guru sudah keluar dan Arletha tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, Tika menghampiri dia dan berkata "Letha jadikan pulang sekolah? harus jadilah ya"
"iya jadi kok tenang aja" jawab Arletha.
"Letha Wini yuk" ajak Ica
mereka pun kemudian pergi bersama.
di sana masih ada Fifi yang setia dengan keheningan. masih merasa tak percaya akan apa yang terjadi. semua seolah tak masuk akal dan terlalu cepat, ya itu hanya berlaku bagi pandangan Fifi.
-----
beberapa menit kemudian, rombongan Arletha, Ica dan kawan-kawannya sampai disebuah cafe yang terlihat nyaman dan menyenangkan. mereka pun memilih tempat dipojokan dengan lesehan agar bisa bersantai-santai ria.
setelah memesan cemilan, mulailah Ica menyambung sabdanya, eh ceritanya hehehe
"emang bajunya kenapa sih? aku belum denger secara jelas juga waktu itu" ucap Arletha.
"jadi, ceritanya waktu aku ke rumah Fifi itu aku gak sengaja dengerkan si Fifi lagi ngobrol sama ibunya. isi obrolannya itu adalah ibunya si Fifi mau pinjem uang buat nyicil beli rumah. kan *****. masa iya beli rumah menjem duit anak sekolah ya kali kita anaknya milyader, uang saku sehari 1 juta lah ini? huhhh" ucap Ica
"hahh trus trus gimana lagi?" jawab Wini
"trus gini, ibunya bilang lagi, tuh duit temen sekelasmu pinjem dulu bisalah buat nyicil sekali. gitu katanya ya gua kaget lah marah juga dan langsung aja gue pulang. udah bad mood duluankan. masa iya segitu teganya sih. punya anak sekelas loh punya kamu juga Let sama Wini. yah dan akhirnya itu emang dibuat nyicil rumah beneran. ya sudah kita marahlah" jelas Ica dengan menggebu-gebu.
"wah. keren" sahut Arletha tiba-tiba. sepertinya dia tidak sadar mengucapkan itu hahah
__ADS_1
"eh maksudnya kok bisa gitu banget ya hehe. aku masih speechless loh beneran" ralat Arletha.
"ya gitulah Let. aku sih sebenarnya juga gimana gitu. oh ya. aku mau minta maaf ya sama kamu. aku udah jelasin kok ke mereka apa yang terjadi waktu itu. Letha, maaf banget yaa" ucap Ica sambil menatap Arletha.
"eh minta maaf kenapa?" jawab Arletha.
"masalah gosip yang dibuat Fifi terakhir kali ini sama kamu. kamu tahu? sebenernya info itu dari aku. waktu itu aku juga lagi liburan di tempat yang sama sama kamu, Wini kak Sandy, kak Ikhsan dan Tyas. sorry ya Letha. aku gak bakalan gitu lagi" kata Ica menunduk.
"gak apa-apa kok Ca. yah mau gimana lagi udah terjadi juga. yang pentingkan sekarang kita semua gak salah paham lagi, dan kalian udah tahu kalo kak Lisa itu sepupuan sama Kak Ikhsan?" jawab Arletha
"iya Let, kita udah jelas semua kok sama masalah itu. sorry banget ya, kita masih labil. kamu pasti sedih banget. apalagi sekarang kak Sandy kelihatan sibuk juga kamu pasti rindu ya hehe" ucap Tika yang awal dengan akhir kalimatnya sangat bertolak belakang itu hehe.
"hehe iya gitu deh. Gak apa-apa kalian aku maafin. dan masalah Fifi kelanjutannya gimana dong ini?" Arletha
"ya gini dulu aja. aku masih sebel apalagi menyangkut tanggung jawab. ya emang uangnya gak seberapa buat aku, tapi dari kita juga ada yang sangat keberatan dengan kelakuan dia. walau sedikit tapi uang itu juga bermakna bagi temen-temen yang lain. mereka rela menyisihkan uang saku cuma buat baju kayak gini dan nyatanya malah disalah gunakan. ya sebel dong, disuruh balikin pun dia selalu gak mau" ucap Uni.
"ya emang sih. tapi mau gimana lagi? udah terjadi trus kalian rencananya mau gimana?" tanya Arletha.
"ya kita gini aja dulu. kalo dia sadar ya syukur kalo enggak ya kita bisa lebih parah dari ini" ucap Ica.
"hem. ya sudah deh lihat ke depannya aja gimana" Arletha.
akhirnya setelah buka-bukaan tentang masalah Fifi, mereka bisa menjadi lebih dekat walaupun ya caranya agak tak enak sih.
sore ini setelah perbincangan mengenai Fifi selesai, mereka belum beranjak pulang. mereka masih nyaman di tempat itu dan kemudian membahas hal lain. seperti bertanya tentang Tyas, Sandy, Ikhsan dan hal lainnya.
__ADS_1
hari ini semua tampak akrab, kecuali Fifi. tak tahu apa yang terjadi padanya, tapi dia sekarang sendirian. tidak juga sih, Arletha masih memikirkan cara untuk membantu dia. diam-diam Arletha berfikir bagaimana cara mewujudkan itu.
---------