Setitik Pilu

Setitik Pilu
42. Waktu (Lagi)


__ADS_3

Kini, Arletha dan Fifi sudah sampai di taman kota dan telah memilih tempat yang pas untuk mereka bicara.


setelah Fifi duduk, Arletha tak segera ikut duduk tapi dia beranjak pergi sebentar. ternyata, Arletha lebih dulu membeli minuman dan cemilan agar suasana kali ini lebih santai. dia tak ingin terlalu tegang hingga rencananya akan gagal.


"baiklah langkah awal misi dari rencana akan dilaksanakan. semoga berhasil!!" semangat Arletha dalam hatinya.


"nih Fi, minum dulu" ucap Arletha sambil memberikan satu botol minuman pada Fifi.


"wah, jadi ngerepotin nih Let. makasih ya" kata Fifi.


"santai aja lagi" jawab Arletha.


suasana masih sedikit canggung, belum ada yang berniat memulai pembicaraan. hingga akhirnya Fifi memulai obrolan itu.


"Hem Let kamu pengen tahu apa sebenarnya sampai mau ngajakin aku keluar gini. bukannya ini buang-buang waktu kamu ya?" Fifi mengawali.


"apa sih Fi. ya enggaklah. aku cuma pengen tahu aja awal mula semua ini. yah, aku sempet heran kenapa dalam jangka waktu yang sangat singkat semua jadi berubah seakan terbalik 180 derajat. bukannya aku mau ikut menghakimi, aku cuma pengen tahu versi dari kamu. karena aku yakin, ada alasan lain" jawab Arletha.


"huhhh. apa mungkin ini saatnya aku bener-bener mengungkapkan semua ini? apa iya dia orang terbaik yang akan menerima semua ini dengan tanpa menghakimi terlebih dahulu? mungkin aku bisa memulainya sedikit demi sedikit" batin Fifi sambil menatap Arletha.

__ADS_1


"huhhhh. oke deh Let, kayaknya aku memang harus cerita ini biar paling gak kamu ngerti ada apa sama aku" Ucap Fifi.


"kamu tahu? aku bukan anak yang wah seperti yang kamu lihat. aku cuma anak kurang kasih sayang yang suka iri dengan kebahagiaan orang lain. aku gak suka melihat mereka yang bahagia, karena aku gak pernah merasa bahagia seperti itu. aku yang lahir dari keluarga miskin dengan keluarga yang juga gak harmonis membuat aku iri dengan keluarga lain yang sangat menyayangi anaknya. aku iri aku gak suka. apalagi dia yang udah disayangi keluarga, dia disukai banyak orang pula dan dia juga terlihat sangat bahagia. aku benci dengan orang yang bisa menerima segala kasih sayang itu. aku iri Let, aku iri" Jeda, diam sebentar dan Fifi mulai mengeluarkan air matanya. menarik nafas dalam dan dia kembali bercerita.


"dan kamu tahu? aku pun iri dengan kamu. kamu yang selalu dapat senyuman dan sapaan bahkan dari kakak kelas dan orang lain yang belum tentu kamu kenal. aku iri Let. kamu disayang sama orang tuamu. kamu dapat kasih sayang dari guru-guru. mereka bangga dengan prestasi kamu. sedangkan aku? aku gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. apalagi sekarang ada kak Sandy yang suka sama kamu dan kak Ikhsan juga yang ada di dekat kamu untuk nemenin dan ngejaga kamu. aku punya apa Let? bapak aku yang selalu jahat dan main tangan apalagi sekarang dia sakit dan gak bisa apa-apa. ibu aku yang harus banting tulang cari nafkah Let dari dulu pun sebenarnya yang cari nafkah juga ibuku, bapakku cuma tahu judi dan minum gak pernah sekalipun ngasih kita nafkah. dan sekarang, ibu aku yang juga terobsesi pengen beli rumah baru. aku gak tahu harus gimana. mau nolak pun aku gak bisa Let. aku harus apa? aku harus gimana? aku gak tahu lagi Let. aku udah gak punya siapa-siapa. aku gak punya teman lagi Let. aku sendirian. aku gak tahu harus gimana lagi Let. aku....


sebelum Fifi melanjutkan kalimatnya, Arletha menyela "udah Fi, kamu punya aku yang siap dengerin keluh kesah kamu. yang siap bantu kamu. saat kamu butuh bantuan dan aku bisa, pasti aku bantu kok. jangan sedih, kamu masih punya temen. aku bakalan bantu kamu memperbaiki semua kekacauan ini. aku juga gak suka segala sesuatu yang terlalu rumit ini. sekarang keadaan udah bikin aku gak nyaman karena semua gak pada


yang rukun aku pengen banget semua baik-baik aja dan kita semua bisa rukun. gak ada yang namanya bully atau hal lain yang bisa bikin sakit hati si penerima. mungkin dengan aku ngomong sama kamu saat ini, kita bisa memperbaiki semua"


Arletha mengatakan itu sambil tersenyum dan matanya menatap langit kemudian diakhir kalimat, dia memejamkan mata, seolah ingin merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.


kini, mereka masih larut dalam suasana haru. saling menguatkan dan memotivasi diri agar tak menyalahkan keadaan yang telah berlalu.


mereka pun masih bercerita dan hanyut di dalam cerita itu hingga sama-sama meneteskan air mata lagi. cemilan yang ada belum tersentuh sama sekali oleh mereka, karena mereka lebih memilih terbawa suasana dalam setiap kata dari cerita masa lalu itu.


jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, matahari pun telah kembali ke peraduannya dan digantikan oleh sang rembulan. Arletha dan Fifi masih betah di sana. diam dan termenung mengingat apa yang telah terjadi dan apa yang telah mereka lewati.


Arletha yang merasa kedinginan dan badan yang membutuhkan mandi itu pun menoleh pada Fifi, lalu berkata "Fi, pulang yuk udah gelap nanti masuk angin"

__ADS_1


"huhh, iya Let. by the way makasih banget ya buat hari ini. dan maaf atas semua kelakuan buruk aku dulu sama kamu. gak tahu lagi deh aku harus gimana minta maaf sama kamu. aku bener-bener merasa bersalah banget Let sama kamu" ucap Fifi


"udah deh Fi. Sekarang udah malem kita harus pulang ya besok juga sekolah lagi. biar gak capek oke" Arletha


"baiklah. yuk pulang Let. kamu gak apa-apa pulang sendiri?" tanya Fifi.


"gak apa-apa kok. kamu juga gak apa-apakan pulang sendiri?" Arletha.


"iya Let. gak apa-apa. ya sudah yuk pulang, sampai ketemu lagi besok ya bye" ucap Fifi sambil melambaikan tangan dan menjauhi Arletha untuk pulang ke rumah.


Arletha pun membalas lambaian tangan Fifi dan tersenyum. kini, dia pun ikut pulang dan berfikir kembali bagaimana langkah selanjutnya yang akan dia lakukan.


"huh langkah pertama sukses. oke Letha semangat!!!! harus bisa buat semua kembali baik-baik saja bahkan lebih baik lagi" batin Arletha menyemangati dirinya sendiri.


kini Arletha pulang ke rumah dengan suasana hati yang sangat baik dan ceria karena rencana yang telah dia susun mulai berjalan dan mendapatkan respon baik untuk langkah awal ini.


"ya Tuhan, semoga rencanaku selanjutnya bisa lebih baik dan sukses agar kerukunan kami dapat terjaga dan semua bisa merasakan bahagia secara berbarengan" batin Arletha berdoa.


ya, hari ini semua lancar, semoga dan semoga hanya itulah yang dapat diucapkan agar hati menjadi lebih ringan tanpa beban berat.

__ADS_1


dan semoga di hari esok rencana yang telah dia susun pula dapat berjalan dengan lancar.


__ADS_2