Setitik Pilu

Setitik Pilu
38. Baik?


__ADS_3

Arletha POV


Hari-hari ini berlalu dengan rumit? ya bisa dikatakan begitu. karena apa? karena sebuah problema.


Fifi Diandra


orang yang dikenal judes, sok populer, biang gosip dan si pembully kini menjadi korban bully.


sepertinya bukan. tapi lebih kepada pengadilan anak kelas mengenai hak mereka.


keadaan yang dulu sering aku alami, kini terjadi lagi tapi bukan kepada diriku melainkan pada orang yang biasanya menjadi dalang dalam setiap kejadian bullying.


aku pernah merasakan tidak enaknya dibully. tapi aku bisa apa? kalah jumlah? pasti. tapi tak tega juga jika melihat Fifi setiap hari dihakimi teman sekelas. ya tapi bagaimana lagi apa dayaku melawan, itupun juga bukan urusan intiku kan sebenarnya?


-------


lagi, di pagi hari di sekolah.


aku memang sengaja berangkat lebih siang beberapa menit sebelum bel berbunyi. dan setelah sampai di kelas, belum terlihat ramai. seperti memang sengaja tidak masuk bebarengan mungkin? entahlah.


terlihat juga Fifi yang sudah sampai, tapi dia sendirian lagi. para dayang dayang yang biasanya ada dibelakangnya kini tak nampak lagi. sudahlah biarkan saja.

__ADS_1


tak lama, beberapa anak lalu masuk ke kelas bersamaan. mereka tersenyum sekilas padaku lalu menatap Fifi dengan sinis. akan ada apa lagi ini? rasanya tak habis-habisnya percekcokan di kelas ini.


dan benar saja, bagai kicauan burung di pagi hari semua saling bersahutan menyuarakan isi hati yang terdalam. haha bukan, hanya saja ocehan yang menusuk relung hati si penerima.


kasian dan miris, tapi bolehkah aku juga merasa senang atas kejadian ini? bukannya aku acuh dan malah menamai karma, ya memang seperti sebuah karma. tapi, dengan adanya sebuah peristiwa yang sebanding dengan rasa sakit mu apakah tak boleh ada sedikit rasa bahagia? tak apa jika aku dikatakan egois, tapi memang benar dalam hati kecilku aku merasa bahagia dengan timbulnya karma untuk orang yang telah berbuat tidak mengenakkan dalam hidupku. walau begitu, tenang masih ada rasa kasian dan ingin menolong dalam batinku


biarkanlah dahulu, supaya dia juga merasakan tidak enaknya diadili oleh orang banyak secara sepihak.


----------


waktu kian berlalu hari telah berganti tak kunjung reda juga masalah itu. lama-lama aku juga merasa risih walau bahagia hehe.


waktu pulang sekolah yang kesekian kalinya, saat kelas sudah kosong, Wini yang kebetulan tak masuk lagi hari ini membuat ku ingin mendekati Fifi. dan ya ini ku lakukan sekarang.


"eh. ha-hai Let" jawabnya sambil memalingkan wajahnya.


"em. kamu gak pulang?" tanyaku


"iya ini mau pulang kok. kamu duluan aja" jawabnya


"mau barengan aja? yah biar ada temen ngobrol sampai depan gerbang?" ajakku.

__ADS_1


"eh. emang ga apa-apa?" Fifi.


"gak apa-apa lah. emang kenapa?" Arletha


"Hem. enggak kok. ya udah ayo" ajak Fifi.


akhirnya kami pun berjalan beriringan keluar dari kelas.


"em Let, kamu kenapa kok masih mau ngomong sama aku. padahal aku udah buat banyak masalah di hidup kamu" tiba-tiba Fifi bertanya sambil menunduk.


"ya gak apa-apa pengen aja. emang gak boleh ya?" jawabku.


"ya bukan gitu sih, tapi aku merasa bersalah, maafin aku ya" pintanya


"tenang aja. gak usah dipikirin lagi" jawabku sambil tersenyum padanya.


kami pun berpisah saat tiba di depan gerbang sekolah. ku lihat Fifi sudah lebih baik dari yang tadi. sudah ada sebuah senyuman yang menghiasi bibirnya.


semoga saja ini bukan pilihan yang salah. tak apakan aku baik kepadanya? ya sepertinya sudah cukup pembalasannya, sudah saatnya untuk berteman. semoga saja tidak akan terulang lagi.


biarkan itu jadi harapan.

__ADS_1


------


__ADS_2