Setitik Pilu

Setitik Pilu
6. Flashback (2)


__ADS_3

Waktu masih berdenting, hidup masih berlanjut. Suka atau duka entahlah. apapun itu. ya itulah hidup.


Arletha masih menjadi anak SD, hidupnya masih seperti hari hari lalu. tetapi, tidak terlalu mendapatkan keonaran dari kakak kelasnya. walau demikian, penderitaan akan bully masih belum selesai dia rasakan.


kini, bukan dari kakak kelas, tapi dari sederet teman se kelas yang kembali menghujat dan menyalahkannya akan apa yang terjadi. padahal dia tak tau apa yang terjadi, kenapa dia terlibat dan mengapa dia yang di salahkan.


teman temannya menjauhi, mengatai secara terang terangan bahkan ada pula yang memukulnya dengan buku yang bisa dibilang tebal sekaliiii (maklum lah buku paket emang tebel beutt. wkwkwk)


apa masalahnya? ntahlah. ada yang bilang karena dia sok pintar, sok dekat dengan guru, atau hal lain lagi. padahal, Arletha tak bermaksud begitu. dia sebenarnya tidak suka saat di bilang sok dekat dengan guru. dia tidak suka cari muka, menjilat atau apalah itu. tapi, ya gurunya sendiri saja yang suka. karena Arletha dianggap bisa menguasai materi dengan baik dan sedikit lebih cepat dari yang lain. dengan begitu, dia bisa membantu teman temannya untuk lebih memahami materi itu dan membantu gurunya juga untuk meratakan penjelasan kepada siswanya dengan lebih fleksibel. tapi apalah daya saat hal ini justru di anggap negatif oleh anak anak lain.

__ADS_1


bukan hanya itu. pernah juga suatu kali, di pagi hari Arletha dia harus berduka karena hewan kesayangan nya pergi meninggalkan dia untuk selamanya. jujur saja dia sangat sedih dan tidak berhenti menangis, tetapi dia pun harus masuk ke sekolah. saat sudah di sekolah, apakah dukanya sirna? tidak, justru sebaliknya. dia di hampiri oleh orang tua siswa lain yang mengadu bahwa Arletha menjahatinya. padahal hal itu tak pernah dilakukan oleh Arletha.


dia di hakimi dengan kata kata. dihujat di maki dan di salah salahkan. bagaimana dia di anggap bersalah akan kejadian yang menimpa anaknya.


Arletha menjadi pusat perhatian, bahkan siswa dari kelas lain pun turut berkerumun di sana. yah, dia tak bisa berkata apapun. karna tak ingin menyakiti dan menambah hal buruk yang akan terjadi saat dia berbicara. tak terbendung lagi. tangis nya tak bisa berhenti. dia menunggu adanya keajaiban semua ini segera berakhir. dan semua itu akhirnya selesai saat seorang guru tiba dan membubarkan kerumunan ini.


Arletha masih menangis tapi dia tidak mau pulang, karena saat dia pulang dia pasti akan mendapat banyak pertanyaan dari orang tua nya.


hari hari berlalu. rasa pilu itu tetap membekas dalam dirinya, walau sang guru telah mempertemukan anak anak ini dan mereka sudah saling meminta maaf. baginya ini adalah hal pilu yang sangat amat sakit rasanya. sulit untuk menghapus kenangan pahit ini apalagi hal ini terjadi saat masa kanak kanak yang seharusnya menjadi masa indah bermain dan belajar bersama dengan teman temannya.

__ADS_1


namun, dia tetap menimbun masalah ini di dalam hatinya. teman teman nya itu pun sudah melupakan. tapi tidak dengan Arletha, dia masih ingat setiap detail dari kejadian di hari itu. bagaimana dia kehilangan salah satu semangat hidupnya tempatnya menumpahkan rasa pilunya. dan kemudian mendapat hantaman keras dari kata kata yang seharusnya tak di dapatkan oleh anak kecil ini.


------------------------


"biarlah hanya aku dan Tuhan yang tau. bagaimana aku merasakan sakitnya hantaman hantaman hujat, caci maki dari orang orang di masa kecil ku" kata Arletha dalam hati nya.


----------------


Arletha tetap berusaha fokus untuk belajar karna dia fikir, dia di sini untuk sekolah dan mendapat ilmu baru untuk masa depannya. tidak untuk mendengarkan ucapan orang yang tak begitu penting ini. yah walau jika dalam kesendirian dan kesunyian dia masih menangis untuk menumpahkan rasa sakitnya di hadapan Tuhannya.

__ADS_1


------------------------


Kisah masa lalu Arletha masih berlanjut lohh. yuk ikuti lagi di chapter selanjutnya 😘😘


__ADS_2