
seperti perkataan Ica yang mengajak Arletha untuk pergi setelah pulang sekolah, atau lebih tepatnya memaksa, hal itu kini akan mereka lakukan.
saat bel pulang telah berbunyi, Ica dengan segera berlari ke meja Arletha dan akan menghalangi jalan jika Arletha kabur.
"eh Ica ngapain sih? tenang aja aku gak bakalan kabur kok" ucap Arletha seakan tahu maksud dan tujuan Ica itu.
"kan jaga-jaga Let. sapa tahu mau kabur gitu" jawab Ica sambil tertawa.
"ya udah deh iya. yuk sekarang aja. Wini bye-bye. hati-hati di jalan ya. jangan rindu" ucap Arletha sambil kiss bye dengan Wini.
Wini pun hanya membalas dengan tatapan jijik haha.
"Win duluan ya. yakin gak mau ikut aja?" ucap Ica.
"bener Ca. soalnya habis gini ada acara keluarga. kapan-kapan aja oke. bye bye" jawab Wini dengan diakhiri gerakan mengusir.
kini, Arletha dan Ica akan pergi ke suatu tempat hanya berdua. entahlah apakah ini suatu keberuntungan untuknya atau memang Tuhan tengah mendukung rencana yang akan dia lakukan demi kerukunan teman-temannya.
tanpa bersusah payah mengajak Ica pergi, eh dia sudah ditawari untuk pergi. seakan memang semesta mendukung Arletha.
__ADS_1
beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah kafe yang berada agak dekat dengan sekolah. suasana nyaman dan tenang ada di sini. mereka pun memilih tempat outdoor dengan meja yang terletak di antara rerumputan hijau dan bunga warna-warni di sana. pemandangan yang indah sekaligus menyejukkan, tepat sekali untuk bersantai.
memesan camilan beserta minuman telah dilakukan. sambil menunggu pesanan datang, mereka memilih menghirup udara sejenak, memenuhi paru-paru mereka dengan udara segar yang ada di sini sebelum memulai pembicaraan. entahlah sepertinya memang ada yang penting dan serius kali ini. hal itu terlihat dari wajah Ica yang sedikit tegang dan gelisah. Arletha tak ingin memaksa dan terkesan kepo dengan apa yang dialami Ica, biarlah dia menenangkan dirinya terlebih dahulu dan biarkan dia sendiri pula yang memulai pembicaraan ini.
hingga Ica mulai membuka mulutnya untuk berbicara.
"em Let aku boleh gak curhat sama kamu? aku gak tahu lagi harus ke siapa, dan di pikiran aku cuma kamu aja yang bisa dengerin ini. gak ada yang bisa aku ungkapin kalo ke yang lain. semoga kamu mau dan bukan menyalahkan aku ya" ucap Ica mengawali pembicaraan ini.
"Ca ngomong aja gak apa-apa. aku bakalan dengerin sampai kamu selesai. tenang aja, gak akan ada yang tahu kok" jawab Arletha dengan senyuman manisnya.
"huhh, baiklah" menarik nafas dalam-dalam dan mulai bercerita
"sebenernya sih ya seperti itu, karena kan kalian juga teman dekat dan masa hanya karena itu langsung berubah seperti ini. pasti dong aku masih bingung dan bertanya-tanya. tapi ya gitu deh aku gak berani tanya, karena aku juga kan bukan siapa-siapa takutnya malah hal buruk terjadi lagi ke aku. hehe" ucap Arletha.
Ica tersenyum dan kemudian berkata "sebenernya pun sebelum ada hal itu, aku udah gak terlalu suka sama sifatnya dia sih. tapi saat hal itu ada dalam pikiranku, aku langsung menepis itu dan berkata semua baik-baik saja, aku benar dan aku sanggup. itu kata penguat dalam diriku untuk tetap bertahan sama Fifi. aku yang tahu masalah pribadinya jadi merasa kasihan juga. tapi lama-lama dianya ngelunjak dan itu bikin aku sebel banget sama dia. bukan cuma kamu Let yang suka dikatain, tapi aku juga walau itu terjadi bukan di depan temen-temen" kata Ica mulai bercerita.
Arletha hanya diam dan fokus pada Ica. Ica pun berhenti sebentar dan saat itu, pesanan mereka datang. setelah mengucapkan terima kasih, mereka minum dulu dan Ica mulai menyambung ceritanya.
"Let aku sebenarnya udah nahan ini dari lama, aku gak tahu harus ngomong ke siapa. dan beruntungnya aku bisa kenal kamu. makasih banget Let kamu udah maafin aku dan makasih banget kamu mau menghabiskan waktu dengan sia-sia cuma untuk dengerin aku. makasih Let, cuma kamu yang aku percaya" kata Ica sambil menatap mata Arletha lekat.
__ADS_1
Arletha kemudian memegang tangan Ica dan berkata "Ca tenang aja, gak usah merasa sungkan atau bersalah lagi. kita udah jadi temankan? jadi, jangan merasa bersalah terus-menerus, aku udah maafin kamu dan kamu berhak cerita apapun ke aku. tenang aja aku gak bakalan cerita ke siapa-siapa kok. so, udah ya minta maaf sama berterima kasihnya dan sekarang lanjutin ceritanya"
Ica pun tersenyum dan akan memulai ceritanya lagi.
"Let, kamu tahu dia sering ngatain aku. aku sebenarnya adalah orang yang perasa. aku nahan semua makian dia, aku tahan semua hal buruk yang dia katain buat aku Let. aku udah sering bantuin dia, bukannya aku sombong atau mengungkit hal lalu, tapi bener Let dia udah sering aku traktir aku pinjemin uang buat dia dan keluarganya makan dengan mengesampingkan uang jajan dan kebutuhan aku sendiri. tapi apa? dia sering ngatain aku bodoh, gak becus, dan kamu tahu saat dia marah pasti aku yang jadi pelampiasan dia. aku tahan itu semua Let biar dia lega dan biar dia gak ngerasa sendiri. tapi, dia tetep aja ngejelekin aku dan gak pernah kok bilang terima kasih sama aku. aku bukannya mau gimana gimana tapi bukankah wajar kalau aku mau mendengar ucapan sederhana itu? nyatanya sampai sekarang gak ada kata terima kasih atau maaf untuk semua kelakuan dia. apalagi saat pertama kali tahu aku diemin dia, dia justru marah-marah sama aku dan bahkan main tangan sama aku Let. aku terluka batin Let. gak apa-apa kalo fisik aku yang sakit, tapi ini hatiku Let. aku gak pernah bisa cerita keluh kesahku kayak gini ke dia. cuma dia aja yang selalu mau didengar tanpa mau mendengar yang lain. dia gak suka sama kamu, dia nyebarin gosip sana sini tentang kamu hanya karena iri dengan orang-orang di sekitar kamu. maaf Let aku udah pernah bikin gosip juga tentang kamu padahal aku tahu yang sebenarnya bukan begitu. Sekarang kamu udah tahukan, ada apa dengan aku? aku yang dulu terlihat kejam dan biang gosip, nyatanya hanya orang yang butuh dihargai" jelas Ica dan tak terasa dia mengeluarkan air mata.
Arletha yang mendengar itupun ikut merasakan bagaimana perasaan Ica, dia juga ikut meneteskan air mata saat mendengar cerita Ica.
"sudah Ca. gak apa-apa jadikan itu pengalaman ya. dan berusahalah untuk selalu menjadi yang terbaik untuk dirimu sendiri. kamu pantas menentukan semua jalan hidupmu. jadi, jangan takut berbicara saat kamu sedang merasakan sesuatu, tapi carilah orang yang tepat untuk mengungkapkan itu semua. aku bersyukur dan aku berterima kasih sama kamu, karena sudah percaya dengan aku dan mau berbagi kisah kamu. aku cuma bisa ngomong ini doang Ca, aku gak bisa bantu banyak buat kamu" kata Arletha dan diakhiri dengan senyuman.
"Let, kamu mau duduk di sini nemenin aku dan dengar semua sampah dari aku ini aja aku udah sangat bersyukur dan berterima kasih juga sama kamu" ucap Ica.
dan setelah pembicaraan yang sedikit menguras air mata itu selesai, mereka pun melanjutkan cerita ringan tentang mereka sambil memakan pesanan mereka tadi.
hari sudah beranjak sangat sore, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang dan akan kembali meneruskan bercerita esok hari.
"terima kasih Tuhan, semua rencana yang ku susun sedikit demi sedikit telah berjalan tanpa aku harus bekerja dengan sangat keras. semoga semuanya dapat berjalan dengan lancar dan sukses" batin Arletha
semoga esok dan esok lagi menjadi hari baik,,,
__ADS_1