Setitik Pilu

Setitik Pilu
49. Apa Lagi wahai Arletha?


__ADS_3

Hari ini Arletha dan Ica sudah bisa kembali ke kelasnya untuk belajar, tapi tetap dengan ketentuan jika dibutuhkan segera datang, hehe.


Pagi ini entah mengapa Arletha yang biasanya selalu disiplin dan tak pernah terlambat, tiba-tiba saja datang mepet dengan gerbang yang sudah sangat ciut sekali jalannya. Berlarian menelusuri koridor demi koridor untuk bisa sampai tepat waktu sebelum guru datang ke kelasnya.


"Haduh, gimana nih udah jam segini lagi" Ucap Arletha sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Di sana jam sudah menunjukkan pukul 7.58, yang artinya dua menit menuju bel awal pembelajaran dimulai.


Keringat menetes dari dahi dan leher Arletha, menarik napas dari mulut dan dikeluarkan dari mulut pula saking ngos-ngosannya dia.


Beruntung, saat sampai di kelas, guru belum datang. Semua temannya menatap heran pada Arletha.


"Let, tumben mepet?" Ucap Ica.


"hooshhh hoshhh, iyah huh nih" Jawab Arletha sambil mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.


"Duh, gara-gara kak Sandy nih jadi telatkan huhu" batin Arletha.


Tak lama setelah Arletha meletakkan bokongnya itu di kursi, sampailah sesosok tanpa tanda jasa di sana. Ya benar, sang guru telah tiba di tempat seharusnya dia berada. Memberikan suatu ilmu yang akan sangat berguna bagi anak-anak didiknya. Itulah sosok seorang guru.


.


.


.


Empat jam pelajaran sudah usai, saatnya mengisi energi lagi dan mengistirahatkan sejenak sang otak dari kerja keras.


Kali ini Arletha memberanikan diri untuk mengajak Fifi makan bersama, sudah beberapa hari dia abai, bukan abai sih tapi lebih kepada tidak sempat memberikan perhatian lebihnya kepada Fifi.


Mungkin hari ini dia bisa memulai rencana yang telah dia susun itu.


Sebelum Wini ataupun Ica sempat mengajak dia istirahat, Arletha sudah bangkit dari duduknya dan menghampiri Fifi.


"Hai Fi, istirahat yuk. Beli makan di kantin, biar gak mumet tuh pikiran" Ajak Arletha sambil langsung menarik tangan Fifi untuk keluar kelas.


Setelah menarik Fifi, Arletha menghampiri Wini dan mengajak dia serta yang lain ke kantin juga.


Sebelum meninggalkan kelas, Ica menyeletuk "Eh Let apaan sih kok ngajak dia juga" ucapnya sinis.


"Apa sih kalian, udahlah yuk makan bareng belum pernah makan bareng sekelas kan. Udah yuk" Kata Arletha.

__ADS_1


Meskipun merasa sebal akan tindakan Arletha, Ica pun tetap mengikuti. Yang lain pun begitu. Kalau Wini sih fine fine aja, gak terlalu ambil pusing.


Sampai di kantin, mereka mendapat meja yang ada di pojokan. Beberapa kursi dan meja pun mereka gabungkan agar semua bisa makan bersama tanpa terhalang oleh jarak, hehe.


"Ca, Fi kalian yang pesen ya. Pesenannya aku chat kamu. Tenang kita bayar kok gak minta kalian bayarin, okee" Ucap Arletha tiba-tiba.


"Lah ngapa harus aku? Yang lain juga bisa" Jawab Ica sewot lagi. Fifi pun hanya diam dan akan bangkit memesan sendiri, tapi masih dicegah Arletha.


"Ayolah Ca, masa tega biarin kita kelaperan. Aku maunya kamu lo yang beliin ya yaaaaa" ucap Arletha sambil memohon.


Akhirnya karena tak tega melihat wajah Arletha yang imut itu, Ica pun bangkit dan menjalankan perintah Arletha. Lihat, bukan hanya lelaki saja yang bisa luluh akan sifat dan sikap dari Arletha, haha.


Wini yang peka akan rencana Arletha pun hanya geleng-geleng kepala saja, dan batinnya berkata akan membantu dan mengikuti rencana Arletha itu, karena Wini tahu itu adalah hal baik.


Ica langsung saja melenggang pergi terlebih dahulu meninggalkan Fifi. Seperti tak kenal, Ica pun langsung memesan semua yang diinginkan oleh teman-temannya dan Fifi tak bisa berbuat apa-apa. Fifi seperti bodyguard yang melangkah di belakang majikannya ke mana-mana. Tak digubris dan seperti tak dianggap keberadaannya.


"Tak apa, ini semua memang salahku" Batin Fifi.


Saat semua sudah selesai dipesan, Ica dan Fifi kembali ke tempat mereka dan duduk menunggu makanan datang. Tak disangka, hanya tersisa dua tempat duduk dan itu bersebelahan. Ica tak habis pikir, kenapa hari ini dia merasa sial sekali.


Tak mau membuat semua runyam dan ramai, Ica menerima dan duduk diam di sana.


Arletha tersenyum melihat Ica yang masih saja dongkol dan badmood itu. Biarlah sekali-kali boleh membuatnya jengkel, bukannya dendam tapi biarlah dia juga merasakan jengkel dari ulah Arletha, hehe.


.


.


.


Setelah makan, kenyang, dan membayar, mereka pun langsung menuju kelas untuk memulai mengerjakan otak mereka untuk belajar.


.


.


.


Di tengah-tengah pelajaran, tiba-tiba ada tamu tak diundang datang mengusik khidmatnya pembelajaran di kelas Arletha.

__ADS_1


"Permisi pak, maaf mengganggu saya mau memanggil Arletha untuk urusan panitia pak" Ucap siapa? Ya, dia adalah Sandy.


"Oh Sandy, iya silahkan. Arletha, kamu boleh meninggalkan kelas" Kata sang guru.


"Baik pak, saya permisi" Sahut Arletha.


Sebelum pergi, Sandy mengucapkan terima kasih kepada guru itu dan membawa Arletha pergi entah ke mana.


Diperjalanan, Arletha bertanya "Kak, ada apa sih? Kok cuma aku, Ica enggak?"


"Tuh katanya kita disuruh tampil waktu malam puncak" Jawab Sandy.


"Ah, masalah itu. Ternyata ditanggepin beneran ya hehe" Arletha.


"Iya dong, siapa tau bisa jadi langganan, haha" Sandy.


Sepanjang jalan menuju tempat tujuan, mereka saling mengobrol dengan Arletha yang nampak biasa saja, melupakan bagaimana hari kemarin dan rasa malu dalam dirinya.


Sampai di tempat tujuan, mereka akhirnya membahas tentang pensi utama yang akan dilakukan oleh Arletha juga Sandy di sana nanti. Apa saja yang diperlukan, bagaimana konsep dan rangkaian acaranya.


.


.


.


Lama mereka membahas tentang penampilan Arletha dan Sandy nanti hingga tak terasa waktu sudah semakin sore. Bel pertanda sekolah usai pun sudah berdengung dan membuat mereka mengakhiri diskusi ini.


"Jadi, kalian bisa latihan sendirikan, kalau butuh bantuan silahkan menghubungi guru seni budaya atau jika ada hambatan lain boleh loh kalian langsung ke saya dan diskusi lagi seperti ini" Ucap pak pembina kesiswaan itu.


"Baik pak, pasti nanti kita diskusi lagi. Kalau begitu, kami pamit dulu pak. Selamat sore" Ucap Sandy.


Setelah itu mereka bangkit berdiri dan berganti mencium tangan guru tadi dan keluar ruangan kesiswaan dan langsung menuju kelas.


"Let pulang sama aku ya, nanti tunggu di kelas aja aku samperin. Ngambil tas doang cepet kok, oke" Ucap Sandy.


"Oke deh kak, aku tungguin ntar, hehe" Jawab Arletha.


Akhirnya mereka bisa pulang bersama lagi...

__ADS_1


__ADS_2