
Waktu pulang sekolah telah tiba, Sandy dan Ikhsan dengan gesitnya langsung tancap gas berlari ke kelas Arletha ingin menjemput sang pujaan hati, eakk..
Saat sampai di sana, ternyata guru pun belum keluar dan seperti masih memberikan arahan kepada siswanya. Duduk selonjoran di lantai dan bersandar pada dinding, itulah yang mereka lakukan sambil menunggu kelas tersebut bubar.
"Kayaknya kita terlalu bersemangat ya" Ucap Sandy.
"Iya nih, lama gak punya waktu jadi sekalinya bisa langsung deh tanpa sadar" Jawab Ikhsan.
Menunggu beberapa menit dan kemudian sang guru telah keluar dan sejenak memandang mereka berdua yang terlihat memelas pun hanya menggelengkan kepalanya kemudian berlalu.
Mengetahui guru sudah keluar, Sandy pun melolongkan kepalanya ke pintu. Tika yang tahu ada Sandy di sana pun menjawil Arletha dan berbisik "Uhuy ditungguin pangeran tuh" kemudian tertawa.
"Apasih Tik, ya udah aku duluan ya yuk Win" Kata Arletha.
Arletha dan Wini pun keluar kelas dan menghampiri duo lelaki itu.
"Sekarang? Yuk" Kata Arletha
"Kuyy" Jawab Ikhsan dan Sandy bersamaan.
Kebiasaan lama yang sudah jarang mereka lakukan kini akan mereka jalankan lagi. Seperti apa? Ke toko buku, nonton di bioskop dan berakhir dengan makan-makan di cafe. Bukan makan sih ya hanya bersantai dan menikmati secangkir kopi dan seporsi kue.
-------
Kali ini mereka awali dengan makan siang menjelang sore disalah satu tempat makan dekat sekolah. Sebenarnya sih pengen makan di kantin aja tapi udah keburu tutup sih hehe.
Memesan makanan dan mulai memakan dengan diiringi canda tawa. Rasanya sudah lama tak merasakan kebahagiaan seperti ini. Ya, hanya satu penghalang mereka "sibuk". Satu kata yang membuat orang pusing tujuh keliling dan membuat tubuh terasa remuk. Itulah sibuk.
Selesai dengan makan siang menjelang sore ini, mereka pun melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, bioskop.
Memilih film komedi dan masih ada waktu 15 menit sebelum film dimulai. Sambil menunggu, Ikhsan pun membeli pop corn juga minuman untuk mereka berempat, dan dia hanya sendirian tak ada yang mau menemani atau lebih tepatnya pura-pura tak paham dan tak mendengar saat Ikhsan mengajak. Satu orang sudah terkena kejahilan mereka, siapa selanjutnya? Entahlah, siapa cepat dia menang haha.
Walau terlihat kesal, tapi Ikhsan tetap merasa senang karena bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman tercintanya dan juga ehem harapan lebih dari teman untuk yang satunya, hehe.
Beberapa menit kemudian bertepatan dengan Ikhsan yang selesai membeli pop corn, ruang teather pun terbuka, mereka langsung masuk dan mulai menonton film ini.
Saat menonton, mereka terlihat bahagia dan terlihat tawa lepas dari bibir mereka. Sudah lama memang tak menghabiskan waktu seperti ini.
.
.
__ADS_1
.
Dua jam sudah berlalu, film yang mereka tonton telah selesai dan mereka beranjak pergi keluar area bioskop. Tempat selanjutnya adalah ke toko buku. Sebenarnya hanya Arletha memang yang sangat suka dengan buku dan lebih sering membeli buku, mereka bertiga biasanya hanya ikut mengekor ke manapun Arletha ingin berkeliling.
Kini, Sandy dan Ikhsan memilih menunggu di cafe kecil yang ada di depan toko buku. Cafe dan toko buku itu adalah satu tempat di mana toko buku berada di dalam cafe. Saat akan pergi ke toko buku, pintu yang dilewati adalah pintu depan cafe lalu di dalam terdapat pintu lagi yang menghubungkan dengan toko buku itu.
Tempat yang unik dan itu sangat disukai oleh Arletha. Wini pun kini mengikuti Arletha karena dia ingin membeli sebuah novel pula. Mereka sangat asyik memilih dan melihat-lihat buku di sana, dalam hati pun Arletha berkata ingin sekali membeli semua jenis buku itu. Tapi apalah daya, dia hanyalah seorang anak sekolah dengan uang saku pas-pasan yang butuh untuk jajan juga haha.
Tak apa ada peribahasa yang mengatakan bahwa "sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit". Tak apa sekarang sedikit, nanti di masa depan pasti akan terkumpul banyak.
Sementara itu, di cafe
"Wah kayaknya kita gak bisa menghabiskan waktu sepenuhnya dengan mereka deh kalo di toko buku" Ucap Sandy tiba-tiba.
"Ya begitulah, mau masuk?" Jawab Sandy.
"Hayuklah daripada membuang waktu sia-sia gak bisa bareng" Kata Ikhsan.
Akhirnya mereka menyusul Arletha dan Wini ke dalam. Mencari-cari di mana kedua anak tersebut berada. Setelah mencari selama beberapa menit dengan mengitari rak demi rak buku, akhirnya mereka menemukan Arletha dan Wini yang berada di barisan rak novel.
"Udah belum? Dapet berapa buku?" Tanya Ikhsan, entahlah dia bertanya atau menyindir karena melihat keranjang belanja mereka hampir penuh.
"Yakinlah, biar tahu sejarah manusia. Menarik tahu"Jawab Arletha.
Sandy pun hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Ikhsan menatap ngeri buku itu.
"Win udah dapet?" Tanya Arletha.
"Bentar-bentar, dikit lagi" Jeda Wini
"Eh udah dapet nih" Lanjut Wini.
"Ya udah yuk bayar trus keluar" Sahut Sandy.
"Yuk" Jawab mereka serempak.
Sampai di kasir, Arletha dan Wini sudah mengantri dengan keranjang yang dibawa oleh Sandy. Saat akan membayar, Arletha kalah cepat sehingga Sandy berhasil membayarkan semua buku-buku di keranjang itu.
Sandy terlihat santai dan seperti tak melihat tatapan sinis dari Arletha. Sebelum bisa mengungkapkan protesnya, Sandy telah berkata "Udah jangan nolak. Kalo nolak dan berencana balikin nih duit, jangan harap kita bisa kayak gini lagi" Sandy mengatakan itu dengan mata yang tak melihat Arletha sama sekali.
Dengan raut kesal, Arletha pun akhirnya diam saja berbeda dengan Wini.
__ADS_1
"Wah kakak baik deh, nyeselkan cuma beli satu. Tahu kalo dibayarin mah borong tadi, hehe" Ucap Wini sambil tersenyum sok manis.
"Salah siapa beli cuma satu" Jawab Sandy.
"Ya kan gak tahu kalo mau dibayarin kak" Wini.
"Ya udah besok-besok ambil yang banyak ajakin tuh Ikhsan pasti ikhlas tuh beliin. Dia kan kaya" Sahut Sandy datar sekali.
Ikhsan pun hanya diam dan tersenyum saja. Seolah dia menyetujui perkataan Sandy sambil ingin sok mencari perhatian Wini, hehe.
Akhirnya sesi mencari hingga membayar buku pun telah selesai, jangan lupa pula dengan drama yang telah terjadi tadi hehe.
Oke sekarang saatnya mereka nongkrong santai. Mereka pun memilih tempat di dekat sana, sedikit ramai memang tapi tak apa. Sesekali bolehlah memilih tempat yang tidak sunyi.
Di sana, mereka kembali mengobrol sambil bercanda tawa. Masih ada drama pula mengenai pembayaran buku tadi, tapi tetaplah Sandy yang menang dan membuat Arletha sedikit jengkel tapi banyak senangnya, haha.
"Uang saku aman, tabungan aman"
Itulah yang akhirnya Arletha katakan untuk mengakhiri drama percekcokan itu.
"Ya walaupun belum bisa jalan berdua lagi, setidaknya bisa lihat senyumnya aja udah cukuplah untuk mengobati rindu ini" Batin Sandy.
.
.
.
Hampir satu jam lamanya mereka habiskan di cafe itu. Tak terasa jarum jam sudah berada diangka enam, yang artinya hari sudah beranjak malam. Tak ingin dimarahi orang tua karena pulang terlalu malam, mereka pun memutuskan untuk pulang. Arletha yang sudah pasti akan diantar oleh Sandy, dan Ikhsan yang berinisiatif mengantar Wini.
Mereka pun berpisah dan mulai beranjak untuk pulang...
____
Setidaknya hari ini telah ada sedikit waktu untuk kami bersama.
Walau tak banyak, setidaknya ada yang sudah kulakukan untuk mereka.
Yah, walaupun sebentar, aku sudah merasakan bahagia dengan mereka lagi.
Walau hanya sekejap, aku sudah merasa rindu yang telah terhempas ini.
__ADS_1