Setitik Pilu

Setitik Pilu
34. Last and First


__ADS_3

malam itu, mereka sangat menikmati camping yang mereka lakukan.


menyanyi bersama dengan ditemani api unggun dan pesta barbeque. sungguh terlihat Kebahagiaan dalam setiap raut wajah mereka.


tak terasa sekarang waktunya pulang. pulang ke rumah masing-masing setelah camping dan pulang untuk berpisah.


Tyas yang akan kembali bersama orang tuanya, Sandy, Wini, dan Ikhsan yang juga harus pulang ke rumahnya untuk membantu orang tua atau berkegiatan lain di rumah.


begitu pula dengan Arletha. dia akan menikmati me time nya dengan banyak waktu untuk sendiri dengan dunianya. mengisi kembali energi dalam tubuh untuk bersiap saat akan bersekolah lagi.


--------------


"sudah hampir waktunya kembali ke sekolah. kenapa ya negatif thinking ini selalu menghantuiku aku" ucap Arletha pada dirinya sendiri.


itulah Arletha, selalu memikirkan hal-hal yang kemungkinan buruk akan terjadi nanti. terutama yang berkaitan dengan banyak orang luar yang tidak terlalu dekat dengannya.


"apakah akan ada hal buruk itu lagi? apa mereka semua belum puas ya? atau apakah semua orang akan kembali membuat ku terpuruk sendirian? tidak tidak. aku tidak boleh berfikir begitu. sekarang ada Wini yang sekelas dengan ku. ada kak Sandy dan Kak Ikhsan yang juga bersama ku walau kita tak sekelas. setidaknya aku masih punya teman yang bisa menjadi tempat tersenyum. tapi, Kenzie pun dulu seperti itu. dan pada akhirnya dia juga menjauhi ku. ya Tuhan semoga saja Wini masih mau bersama ku apapun yang terjadi. aku tulus dan aku ikhlas berteman dengan dia. aku gak mau kalo sampai dia pergi seperti Tyas. yah walaupun Tyas masih seperti dulu, tapi jarak yang memisahkan. huhhh sudahlah lebih baik nikmati hari-hari terakhir libur ini sebelum menghadapi situasi bahaya lagi" curhat Arletha pada dirinya sendiri lagi. hehe


hari-hari terakhir liburan ini dilalui Arletha dengan terasa begitu cepat. merenung, membaca, dan mengawang adalah hal yang dilakukan Arletha. menyenangkan memang rasanya, tapi sayang tak berlangsung begitu lama. karena tepat besok pagi hari, sekolah sudah dimulai kembali. entah apa yang akan terjadi. hanya sang pencipta lah yang tahu.


-------------------


keesokan harinya,,,,


Arletha telah bersiap untuk memulai hari baru ini dengan sekolah. tak tahu apa yang akan didapatkan, baik atau buruk, tapi mau bagaimana lagi, semua harus tetap berjalan dengan semestinya.


tiba di sekolah, Arletha disambut dengan riuhnya suasanan sekolah. banyak yang saling menyapa, berpelukan ria karena telah beberapa minggu berpisah. ya hanya anak-anak lain yang seperti itu. dia hanya melihat, menikmati betapa senangnya mereka. Arletha? dia masih sendiri belum ada sapaan hangat yang ditujukan untuk dirinya.


melewati koridor dengan kelas demi kelas yang berjejer serta suasana yang ramai bisa membuat Arletha sedikit menyunggingkan senyumnya, menghibur diri dari banyak spekulasi negatif yang bertebaran di otaknya.

__ADS_1


tak terasa perjalanan menuju ke kelas pun telah terlewati dengan begitu cepat. saat sampai di kelas, banyak anak-anak yang saling sapa dan meredam rindu mereka. Arletha pun melangkah menuju kursinya.


belum ada sapaan yang terlontar untuk Arletha. dia pun hanya duduk diam di kursi sambil menunduk. suara canda tawa teman-teman sekelasnya bergemuruh di gendang telinga Arletha. membuatnya merasa sedih karena tak ada yang mengajaknya berbicara atau paling tidak hanya menyapa dengan kata "hai". apalah daya jika memang begini adanya, tak bisa melawan takdir yang telah dia pilih. diam, sendiri, dan merenung biarlah tetap seperti itu.


selang beberapa menit terasa ada tangan seseorang yang menyentuh pundak Arletha. dia pun menoleh dan mendapati Wini di sana.


"hai" sapa Wini sambil tersenyum.


"eh hai" jawab Arletha


"huh gak kerasa ya udah masuk lagi. eh gimana liburanmu setelah kita pisah-pisah itu?" tanya Wini.


"yah begitulah. menyenangkan dengan kesendirian ku. hehe. kamu?" Arletha


"emm ya begitulah. tetep seneng walau capek sih. maklum lah bisa dianggap kerja gitu" Wini


di tengah-tengah pembicaraan itu, tiba-tiba ada sebuah suara yang membuat mereka semua yang ada di kelas diam dan langsung menatapkan matanya ke satu arah.


"halah paling juga lagi ngomongin hal gak penting" jawab Ica (salah satu teman Fifi)


"daripada ngomongin hal gak penting nih dengerin kita punya hal menarik nih" ucap Fifi sambil berjalan masuk ke kelas bersama teman-temannya.


"tahu gak kalian sama orang yang diem diem gitu? jangan salah ya iya diem di sini banyak tingkah di sana. hahaaa. jangan salah sangka loh nih masih mending gua yang gak diem jadikan dari awal udah tahu gimana gimananya. GAK MUNAFIKK!!!" kata Fifi dan menekankan dua kata terakhir itu sambil menatap seseorang.


"siapa kira, orang yang terlihat pinter, diem, gak neko-neko, sekalinya bertingkah beuhh bedanya kayak 180 derajat tahu gak? diem alim taunya cuma sok doang. gak nyangka sih gua tu" lanjut Fifi.


"apaan sih Fi. siapa sih yang kamu maksud terus sok diem munafik apaan sih? siapa?" tanya Ferly.


"ya coba kalian fikir baik-baik inget baik-baik siapa di sini yang anak pendiem, pinter gitu? eh atau cuma sok diem aja gitu" jawab Fifi.

__ADS_1


semua yang ada di sana berfikir siapa orang yang sok diam?


lalu salah satu dari mereka menengok ke arah Arletha yang sedari tadi diam saja menunduk.


"hah? apa sih Fi. yang jelas dong jangan ngasih teka-teki gitu. langsung to the point aja kenapa biar langsung jelasss" sebal salah salah anak kelas.


"oke oke nih gak usah berbelit-belit. siapa sih yang mau aja diajak ke mana mana sendiri eh salah berduaan doang sama cowok. dan cowok itu udah punya seseorang yang harus dijaga. bisa dibilang sih "pelakor". huh gak nyangka. kalian tahu gak si kak Lisa? udah cantik baik pinter populer masa masih diduain sih? kalo gak dirayu mana mau tuh cowok jalan bareng dia" jelas Fifi dan di akhir kalimat yang menyatakan dia, menunjuk ke arah Arletha.


"Arletha? Kak Lisa? wah berarti Kak Ikhsan dong?" suara-suara gumaman dan suasana yang riuh langsung tercipta saat ini.


Arletha yang tak tahu apa-apa hanya bisa bingung. setahunya Ikhsan adalah teman Sandy yang ikut liburan bersama dengannya waktu itu atas surprise dari Tyas.


"hah emang aku pernah berduaan sama kak Ikhsan? perasaan kita selalu bareng-bareng sama yang lain. kok bisa gitu sih? batin Arletha.


" emang ada bukti nya?" tanya Wini tiba-tiba.


"ada dong, masa iya gua berkata-kata tanpa bukti" jawab Fifi.


Fifi memperlihatkan sebuah foto yang diambil dari samping. di sana terlihat Arletha dan Ikhsan memang sedang bersama dan tertawa bersama.


"loh iya nih bener. kok gitu sih" salah satu ungkapan anak di dalam kelas.


Arletha? dia masih diam. karena memang dia merasa tidak pernah berduaan dengan Ikhsan. biarlah semua terucapkan. kata-kata buruk pun biarlah. karena memang dia tidak melakukan hal yang di tuduhkan pada dirinya.


Wini yang juga tak berani bicara pun hanya diam menatap cemas ke arah Arletha.


"masa sama kak Sandy kurang sih? padahalkan kak Sandy juga udah lebih dari cukup. apalagi kak Ikhsan juga teman dekatnya kak Sandy. masa dua orang sahabat mau diembat juga? gak kasian apa sama mereka yang jadi korban? kok serakah banget sih? gak cukup apa kak Sandy?"


seperti itulah kira-kira ungkapan anak-anak di dalam kelas Arletha.

__ADS_1


______________


wahhh ada apa lagi nih. simak kelanjutannya ya...


__ADS_2