Setitik Pilu

Setitik Pilu
56. Kicauan Hati Wini 2


__ADS_3

Melihat senyum itu, Wini pun terbuai dan akan memulai ceritanya....


"Sebenarnya aku itu merasa ada yang berbeda dari sahabat ku. Eh orang yang aku anggap sahabat dan teman dekat".


"Arletha?" tanya Ikhsan to the point.


Wini pun hanya menunduk dan terlihat sedih lagi.


"Ada apa? Mungkin ada salah paham gitu atau gimana?" tanya Ikhsan lagi dengan nada yang lembut.


"Gak tau juga kak, mungkin akunya aja yang salah paham. Aku merasa dia sekarang benar-benar jauh dari aku. Gak pernah nyapa kayak dulu lagi, gak pernah curhat kayak dulu lagi. Gak pernah jalan bareng, jangankan jalan bareng, ke kantin aja sekarang gak pernah bareng. Tadi pun aku memberanikan diri buat ngajakin dia jalan, karena aku merasa udah lama gak menghabiskan waktu sama dia gara-gara dianya sibuk acara sekolah kemarin itu. Dan dia ternyata udah janjian sama yang lain. Yah aku sih bukannya gimana-gimana, tapi salah gak sih kak kalo aku ngerasa cemburu karena dia gak pernah bareng-bareng sama kita lagi? Aku egois gak sih kak kalo pengen kita kayak dulu?" jelas Wini dengan menahan tangisnya.


Ikhsan pun paham dengan perasaan Wini dan langsung memeluknya. Mengelus bahunya dan mencoba menenangkan Wini.


"Kamu gak salah kok. Kamu yang sabar ya, semua butuh waktu. Masih ada aku sama Sandy juga. Kamu bisa kok curhat sama kita. Kita kasih waktu dulu buat Arletha jalan-jalan atau seneng-senengan sama yang lain. Aku yakin kok nanti dia bakalan kangen sama kita juga. Kamu inget? Dulu waktu pertama kali kalian masuk sekolah, masih jadi anak baru? Kalian menghadapi itu sama-sama kan. Jadi, aku yakin kalian punya chemistry yang lekat. Tunggu aja, nanti Arletha bakalan sadar dengan apa yang dia lakuin ke kamu. Dan sekarang kamu masih ada aku. Tiap istirahat aku bakal nyamperin kamu deh, biar kamu gak sendirian gimana?" Ucap Ikhsan panjang lebar untuk menguatkan Wini.


"Emang kakak gak sibuk? Aku takut ganggu waktunya kakak, cuma masalah gini aja sampai kakak gak bisa fokus ntar" kata Wini


Ikhsan tersenyum dan berkata, "tenang aja, sesibuknya aku pasti aku luangkan waktuku buat kamu. Gak usah sungkan, aku tau kok rasanya jadi kamu. Betapa gak enaknya posisi dan perasaan kamu saat ini. Jadi, biarkan aku mengurangi sedikit aja rasa sakitmu itu, oke."


"Ya udah deh, asalkan kakak gak terpaksa aku iya aja kok kak" jawab Wini dengan senyuman juga.


Ikhsan pun mengacak rambut Wini dengan senyuman manisnya dan mulai menikmati waktu bersantai mereka.


Asyik bercanda dan mengobrol membuat keduanya tak merasakan bahwa waktu telah bergulir dengan cepatnya.


"Eh udah jam segini aja, laper gak? Makan yuk" ajak Ikhsan pada Wini.

__ADS_1


"Loh, la emang daritadi kakak ngapain kalo gak makan?" jawab Wini dengan heran.


"Hehe, itu mah cuma cemilan kali. Makan beneran nih yuk" Ikhsan.


"Haduh iya deh kak" Wini.


Akhirnya mereka pun meninggalkan area taman itu dan pergi mencari tempat makan yang diinginkan.


.


.


.


Selesai makan, karena waktu yang sudah malam Ikhsan memutuskan untuk mengantar Wini pulang.


Wini pun tak mempermasalahkan lambatnya kendaraan ini melaju.


Melihat ada pedagang martabak, Ikhsan pun menghentikan motornya dan melajukan langkahnya ke gerobak martabak.


"Mungkin dia masih laper kali ya?" batin Wini sambil tertawa.


15 menit berlalu dan Ikhsan sudah kembali dengan dua kresek berisi masing-masing dua kotak.


"Wah bener-bener laper deh kayaknya" batin Wini lagi.


Sesampainya di depan Wini, dia memberikan satu kresek itu dan berkata, "nih buat kamu, dimakan biar gak sedih lagi. Buat temen ngayal di rumah gitu, haha."

__ADS_1


"Ih apasih kak. Ini banyak banget loh" kata Wini.


"Gak apa-apa, biar kamu gendut" Ikhsan.


Setelah perdebatan tak penting ini, dan tetaplah Ikhsan yang menang, mereka pun pergi dari sana menuju rumah Wini.


.


.


.


"Makasih ya kak, buat hari ini. Aku seneng banget kak" ucap Wini.


"Iya sama-sama. Tenang aja, aku bakalan selalu ada buat kamu. Ya udah masuk sana istirahat oke" Ikhsan.


"Hati-hati ya kak" kata perpisahan dari Wini.


Ikhsan pun tersenyum dan mulai melajukan motornya pergi menjauh dari rumah Wini.


.


.


.


Terima kasih kak, sudah membuat hati ini lebih tenang. Semoga apa yang kakak ucapkan tadi memang terwujud

__ADS_1


__ADS_2