Setitik Pilu

Setitik Pilu
45. Mulai beraksi,,


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, secerah raut wajah Arletha. Benar, pagi ini Arletha tampak sangat ceria dan binar-binar bahagia terpancar dengan deras di wajah cantiknya.


"Selamat pagi duniaaa,, kau singguh indah tiada taranya, apalagi jika semesta mendukung segala rencanaku, haha" itulah perkataan yang pertama kali terucap dari bibir milik Arletha.


Ada yang tahu apa artinya? Sepertinya ada yang sudah bisa menebak bukan? Dan sepertinya pula ada yang belum paham juga, hehe. Baiklah karena author sangat baik hati, akan ku beri tahu apa yang membuat Arletha bahagia di pagi hari ini.


Ingat apa yang telah dilakukan Arletha kemarin dan kemarinnya lagi? Ya, berbicara dengan dua orang yang dulunya sangat dekat tapi kini seolah telah memutuskan tali kedekatan itu. Dan hal tersebut adalah salah satu dari sekian rencana Arletha untuk membuat keadaan lebih rukun lagi. Dia berencana membuat semua teman sekelasnya akur, baik-baik saja dan mampu bekerja sama antar individu. Tak ingin ada yang namanya cek-cok berkepanjangan dan menimbulkan luka batin bagi orang-orang tertentu. Seperti yang telah dialami oleh Arletha dulu, dia tak ingin kejadian itu terulang kembali dan membuat semua lebih kacau.


Berbicara dengan Fifi dan Ica sudah dia dilakukan, kini waktunya rencana selanjutnya berjalan. Kira-kira itulah pemikiran Arletha.


Seakan dia memang sudah menyiapkan semua rencana dengan matang juga semesta yang turut mendukung rencana ini.


Bercengkrama dengan diri sendiri sejenak, lalu bersiap untuk sekolah. Aneh? Tentu tidak! Bagi Arletha berkomunikasi dengan diri sendiri mampu membuat suasana hati lebih baik dan mampu berpikir jernih untuk segala kondisi yang dialami dan ini sering kali Arletha lakukan.


Akhirnya, sesi persiapan telah selesai saatnya untuk pergi sekolah lagi.


.


.


.


Sampai di kelas, Arletha belum menemukan siapapun di sana. "Hei, apakah aku terlalu bersemangat sampai kepagian seperti ini?" batinnya dalam hati.


"Tak apalah, mumpung lagi happy" Sambungnya dalam hati lagi.


Yah, kepagian belum ada orang sama sekali di sana. Arletha pun memanfaatkan waktu itu untuk menulis. "Sepertinya sudah lama kebiasaan ini tak kulakukan. Baiklah satu puisi sepertinya akan bagus hari ini" Kata Arletha dalam hatinya lagi dan lagi.


-------


*WAKTU


Berdenting maju dan takkan mundur


Membawa banyak suka dan duka bagi sang makhluk


Tak pernah ada kata berhenti dalam hidupnya


Kecuali, sang pencipta telah bersabda


Rentetan kenangan dan harapan adalah hal yang selalu terikat denganmu

__ADS_1


Hilang harap saat ia telah tiada


Hilang masa lalu kala memori telah terpecah


Takkan ada hidup jika kau telah berhenti*


-----------


Dan saat menyelesaikan baris akhir dari puisi itu, tibalah Fifi di kelas.


Arletha pun tersenyum dan menyapanya. Mereka akhirnya berbincang sambil menunggu yang lain datang.


Tak lama setelah Fifi datang, tibalah Ica di kelas. Ica pun ingin menyapa Arletha, tapi karena ada Fifi di sebelahnya dia pun mengurungkan niat itu.


Arletha kini menyadari ada kesempatan bagus. Dia pun menyapa Ica dan menyuruhnya untuk ke bangkunya sebentar. Karena merasa Arletha adalah temannya, Ica pun melakukan itu.


"Eh Ca kamu di sini dulu ya jangan ke mana-mana, aku mau keluar bentar, kalian jagain nih tas aku banyak barang berharga, oke. cuma bentar kok bye" Ucap Arletha.


Ica dan Fifi pun terlihat akan protes, tapi sebelum itu terjadi, Arletha sudah ngacir duluan berlari ke luar kelas. Menyisakan dua orang sahabat yang tengah menunjukkan seperti penolakan dalam medan magnet, haha.


Hening, sunyi, sepi. Itulah yang terasa saat ini. Waktu pun terasa sangat lambat. Fifi yang terlihat menahan rasa sungkan dan gelisah, Ica yang terlihat sebal dan jengkel. Tak ada yang berniat membuka sebuah pembicaraan. Semua bisu seakan menganggap tak ada orang lain di sini yang dapat mengerti bahasa manusia pada umumnya.


"Letha kok lama banget sih, ini kenapa yang lain juga belum pada dateng? Tumben banget sih" Batin Ica jengkel.


Kalian tahu? Saat ada yang akan ke kelas, Arletha mengajaknya terlebih dulu ke toilet ya memang hanya dua orang saja yang berhasil dia hadang, tapi setidaknya bisa memperpanjang waktu Fifi dan Ica berduaan dikelas hahaa.


Sepertinya Arletha tak bisa menahan teman-temannya terlalu lama, dia pun menyerah dan akan kembali ke kelas.


Sampai di kelas, ternyata belum ada yang datang. Masih sama, hanya ada Fifi dan Ica di sana saling diam, canggung dan sunyi adalah suasana yang tercipta.


Saat Arletha dan dua orang temannya itu masuk, tampak raut wajah lega dan bahagia tercipta dalam masing-masing orang itu.


"Paling tidak mereka sudah mulai diam dan tidak saling menghujat saat berdua, itu lumayanlah" Batin Arletha.


"Sorry ya guys lama. hehe" Ucap Arletha saat duduk di kursinya.


Dua orang tadi pun menjawab "iya" dengan nada yang terdengar jengkel.


"Tak apa mereka jengkel, yang penting rencanaku harus tetap berlanjut" Batin Arletha lagi.


Tak lama, Wini dan beberapa teman sekelas Arletha pun berdatangan dan disusul oleh bel pertanda masuk dengn guru yang sudah mendekat.

__ADS_1


--------


Jam istirahat telah berbunyi saatnya mengistirahatkan pikiran sejenak dan mengisi energi selepas berpikir keras tadi. Arletha pun terpikirkan untuk mengulangi kebiasaan yang sudah lama tak ia lakukan.


"Win yuk istirahat ke taman belakang. Suasananya enak nih kayaknya" Ajak Arletha pada Wini.


"Boleh yuklah" Jawab Wini.


Mampir di kantin sebentar dan langsung menuju taman belakang sekolah.


Terlihat sepi dan tak ada satupun orang di sana. Arletha dan Wini pun memilih duduk di bawah pohon dekat kolam. Di sana mereka berdua tak banyak bicara, hanya makan dan makan. Karena memang energi mereka telah terkuras habis saat pelajaran tadi.


Sama seperti beberapa hari yang lalu, ada Sandy dan Ikhsan di sana. Di belakang Arletha dan Wini, masih mengamati dan akan menghampiri saat waktunya tepat. Entahlah kapan waktu yang tepat itu akan datang, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.


Menunggu beberapa saat dan akhirnya mereka menghampiri Arletha juga Wini di sana. Tak ingin mengageti seperti sebelumnya, mereka hanya berjalan santai lalu duduk di sebelah Arletha.


"Eh kakak, hai" Sapa Wini.


"Hai adik-adik tersayang, kayaknya laper banget nih gak mau bagi-bagi gitu makanannya?" Tanya Sandy.


"Bukannya pelit kak, tapi kita emang kelaperan dan uang saku kita gak cukup kalo harus nraktir kakak" Ucap Arletha tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanan.


"Yaya, ya udah habisin tuh, ntar masih sekolah kenyangin yak" Sahut Ikhsan.


"Kalian beneran kelaperan ya?" Tanya Sandy.


"Iya nih kak. Pelajaran tadi nguras tenaga dan emosi tau" Jawab Wini.


"Ya udah habisin. Ntar pulang sekolah jalan dulu yuk sama gantiin janji aku dulu sama Letha. Sorry ya Let, aku gak ngabarin apa-apa waktu itu kalo batal, hehe. Sebagai gantinya nanti pulang sekolah kita jalan bareng oke. Udah lamakan kita gak hangout bareng. Kangen nih" Kata Sandy.


"Wah boleh tuh kak" Sahut Wini dan Arletha.


"Oke, nanti jangan ke mana-mana, kita samperin ke kelas kalian" Ucap Sandy.


Ya, beberapa hari yang lalu Sandy sempat berjanji akan mengajak Arletha jalan-jalan karena telah lama tak bersapa. Ternyata, hal itu tak bisa terlaksana karena kesibukan Sandy. Tak memberitahu dan tak ada kabar sama sekali. Sempat membuat Arletha kelimpungan dan bingung sih, tapi Arletha memahami jika Sandy benar-benar sibuk.


Istirahat kali ini mereka lalui bersama kembali, setelah lama tak saling sapa karena kesibukan masing-masing.


Dan sudah tersusunlah rencana setelah pulang sekolah hari ini. Ke mana, ngapain, sudah tersemat dalam otak mereka. Banyak yang mereka susun secara batiniah masing-masing tanpa diskusi. Sambil senyum-senyum mereka telah punya rencana masing-masing selain rencana bersama itu.


Hayalan dan bayangan akan rencana itupun harus berakhir karena jam istirahat telah usai. Mereka berpisah dan kembali ke habitat masing-masing.

__ADS_1


-----


__ADS_2