Setitik Pilu

Setitik Pilu
55. Kicauan Hati Wini


__ADS_3

Wini POV


Aku terus melangkah menuju rumahku. Memang tidak besar dan tidak mewah. Hanya ada kata sederhana dalam hidupku. Bersyukur aku masih bisa bersekolah dan masih bisa makan bersama keluarga ku.


Bersyukur pula aku punya Arletha sebagai teman, benar aku bersyukur sekali. Tapi, mungkin kini sudah berbeda.


Dia bukan yang dulu, dia sudah berubah, dia orang lain. Jujur saja ada rasa sakit dalam hatiku kala ini.


Merasa terbuang? Sepertinya iya. Tapi mau bagaimana lagi, itu pilihannya dan itu adalah hidupnya. Aku hanyalah orang lain yang tak pantas mengatur apapun yang akan dia lakukan.


Ku tekankan sekali lagi ya hatiku, aku bukan siapa-siapa yang mampu mengatur hidupnya


Biarlah seperti ini jika dia sudah bahagia. Aku tak mengapa, mungkin itulah kata yang coba ku tanam untuk hati dan pikiranku.


Ada rasa hampa sebenarnya dalam diriku jika tanpa dia. Tapi ya sudahlah, bukan hakku melarang dan memaksa.


.


.


.


Semakin dipikir, aku semakin merasa kehilangan. Kehilangan tempat dimana di dalamnya ada sebuah kekuatan. Dulu kita yang saling menguatkan, kini sudah hilang diterpa angin.


Saat tengah merana, tiba-tiba ada notifikasi masuk dalam pesan di HPku.


Kak Ikhsan


Hai Win, jalan yuk. Eh atau gak aku ke rumah kamu atau kamu ke rumah aku. Gimana?

__ADS_1


Wah ada apa gerangan? Kak Ikhsan tahu aja aku lagi galau. Iyain atau gak ya? Udahlah iya aja, mana tahu bisa bikin seneng, hehe.


Me


Boleh deh kak. Em kita jalan aja gimana? Cari angin seger, hehe.


Kak Ikhsan


Otw


Wah, cepet banget sih ni orang. Gak ngasih waktu dulu kali ya buat dandan. Ah udahlah, dianya juga santai. Apaan lagi dandan kayak mau ke mana aja, haha.


.


.


.


Setengah jam kemudian Ikhsan sudah sampai di rumah Wini. Dengan tidak adanya orang di rumah itu selain Wini, jadilah Ikhsan tak meminta ijin dan sudah diwakilkan oleh Wini sendiri yang ijin via chat kepada orang tuanya.


"Oke, ke mana kita hari ini?" tanya Ikhsan.


"Kakak maunya ke mana? Aku sih pengen cari angin doang, hehe." kata Wini.


"Ya udah gini aja terus kalo gitu, enakkan" ucap Ikhsan.


"Iya-iya terserah kakak udah, aku mah ngikut aja" Wini.


Hening,,,

__ADS_1


Akhirnya Wini dan Ikhsan memutuskan untuk menikmati angin ini dengan tenang. Tak berapa lama mereka berhenti di taman yang belum pernah Wini datangi.


"Ini di mana kak?" tanya Wini.


"Ini taman kompleks rumah aku sih" jawab Ikhsan sambil garuk-garuk kepala dan tersenyum.


Wini pun hanya mengangguk dan tersenyum, terlihat senang dengan tempat ini. Mereka pun mencari tempat duduk, saat sudah menemukan, Ikhsan pergi sebentar untuk membeli camilan.


"Setidaknya masih ada yang peduli dan mau dengan tulus menghibur walaupun secara tidak nampak" batin Wini.


Beberapa menit kemudian, Ikhsan sudah kembali dengan membawa satu kresek penuh makanan ringan, dua botol air mineral juga dua mangkuk siomay.


"Banyak banget kak?" tanya Wini bahkan sebelum Ikhsan duduk dan menaruh makanan itu.


"Ya gak apa-apa dong, sapa tahu aja kamu laper banget. Eh kalo aku sih emang laper, haha" jawab Ikhsan.


Memakan siomay sambil bercanda hingga tak terasa makanan ini habis. Setelah minum dan merasa kenyang, mereka lanjut mengobrol lagi.


Di tengah pembicaraan itu tiba-tiba Ikhsan bertanya, "eh Win si Arletha ke mana ya btw, kok gak pernah liat lagi. Udah gak nampak juga tuh di taman sekolah?"


"Dia lagi sibuk kak mungkin" jawab Wini tanpa sadar sepenuhnya.


Ikhsan yang tiba-tiba peka pun menoleh dan memperhatikan wajah Wini. Di sana terlihat ada awan mendung yang membuat wajah cantiknya menjadi sendu. Dia menyadari ada sesuatu yang telah dia lewatkan.


"Mungkin? Kok mungkin sih?" tanya Ikhsan lagi bermaksud memancing cerita Wini.


Wini pun langsung sadar dan gelagapan untuk menjawab tapi dia berusaha tenang dan berkata, "Iya kak, em" tak bisa melanjutkan kata-katanya, Wini pun akhirnya hanya tersenyum dan mengalihkan tatapannya.


Ikhsan lalu memegang bahunya dan membuat Wini menoleh.

__ADS_1


"Ada apa? Jangan dipendam sendiri, yah mungkin aku gak bisa ngasih sesuatu yang wah sesuai keinginan kamu, tapi setidaknya aku bisa bikin kamu lebih tenang dengan mendengarkan cerita kamu. Jadi, cerita dong, aku bakalan dengerin sampai kamu puas" kata Ikhsan dengan senyumannya.


Melihat senyum itu, Wini pun terbuai dan akan memulai ceritanya....


__ADS_2