
Sama sekali tidak pernah Latina duga kalau Dean sampai kembali mengaktifkan akun media sosial miliknya. Postingan pertama setelah bertahun-tahun adalah kabar mengenai rencana pernikahannya yang tiba-tiba.
Berita seorang pengusaha, anak konglomerat memang begitu cepat menyebar. Ya, Dean sengaja. Bahkan memasang potret Latina, juga Rael, tetapi foto anak kecil itu ditutupi dengan stiker hati.
Ini demi keamanan Rael sendiri tentunya. Yang jelas dipostingan itu, Dean mengatakan kalau ia sangat bahagia bersama pasangan juga putranya, dan tidak sabar menantikan moment sehidup semati.
"Jadi, kau kembali bersama dengannya?" tanya Maxon, setelah mengetahui berita ini.
"Ya, aku menerimanya." Latina sedikit tidak enak bicara lantaran ia dan Maxon pernah menghabiskan waktu bersama. Ya, meski itu hanya sebuah kencan saja.
"Sepertinya dia sangat mencintaimu. Kabar tentangnya baru terdengar tahun ini."
"Dia bilang ingin menikahiku dan aku menerimanya."
"Memang seharusnya. Kalian berdua saling mencintai." Maxon menarik kedua sudut bibirnya, menandakan kalau ia setuju atas hubungan Latina dan Dean. Awalnya, ia tertarik pada gadis cantik ini. Tapi, setelah bertemu Dean dan mengetahui siapa pria itu sebenarnya, Maxon memilih mundur. Latina saja punya mantan seperti itu, pasti kriteria pendampingnya juga sekelas Dean Cornor.
"Sabtu ini kami akan ada pertemuan keluarga. Aku gugup." Latina begitu bersemangat. Tidak sabar menunggu weekend yang akan datang beberapa hari lagi.
__ADS_1
"Makan siang bersama?" Maxon menawarkan diri. "Kau mungkin tidak akan lagi bekerja di sini. Setidaknya untuk yang terakhir kali."
"Tentu ... tetaplah menganggapku sebagai seorang teman."
"Aku sangat beruntung kalau begitu." Maxon tertawa. "Oh, ya, karena kau akan menikahi pemuda paling kaya di negeri ini, berikan satu berita ekslusif untuk kantor majalah kita. Bantu teman-temanmu ini."
"Jadi, makan siang ini sebagai rayuan?" Latina tertawa.
"Anggap saja begitu."
Pertemuan dua keluarga saja masih menunggu beberapa hari lagi. Pesta pertunangan, bahkan Dean belum melamar. Bagaimana bisa orang berpikir kalau mereka akan naik ke pelaminan?
Jam istirahat tiba, Latina dan Maxon mengunjungi restoran yang tidak jauh dari gedung kantor mereka. Seperti biasa, keduanya memesan menu yang tidak asing, lalu menyantap makanan sembari sesekali bicara.
"Makan yang banyak karena hari ini, aku yang traktir," kata Maxon.
"Sogokan lagi?"
__ADS_1
Maxon tertawa. "Kau adalah keberuntungan. Untung saja si gendut itu menerimamu."
"Jangan bicarakan hal ini." Latina sampai malu sendiri. "Jiwa jurnalismu membuatku takut. Apa kau ingin mengubah majalah keuangan dan bisnis menjadi berita gosip?"
"Aku jadi tidak sabar memasang foto pernikahanmu di sampul halaman depan. Terima kasih, Latina. Berkat kau, kami semua bisa dapat bonus akhir tahun."
"Maxon, aku belum menikah." Latina tertawa, lalu sedetik kemudian ia terdiam.
"Apa yang kau lakukan?" Maxon bersuara keras, sampai bangun dari duduknya. Tiba-tiba saja, dan ia juga tidak sadar kalau wanita yang memakai coat cokelat dengan tangan membawa segelas jus, menghampiri, lalu menuangkan minuman manis tersebut ke rambut Latina.
"Fiona!" Latina melotot melihat mantan kekasih Dean.
"Kau puas telah merebut kekasihku? Kau puas membuatku malu, Latina?" wanita ini berteriak. Fiona tidak sengaja melihat saingan cintanya berjalan menuju restoran. Ia mengikuti, memperhatikan, hingga tiba saatnya beraksi.
Latina tahu apa yang dimaksud oleh Fiona. Ia sangat paham akan itu. Sembari mengusap wajahnya dengan tisu, Latina bicara, "Bagian mana aku merebut? Dari awal, Dean itu milikku."
TBC
__ADS_1