Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Ibu Cornor


__ADS_3

Latina langsung menutup panggilam telepon itu. Ia tersenyum kepada Rael sembari mengusap puncak kepala sang anak.


"Sudah Mom bilang. Daddy-mu pasti sedang beristirahat. Dia tidak mengangkat teleponnya."


"Besok pagi, Mommy telepon dan katakan pada Daddy untuk meneleponku."


"Baiklah, Sayang. Sekarang kau tidurlah."


Latina menarik selimut sampai batas leher Rael. Ia menghidupkan lampu tidur, lalu mematikan lampu utama. Kecupan kening mendarat sebagai ucapan selamat malam, dan setelahnya, Latina keluar dari kamar sang anak.


Diingat lagi suara di telepon, sepertinya bukan dari wanita muda. Berat dan terkesan angkuh. Latina berpikir, apa Dean kembali pada kebiasaan lama? Siapa tahu saja pria itu menghabiskan malam bersama seorang wanita dewasa. Ah, dipikirkan lagi malah membuat pusing. Masa bodoh apa yang dilakukan Dean. Itu bukan urusannya. Namun, jauh dari lubuk hati Latina, ia kesal bila dugaannya benar.


"Mom, kau di sini?" Dean mengembuskan napas panjang saat melihat ibunya tiba-tiba berada dalam kamar. Ia baru saja keluar dari bilik mandi. "Bagaimana Mom bisa masuk ke rumahku?"


"Apa kau memang berniat melarangku masuk ke rumah anak sendiri?" wanita itu melempar ponsel di atas tempat tidur.


Mata Dean melotot melihatnya. "Mom memeriksa ponselku? Aku tidak suka ini."

__ADS_1


"Ada yang menelepon, dan aku tidak tahu siapa. Cepat pakai bajumu. Aku tunggu di luar."


Wanita paruh baya yang masih cocok mengenakan gaun bodycon dan sepatu bertumit tinggi ini keluar dari kamar sang anak.


Dean berdecak sembari mengambil ponsel di atas tempat tidur, lalu memeriksa panggilan masuk serta keluar. Ada dua kali telepon panggilan tidak terjawab dari Fiona, dan satu telepon dari ....


"Latina!" Dean serasa tidak percaya. "Dia meneleponku. Ada apa, ya? Aku coba telepon balik." Dean membalas telepon tersebut. Namun, dua kali panggilan masih juga belum terjawab.


"Dean!" suara sang ibu terdengar memanggil. "Cepatlah. Kita perlu bicara."


"Ada apa?" Dean duduk di kursi seberang ibunya. "Datang, tetapi tidak memberitahuku."


"Sampai kapan kau tidak pulang ke rumah? Kau bermain-main dengan wanita tidak sederajat dengan kita. Kau masih saja mempertahankan perempuan bernama Fiona itu."


Nyonya Dolty Cornor. Wanita berumur 58 tahun yang masih cantik. Rambut putih pendeknya ditata rapi hingga tetap saja terlihat elegan. Tubuhnya ramping dan gaun hitam yang ia kenakan sangat serasi dengan kulit putihnya.


"Berhenti mencampuri kehidupan pribadiku. Ada satu hal yang ingin kukatakan pada kalian."

__ADS_1


"Kau ingin menikahi wanita itu?" meski Dolty dan Fiona belum pernah bertatapan langsung, tetapi wanita paruh baya itu tahu dengan siapa putranya berkencan. Selain karena latar belakang Fiona yang tidak cocok, Dolty tidak ingin menindak gadis itu karena telah membuat Dean berubah. Ia tidak lagi mendengar gosip mengenai putranya yang suka bergonta-ganti pasangan.


"Bukan masalah itu."


"Dean, jika kau memang ingin menikahi Fiona, Mom akan coba menerimanya."


"Apa?" Dean jelas kaget mendengar hal ini. "Bukannya kalian tidak setuju?"


"Mom sudah bicara pada ayahmu. Kau dilarang juga masih ingin bersamanya, kan? Jika kau menginginkan wanita itu sebagai pendamping, maka pertemukan kami."


"Kenapa tiba-tiba? Aku pernah ingin mengundang Fiona makan malam bersama kita, tetapi kalian menolak. Ada apa ini?"


"Kami sudah cukup tua. Sudah saatnya menimang seorang cucu. Mom akui, wanita itu sama sekali tidak termasuk dalam kriteria menantu idamanku. Tapi, apa boleh buat. Kau mencintainya."


"Mom, aku sudah punya anak."


TBC

__ADS_1


__ADS_2