
Dean tersenyum, begitu juga dengan Latina. Bagaimana bisa ada Sasa dan Berlin? Ah, ini tempat umum, jelas keduanya bisa datang. Berlin dan Sasa tampak belanja bersama, terlihat dari paper bag yang mereka pegang.
"Oh, Sayang. Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Dean langsung melingkarkan tangan di pinggang kekasihnya. "Aku mau bertemu teman di sini dan kebetulan bertemu dia. Nona ini juga teman Kak Sasa, bukan?"
"Tidak disangka kita bertemu di sini, Latina." Sasa menyapa, lalu memberi kecupan di pipi sahabatnya.
"Ya, sungguh kebetulan. Kau belanja untuk persiapan pernikahan?"
"Begitulah. Kau sendiri ... belanjaanmu banyak."
Latina tertawa. "Ya, seseorang sedang mentraktirku."
"Oh, siapa?" Sasa bertanya dalam nada candaan.
Dean bersumpah akan menghukum Latina jika sampai wanita ini membuat kesalahpahaman antara ia dan Berlin. Ia harap Latina tidak menyusahkan dirinya.
"Ya, aku dibelikan tas oleh Tuan Dean." Latina memperlihatkan kantung belanjaannya. Dari warna paper bag itu saja, Berlin sudah tahu berapa harga barang tersebut.
"Sayang, apa ini?" Berlin menatap Dean. Ia butuh penjelasan.
__ADS_1
Dean tertawa. "Jangan salah paham dulu. Tadinya aku juga sedang melihat tas, kebetulan bertemu Nyonya Latina. Baru aku ketahui kalau dia istri dari Tuan Jason. Dia rekan bisnisku. Ini hanya hadiah kecil karena kerja sama kami."
Rasanya Berlin tidak percaya atas ucapan Dean. Biasanya pengusaha memberi hadiah pasti berupa tiket liburan ke resort pribadi atau hotel. Tapi itu berkaitan dengan dunia properti. Jika bisnis keuangan pastilah Dean akan memberi beberapa potongan pinjaman, deposito atau hal semacamnya. Namun, bisa jadi juga berupa barang. Berlin tidak tahu. Mungkin saja ucapan Dean benar karena kekasihnya tidak pernah berbohong.
"Itu keren." Sasa sama hal dengan Berlin. Karena Dean berkata begitu, mungkin benar.
"Tadinya aku tidak mau, tetapi Tuan Dean memaksa agar aku menerimanya. Aku sangat berterima kasih sekali," ucap Latina sembari tersenyum manis.
Dean membalas senyum itu, tetapi dalam hati ia menggerutu. Bisa-bisanya Latina berkata demikian. Ingin membuatnya bertengkar dengan Berlin, mimpi! Latina tidak akan bisa melakukan itu.
"Itu hanya hadiah kecil, Nyonya." Sungguh Dean tidak terbiasa memanggil Latina dengan sebutan itu. Ia juga tidak mungkin memanggil nona, bibi atau kakak.
Lagi-lagi senyuman manis yang Latina berikan, dan itu membuat Dean kesal. Namun, ia harus menahan semua ini karena ada Berlin.
"Latina, kita lama tidak bertemu. Bagaimana kalau makan malam dulu?"
"Sasa, aku juga merindukanmu. Kita makan malam bersama."
"Aku juga ikut." Dean tiba-tiba menyahut.
__ADS_1
Sasa, Latina, dan Berlin menatapnya. Dean jadi salah tingkah. Ini semua karena simpanannya.
"Apa salahnya makan bersama. Kita juga lama tidak bertemu."
"Sayang, aku ingin bersamamu," ucap Berlin.
"Harusnya Tuan bersama Nona Berlin, pergi makan malam istimewa. Lagi pula kalian ini, kan, pasangan kekasih." Latina tertawa kecil saat menyarankan itu.
"Benar, Dean, Berlin. Jangan mengikuti kita." Sasa turut menambahkan.
Bagus sekali. Latina memang berharap demikian. Malam ini, ia ingin bebas dari Dean. Tidak baik bersama pria itu terus menerus.
"Malam ini, kau menginap di rumahku. Ada yang harus kutunjukkan. Aku mau minta pendapatmu tentang kartu undangan pertunangan kita."
Dean tidak punya alasan lagi untuk menolak karena Latina dan Sasa sudah berkata begitu. Ditambah lagi Berlin. Ini hari sial baginya.
"Oh, ya, Tuan Dean. Terima kasih untuk tas mahalnya," ucap Latina. "Selamat bersenang-senang."
Lambaian dan senyum itu. Dean janji akan membalasnya.
__ADS_1
TBC