
Pesta puncak dimulai dengan Leon menyematkan cincin berlian ke jari manis wanitanya. Lalu, dilanjutkan pemotongan kue serta dansa bersama pasangan masing-masing.
Namun, Dean sama sekali tidak menikmati malam menggembirakan ini, termasuk Fiona. Ia ingin cepat pulang, menumpahkan segala sesak di atas tempat tidur.
Sedari tadi, Dean tidak berhenti memandang Latina yang tengah bersama Billy. Berbeda dari mereka, keduanya menikmati acaranya. Bagaimana Fiona tidak kesal? Ia marah pada situasi saat ini. Tidak dianggap dan diabaikan ketika mencoba mengajak Dean berdansa.
"Sayang ...." Lagi-lagi Dean tidak mendengarkan. Pandangan pria ini masih tertuju pada Latina yang bersedia menerima ajakan Billy berdansa.
Ada yang terbakar. Dean sadar ia tidak senang pada kedekatan keduanya. Apalagi tangan Billy telah menyentuh pinggang ramping itu. Oh, sial! Dean ingin meledak karena melihatnya.
"Harusnya aku tidak mengundang Latina kemari." Dean menggertakkan gigi saking marahnya.
"Dean! Kau tidak memandangku." Fiona meraih wajah kekasihnya. "Lihat aku." Ia berjinjit, lalu mengecup bibir itu. Kebetulan sekali Latina bergerak memutar sampai ia dapat melihat adegan mesra keduanya.
"Mereka serasi, kan?"
Latina terkesiap saat Billy berbisik di telinganya. Pria itu memutar kembali agar mereka bisa saling berhadapan.
"Ya, sepertinya begitu. Sudah lama pacaran, kenapa tidak menikah saja?" kebetulan sekali Billy adalah teman Dean. Jadi, ia bisa mencari tahu soal itu.
Billy tersenyum. "Jadi, kau benar-benar tidak tahu?"
"Apa?"
__ADS_1
"Tentu saja karena ia tidak bisa melupakanmu."
"Bagaimana bisa?" Latina tertawa kecil mendengarnya.
"Ikut denganku. Kita bicara di tempat lain saja."
Topik yang menarik dan Latina setuju untuk ikut. Sementara Dean menahan marah karena ulah Fiona yang menyentuhnya di tempat umum.
"Kau tahu aku, kan, Fiona? Jika ada yang mengambil gambarku, maka semuanya berakhir."
"Di sini tidak ada wartawan. Siapa yang akan memotretmu? Kau itu pengusaha, bukan artis."
Dean mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau sungguh tidak mengerti? Aku bisa terjebak skandal."
"Aku kekasihmu, Dean. Sudah saatnya kau mengenalkanku pada dunia."
"Ini semua karena dirimu. Kau yang menginginkan aku seperti ini."
"Sial!" Dean pergi begitu saja. Matanya mencari Latina yang telah berlalu dari lantai dansa. "Di mana diam?"
"Dean!" teriak Fiona, yang mengundang perhatian pada tamu yang hadir.
Keributan ini juga membuat Leon memusatkan perhatiannya pada Fiona serta Dean. Ia juga sempat melihat Billy bersama seorang wanita yang wajahnya begitu familier.
__ADS_1
"Fiona." Leon menegur. "Ada apa?"
"Maaf, Leon. Aku mengacaukan pestamu."
"Mau ke mana Dean?" Leon mengabaikan permintaan maaf dari Fiona. Ia lebih penasaran pada keadaan Dean yang keluar dari aula pestanya.
"Mencari Latina. Aku pergi dulu." Fiona pun ikut menyusul pergi.
"Latina?" Leon baru ingat wanita yang selalu diinginkan sahabatnya itu. "Sudah kuduga. Dia memang Latina. Astaga, wanita itu dan Billy!"
"Sayang, ada apa?" kekasih Leon menegur karena tunangannya ini malah meninggalkannya sendiri.
"Tidak ada, Sayang. Ayo, kita berdansa saja." Lupakan soal Dean, meski Leon sangat ingin tahu.
Fiona tidak menyerah dengan mengejar Dean yang marah atas tindakannya. Ia berhasil menyusul, dan menghalangi sang kekasih yang ingin pergi lagi.
"Kau marah karena Latina melihat kita, kan?"
"Aku ingin hubungan kita berakhir. Aku ingin putus!" ucap Dean.
"Apa?" Fiona menyakinkan diri kalau ia salah dengar.
"Yang aku inginkan adalah Latina. Aku suka dia dan ingin bersamanya."
__ADS_1
Satu tamparan mendarat di pipi Dean. "Kau keterlaluan!"
TBC