
Bertepatan dengan perginya Latina dan Rael, mobil hitam pun muncul dan itu adalah Dean yang heran mengapa Fiona sampai berada di depan sekolah putranya. Ia bahkan sampai memutar kendaraan untuk memastikan jika itu adalah kekasihnya.
Fiona pun tidak kaget karena Dean tiba karena memang sebelumnya, mereka telah berjanji untuk makan siang bersama.
"Kau menyeberang jalan sampai kemari?" Dean bertanya setelah ia keluar dari mobil. Ia pun tahu kalau Fiona pasti menemui Rael karena tidak mungkin tanpa alasan, kekasihnya itu berada di depan taman kanak-kanak.
"Hanya pergi melihat, tapi dia sudah dibawa lebih dulu oleh ibunya."
Dean menghela napas panjang. "Siapa yang menyuruhmu untuk kemari dan melihat Rael? Kau bertindak semaumu."
"Aku hanya ingin akrab."
"Masuklah dulu ke mobil." Dean tidak lagi membukakan pintu untuk kekasihnya. Ia masuk lebih dulu dan membiarkan Fiona menyusul.
Jika dibilang kecewa, ya, Dean harus akui karena ia masih tidak ingin menemui Rael sebab menghormati keputusan Latina. Ia tengah mengurus surat kesepakatan pengasuhan, dan Latina berjanji untuk memperkenalkan Rael kepadanya dalam tahap anak itu bisa mengerti.
__ADS_1
Lalu sekarang, Fiona muncul, dan takutnya akan bicara yang tidak-tidak. Bagaimana nanti tanggapan Rael terhadapnya? Apakah anak itu nanti mau melihat atau mungkin kecewa karena selama ini tidak pernah muncul.
Mobil segera dikendarai ketika Fiona sudah masuk. Tanpa banyak kata lagi, Dean segera melaju ke jalan Transer 780, di mana terdapat restoran yang menjadi langganan mereka.
Bukan hanya Dean yang merasa situasi ini tidak nyaman. Tapi, Fiona pun demikian. Dari sikap kekasihnya tadi sampai pada perjalanan kali ini, Dean bungkam tanpa bicara. Ada yang salah, Fiona tahu itu.
"Keluarlah!" Dean mengatakan itu ketika mereka telah tiba di depan restoran.
Lagi-lagi Dean keluar lebih dulu. Ia tidak lagi memanjakan kekasihnya. Biasa, Dean akan membukakan pintu layaknya ia seorang putri.
"Aku hanya ingin dekat. Itu saja," ucap Fiona.
"Kau tahu, aku sebagai ayah kandungnya saja belum berani menemui Rael. Sementara kau, yang merupakan orang lain, malah datang dan ingin akrab ...." Dean menggeleng. "Memangnya kau siapa dan punya hak apa?"
"Dean ... kau berkata begitu. Kau menyakitiku." Fiona tampak sedih mendengarnya.
__ADS_1
Namun, Dean tidak peduli akan hal itu. "Apa kau menemui Rael hanya untuk mengatakan kalau kau adalah kekasihku? Pacar ayahnya dan kau bilang bahwa dirimu adalah calon ibu tiri?"
"Aku tidak sempat memikirkan hal itu!"
Mungkin awalnya Fiona punya niat seperti itu. Memperkenalkan dirinya sebagai kekasih. Tapi, ia mengerti bahwa Rael tidak akan paham dengan apa yang ia maksud.
"Kau telah membuatku kecewa, Fiona." Dean mengusap wajahnya secara kasar, ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain seolah muak melihat Fiona.
"Aku tidak akan mengulanginya. Jujur, Dean. Aku hanya ingin akrab. Jika dia bukan anakmu, aku juga akan melakukan hal sama. Dia lucu dan menggemaskan. Kau tahu, betapa aku sangat menginginkan bayi, tetapi kau menolakku bahkan enggan menyentuhku."
"Kau tahu alasannya, kan? Kita belum direstui. Kau ingin anak dariku, lalu bagaimana jika aku pergi meninggalkanmu? Aku tidak ingin menjadi pria penabur benih."
Fiona menggeleng. "Kau menjaga dirimu karena wanita itu. Aku masih ingat ucapanmu. Saat kita masih belum resmi menjadi sepasang kekasih. Dia ... tidak menyukai pria berengsek! Lalu kau berubah menjadi baik agar layak bersamanya."
TBC
__ADS_1