
Latina meraih Rael dalam gendongannya seraya berjalan cepat menghindar dari Dean. Sialnya pemuda itu masih tidak melepas mereka.
"Taksi!" teriak Latina dengan melambaikan tangan.
"Mom, mainanku terjatuh."
"Nanti saja, Rael."
"Tapi, itu mainan dari Paman Harry."
Keras kepala Rael yang pasti akan merengek sepanjang jalan. Latina berbalik arah dengan menurunkan Rael, lalu mengambil mainan robot yang terjatuh.
Suara klakson taksi terdengar. Latina hendak membuka pintu saat mobil itu berhenti di depan, tetapi sayang, Dean telah berhasil menahannya.
Dean menepuk badan mobil. "Pergilah. Maaf!"
Sopir itu mengumpat, lalu berlalu begitu saja. Kini Latina tidak bisa lari ke mana pun. Ia tertangkap. Tapi, dipikir-pikir untuk apa ia menghindar? Perjanjian itu sudah selesai dan dari awal Dean tidak menginginkan anak. Ditambah lagi pria ini sudah memiliki kekasih yang turut menyusul.
"Kau masih saja bertindak tidak sopan. Ada masalah apa sampai kau menyusulku?" Latina berharap sikapnya kali ini dapat membuat jarak di antara mereka.
"Selesai?"
__ADS_1
Terdengar helaan napas dari pria itu, dan Latina yakin kalau Dean pasti tidak akan melepasnya dengan mudah.
"Kekasihmu berada di belakang. Apa kau tidak takut bila ia tahu tentang kita? Dengar, Dean. Aku sudah melunasi semua perjanjian dan sekarang kita tidak punya hubungan apa-apa."
"Kau ingin aku melupakanmu?"
"Memang sudah seharusnya, bukan? Hubungan kita hanya transaksi. Tidak lebih dari itu."
"Jangan lupa, Latina. Ada dia antara kita. Jason sudah memberitahu kalau kau mengandung anakku. Kau telah membohongiku."
"Lantas, aku harus apa? Jika aku jujur, apa kau akan membiarkan anakku lahir? Tidak, kan? Hentikan ini, Dean. Kita sudah punya jalan masing-masing sekarang. Jangan lagi saling menganggu. Kau sudah punya kehidupan baru, begitu juga aku."
Latina berkata seperti itu, meski ia penasaran akan selera wanita Dean sekarang. Berlin dan perempuan yang berdiri di belakang sangat berbeda. Kekasih pria itu terlihat sederhana.
Kali ini, Dean tidak menghentikannya, melainkan hanya melihat saja. Mengalah untuk sesaat. Itu yang ia lakukan. Dean tidak dapat memungkiri jika Latina membangkitkan gairahnya sekarang. Ia yang dulu mati, kini telah hidup lagi.
"Dean!" Fiona menghampiri kekasihnya itu. Ia menatap sang kekasih, bermaksud meminta penjelasan. "Aku akan menunggu."
"Fiona ...." Dean menatap. "Maaf, karena aku belum pernah mengatakan ini."
"Apa?"
__ADS_1
"Sebenarnya, aku punya seorang anak."
Fiona terkesiap. "Anak itu?"
Dean mengangguk. "Ternyata seorang laki-laki. Aku hanya tahu dia mengandung saja. Sekarang Latina kembali bersama putraku."
Takdir rupanya mempertemukan ayah dan anak. Tapi, Fiona bingung harus mengatakan apa. Haruskah ia senang dengan keadaan ini? Mantan kekasih dari pria yang ia cinta telah kembali bersama buah hati mereka.
Fiona tersenyum. "Pantas saja, aku merasa melihat Dean kecil."
"Aku belum melihatnya secara jelas. Aku harus menemui mereka lagi. Sudah lama aku mencari mereka, tapi akhirnya, Latina sendiri yang kembali ke negara ini."
Entah mengapa, perkataan Dean ini membuat hati terasa sakit. Fiona merasakan nyeri yang ia tidak tahu dari mana asalnya. Sang kekasih telah berjumpa dengan putra kandungnya, lalu apa yang salah?
"Kau masih mencintainya?"
Mendengar kalimat pertanyaan dari Fiona, membuat Dean sadar kalau ia harusnya tidak bicara mengenai perasaan terhadap Latina.
"Kau sudah membeli es krimnya? Ini sudah siang, dan aku lapar." Dean tersenyum sembari mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku ingin makan di rumah saja."
__ADS_1
TBC