Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Jason Kaget


__ADS_3

Syukurlah kalau kondisi Dean membaik. Pagi hari sebagai pengantin baru, tetap harus dilewati di ruang rawat inap.


Setelah diperiksa oleh dokter kembali, Dean dinyatakan baik-baik saja, dan bisa pulang nanti sore. Ya, sesuai dengan permintaan pria itu yang tidak betah berlama-lama di rumah sakit.


"Sudah kubilang, kan, aku baik-baik saja." Dean mengecup punggung tangan istrinya. Tiada hari tanpa sentuhan. Rasanya ia akan gila bila tidak dapat melakukan itu.


"Aku harus siap-siap kalau begitu. Kita akan pulang sore nanti."


"Memangnya apa yang harus disiapkan?" tidak heran sebenarnya kalau wanita adalah spesies yang suka sekali hal mendetil. "Aku di sini baru kemarin. Hanya ada sehelai pakaian yang dibawakan oleh ibuku."


"Apa aku harus langsung tinggal di tempatmu?"


"Suamimu punya rumah sendiri, Latina. Tentu saja kau harus tinggal bersamaku."


Latina menyengir. "Maksudku, aku belum mengemas barang."


"Lupakan dulu soal itu. Kita bisa mengurusnya nanti."


Ketukan beruntun menghentikan perbincangan santai antar suami istri. Keduanya menoleh pada pintu yang terbuka. Latina tersenyum saat Verhaag yang muncul, lalu sedetik kemudian senyum itu surut lantaran ada Jason di belakang.

__ADS_1


Kasus itu sudah ditangani oleh pengacara Dean. Nasin beruntung berpihak pada Jason karena ia tidak sempat mencicipi nikmatnya tidur dalam sel penjara.


"Nak, bagaimana kabarmu?" Verhaag bertanya pada Dean.


"Aku sudah membaik. Nanti sore juga boleh pulang." Dean menyahutinya dengan memancarkan senyum.


"Baguslah kalau begitu. Semoga semuanya membaik." Lalu, Verhaag memandang Jason. Pancaran matanya seakan memberitahu agar anak itu segera meminta maaf.


Jason berdeham. Ia menarik napas sebentar. "Aku sangat menyesal telah membuatmu terluka. Keadaan kemarin benar-benar tidak terkendali."


"Ini bukan hanya salahmu. Aku memicu emosi dalam hatimu, dan kau wajar marah. Ya, tapi, aku berterima kasih karena masih bisa hidup." Dean tertawa mengatakannya.


Jason memandang Verhaag. Ia rasa ini sudah cukup karena Dean juga tidak mempermasalahkannya. Tapi, ayahnya ini masih melotot padanya, dan permintaan maaf itu belumlah cukup.


"Kau adalah kakak iparku. Aku tidak tega sampai membuatmu berada dalam sel."


Jason mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Bukannya Latina menganggap Tuan Verhaag sebagai ayahnya? Itu berarti, kau dan Latina adalah saudara. Sebenarnya, aku juga berterima kasih atas insiden kemarin. Karena kejadian itu, aku dan Latina telah resmi menjadi pasangan suami istri."

__ADS_1


"A-apa?" Jason jelas kaget mendengar berita ini sebab Verhaag tidak mengatakan apa pun sejak semalam. Dalam perjalanan ke rumah sakit, juga orang tua itu tidak cerita.


"Aku lupa memberitahumu, Jason," ujar Verhaag.


"Jadi, kalian sudah menikah?"


Dean mengangguk. "Kami sudah menikah, dan tinggal mempersiapkan pesta dari sekarang."


Jason terkekeh. "Ini berita yang mengejutkan."


"Ya, aku hanya tidak ingin kekasihku diambil orang lain, apalagi mantan yang selalu saja mengusiknya. Sekarang, Latina telah bergelar nama keluarga Cornor."


Sialan! Umpatan itu hanya bisa tercetus dalam hati Jason. Jika ia tahu kejadiannya akan begini, lebih baik langsung membunuh Dean saja. Jadi, tidak akan ada yang bisa memiliki Latina.


Itu pikiran buruk yang terlintas dalam pikiran Jason. Ia tidak ingin melukai, tetapi sangat ingin menghabisi Dean. Terlebih sekarang, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Verhaag ada di sini.


"Selamat kalau begitu." Jason memaksakan senyum terbit dari bibirnya.


"Terima kasih." Dean sangat senang melihat raut wajah tidak mengenakkan dari Jason. "Kau tidak memberi ucapan kepada Latina?"

__ADS_1


"Ya, tentu saja." Jason beralih pada mantan istrinya ini. Cincin berlian yang tersemat di jari manis, menandakan kalau ia tidak punya celah untuk kembali. "Selamat untukmu, Latina."


TBC


__ADS_2