
Saat tiba di rumah Fiona, keadaan menjadi sangat canggung. Makan siang pun keduanya dalam keadaam diam. Sementara Dean ingin mengakhiri ini semua karena ia ingin menyusul Latina. Jika sudah kembali, maka wanita itu akan berada di kediaman orang tuanya.
"Aku harus kembali ke kantor." Dean harap suasana akan mencair.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan yang mana?" Dean berpura-pura lupa.
Fiona menghela. "Dia Latina yang kau ceritakan itu, kan?"
"Ya, dia mantan kekasihku."
"Simpananmu maksudnya." Fiona mencoba meralatnya.
"Aku tidak menganggap begitu sebenarnya. Hanya saja untuk menjadi kekasih, dia sudah memiliki pria lain."
"Perkataanmu berubah setelah bertemu dengannya." Fiona ingat sekali kalau Dean menyebut Latina simpanan dan pria itu juga menceritakan bagaimana ia dan ibu Rael bisa bersama.
"Kau benar, Fiona. Dulu aku tidak dewasa dan hanya berpikir untuk bersenang-senang. Setelah dia pergi, aku tersadar. Itu sebabnya, aku tidak lagi bermain wanita dan hanya setia pada seorang gadis saja." Dean meraih tangan lembut itu. Ia mendekatkan ke bibir, lalu mengecupnya. "Sudahi rasa cemburumu."
Fiona menatapnya lekat. "Aku tidak cemburu."
Dean tersenyum. "Aku tahu dari raut wajah dan tingkahmu. Aku sudah menjadi milikmu sekarang."
__ADS_1
"Perasaan takut itu ada, Dean."
"Aku tahu, tapi aku dan Latina masih memiliki hubungan. Kami punya anak dari hasil hubungan itu. Aku ingin bersama anakku, Fiona. Sudah lama aku menantikannya. Jadi, kau jangan cemburu bila aku menghubungi dia lagi."
Fiona mengangguk. Ia tersenyum. "Aku mengerti. Kau berhak bersama putramu."
Dean mengecup lagi punggung tangan kekasihnya. "Ini yang kusuka darimu. Kau selalu mengerti akan diriku."
"Itu karena aku mencintaimu."
"Ya, aku juga." Dean memeluk kekasihnya, mengecup kening Fiona sembari memejamkan mata. Ia lega. Setidaknya cara ini berhasil agar bisa pergi dengan cepat, dan Fiona tidak marah.
Selepas bertemu tuan muda Cornor, Latina merasa harinya buruk. Belum lagi soal pertanyaan Rael tentang paman yang mengejar mereka. Latina bingung untuk menjelaskan. Ia bisa saja mengatakan kalau Dean adalah ayah kandung sang anak. Tapi, Rael pasti bertanya, mengapa mereka tidak bersama. Jawaban itulah yang membuat Latina bingung. Ia tidak mungkin memberitahu fakta yang sebenarnya.
"Sayang, Kakek Verhaag datang."
"Rael punya Kakek?"
Latina mengangguk. "Iya, juga bibi dan paman."
Memang Latina memberitahu Verhaag kalau ia telah kembali. Karena mantan mertuanya itu pasti ingin mengetahui kabar sahabat yang telah tiada.
"Dad!" Latina berlari untuk dapat memeluk mantan mertuanya. "Aku merindukanmu."
__ADS_1
"Lihat dia. Kalau kau rindu, kenapa tidak pulang lebih awal?" Verhaag tertawa.
"Aku harus memaksanya pulang, kau tahu itu," sahut Eliza.
Lagi-lagi Verhaag tertawa. "Di mana cucuku?"
"Di sana. Rael, kemari sayang." Latina melambaikan tangan agar sang anak datang menghampirinya.
"Kemari, Sayang." Verhaag merentangkan tangan.
Rael berlari untuk dapat masuk ke pelukan sang kakek. Semua tertawa melihat tingkah imutnya itu.
"Dia sudah sebesar ini." Verhaag mengecup kedua pipi cucunya. "Jagoan tampan."
"Halo, Kakek."
"Umurku masih panjang bisa melihatnya." Verhaag memeluk Rael sekali lagi.
Latina bahagia melihat kebersamaan keduanya. Ia membayangkan bagaimana kalau Rael itu adalah anak Jason dan anggap kejadian lalu tidak pernah terjadi. Betapa bahagianya kedua keluarga. Ia tidak akan pernah lari dan kedua orang tuanya juga tidak perlu pindah ke negara lain.
"Dad, bagaimana kabar Jason?"
TBC
__ADS_1