
Ucapan yang ambigu. Apa maksud dari Dean agar tidak melepasnya lagi? Memangnya dia siapa? Latina sekarang harus berhati-hati terhadap pria satu ini. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Dean ini punya banyak cara untuk menjerat.
Latina tidak lagi menanggapi ucapan pria itu, dan ia salah tingkah karena terus diperhatikan. Dasar laki-laki genit! Sudah punya kekasih, tetapi mata tidak bisa dijaga.
"Rael!" Latina berseru sembari melambaikan tangan. "Makanannya sudah tiba. Kau harus makan dulu."
"Mataku ini tidak bisa melihat wanita lain. Kau maklumi saja." Dean sadar kalau mantan wanitanya ini tidak enak hati.
Latina mendengkus. "Ucapan dan matamu sama-sama tidak dapat dipercaya. Kalau kau setia padaku, kau tidak akan punya kekasih lagi."
"Kau berharap aku hidup sendiri begitu?"
"Ya, setidaknya aku percaya kalau kau benar-benar menungguku kembali."
Sekarang tidak ada kata-kata yang bisa mendebat Latina. Namun, asal wanita itu tahu kalau sudah lama ia menyendiri sejak putus dengan Berlin. Jalinan cinta bersama Fiona, selain karena wanita itu mirip Latina, juga sebagai tameng agar ia tidak dijodohkan lagi. Tapi, Dean juga tidak memungkirinya. Ia cukup nyaman bersama perempuan yang berprofesi sebagai guru itu.
Rael datang dan langsung duduk di dekat Latina. Sang ibu memerhatikan makan anaknya dulu, setelah itu barulah ia mengisi piringnya dengan makanan.
"Jika tidak begini, Rael akan sulit makan." Latina mengerti kalau ia tidak membuat Rael mandiri.
"Rael sayang, makan makananmu sendiri. Mom juga harus makan." Dean menegur.
__ADS_1
"Aku pandai makan sendiri. Tapi, Mom bilang aku harus menghabiskan satu piring roti dan sup daging."
"Dia masih kecil, kau ingin membuatnya menjadi raksasa?" Dean menaikkan sebelah alisnya.
Latina terperangah. "Aku hanya ingin dia cepat besar. Dia hanya makan lima sendok sup, lalu mengatakan perutnya kenyang."
"Dia bisa mengatur porsi makannnya sendiri."
"Rael akan banyak makan cemilan jika dia tidak menyantap menu utama secara benar. Kau mau Rael kurus kering seperti anak kurang gizi?"
"Dia bisa minum susu dan vitamin."
Rael menoleh pada Latina dan Dean. Ia mengambil buah stoberi, turun dari kursi, lalu kembali ke ruang permainan.
"Biarkan saja dulu. Nanti di rumah, kau bisa memberinya makan lagi. Aku akan pesan lagi makanannya." Dean mengembuskan napas perlahan. Ternyata semua ibu di dunia ini memang sama. Mereka akan bertindak galak jika menyangkut anaknya.
Makan siang ini berakhir, dan dengan berat hati Dean harus mengantar Latina serta putranya pulang ke rumah. Sebenarnya ia ingin menghabiskan banyak waktu, tetapi ini bukan saat yang tepat.
"Ini berkasnya. Kau baca dan besok berikan padaku," kata Dean, ketika mereka telah tiba di depan kediaman keluarga Anderson.
"Setidaknya aku perlu waktu selama dua hari."
__ADS_1
"Kenapa lama sekali?" Dean ingin secepatnya.
"Aku tidak akan tertipu dua kali."
Dean diam saja mendengarnya. Ia membuka sabuk pengaman, lalu keluar dari mobil. Begitu juga Latina dan Rael.
"Apa kau senang jalan bersamaku?" Dean mengacak-acak rambut putranya.
"Lumayan. Tapi, lebih bagus lagi kalau kita pergi ke taman hiburan."
"Aku akan menjanjikan itu untukmu. Minggu ini, bagaimana?"
"Asik!" Rael bersorak girang. "Janji padaku."
"Tentu saja." Dean menggendong anak itu. "Biar aku antar sampai depan rumah."
Kenapa ayah dan anak ini bisa cepat akrab? Latina jadi iri. Hanya janji begitu saja, Rael sangat senang.
Pintu rumah terbuka. Seorang pria muncul dan membuat Latina serta Dean kaget.
"Jason!"
__ADS_1
TBC