
Perkataan yang membuat Latina dan yang lain kaget. Apalagi Verhaag karena tidak menduga kalau Dean menganggap kejadian ini sebagai angin lalu.
Pria ini sudah terluka, mendapat beberapa jahitan, tetapi tidak ingin memperpanjang perkara antara ia dan Jason. Ini memang kebaikan hati Dean atau ada hal lain? Verhaag tentu berterima kasih, tetapi sebagai orang tua, ia akan meminta maaf pada Dean serta keluarga atas nama Jason.
"Dean, anak pria ini sudah membuatmu menderita," kata Dolty. Ya, ia yang tidak terima bila Dean membebaskan mantan suami menantunya.
"Tapi, itu semua juga karena diriku, Mom. Aku membuat Jason emosi dan dia mungkin reflek memukulku dengan vas bunga."
"Meski begitu, tetap saja ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Dean menggeleng. "Mom, Jason dan Latina sudah menjadi saudara. Aku juga sudah menikah. Sekarang, Jason adalah saudaraku. Tidak mungkin, kan, aku membuat saudara sendiri masuk penjara?"
Tidak habis pikir. Dolty rasanya telah kehabisan kata-kata karena Dean yang berkata demikian. "Lihat anakmu, Cornor."
"Biarkan saja." Cornor juga tidak bisa berbuat banyak kalau Dean sendiri yang menginginkan insiden ini berlalu begitu saja.
"Ini hari bahagiaku. Aku ingin semuanya tidak ada dalam kesedihan." Dean mengenggam tangan Latina. "Benar, kan, Sayang?"
Latina mengangguk. "Aku ikut kamu saja."
__ADS_1
"Kau sungguh pemaaf, Nak. Tapi, aku akan tetap menyuruh Jason meminta maaf padamu secara langsung."
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku akan suruh pengacaraku untuk mengurus Jason." Dean tersenyum.
Entah ini firasat Latina atau ini hanya ketakutan saja sebab, ia merasa ada sesuatu yang direncanakan oleh Dean. Ia mengenal suami barunya, dan teringat pada masa ketika ia melaporkan pria ini ke pihak berwajib. Dean pandai memutar balik fakta. Jadi, ia tidak yakin Jason lepas begitu saja.
Satu per satu undur diri, termasuk Rael yang harus pulang bersama neneknya. Tinggal Dean dan Latina di ruang rawat nomor satu ini. Malam pengantin yang seharusnya dilewati dalam kehangatan di atas ranjang, kini Dean serta Latina harus rela bermalam di rumah sakit.
"Aku janji akan menggantinya dua kali lipat." Dean mengecup punggung tangan istrinya.
"Aku masih tidak mengerti. Bukankah ini terlalu mendadak?"
"Aku hanya tidak ingin kau direbut oleh lelaki lain. Lihat saja Jason. Dia masih saja ingin kembali ke sisimu. Sekarang, pria itu tidak bisa melakukan apa pun karena kau sudah menjadi istriku. Nyonya Latina Cornor."
"Justru itu. Kita harus menikah."
"Baiklah. Ini sudah waktunya kau tidur. Lukamu masih belum kering."
"Berikan aku satu kecupan." Dean memajukan bibirnya.
__ADS_1
Latina menuruti kemauan suaminya. Memberi kecupan hangat, dalam dan cukup lama. Keduanya sama-sama menikmati setiap detik dari penyatuan bibir ini.
"Tidurlah ...."
"Kau sendiri bagaimana?"
"Aku bisa tidur di sofa empuk itu."
"Aku akan cepat sembuh. Besok, kita pulang."
"Enak saja," protes Latina. "Kau harus diperiksa dulu. Jika dokter bilang boleh pulang, maka kau boleh meninggalkan rumah sakit ini."
Dean tersenyum. "Baiklah, Ibu Ratu. Kau penguasanya."
"Hei, bukan begitu. Aku hanya ingin kau benar-benar sembuh."
"Aku akan sembuh bila ada kau, Sayang."
"Dasar gombal!"
__ADS_1
Dean tertawa, dan itu menular pada Latina. Tapi, ketika denyut sakit terasa di kepala, ekspresi keduanya berubah. Latina dengan kekhawatirannya, sedangkan Dean, lebih menahan rasa itu.
TBC