
Sudah dua hari Dean tidak menghubungi Latina. Tapi, pria itu malah menelepon melalui telepon rumah. Alasannya tentu saja bertanya mengenai Rael.
Ini bagus. Hubungan mereka berjarak dan Latina tidak lagi dipusingkan oleh perhatian Dean yang malah berujung larangan oleh pria itu.
Namun, Latina tidak bisa bebas begitu saja. Dean menghilang, lalu terbitlah Jason. Sang mantan kembali menghubungi, dan di sinilah Latina, duduk manis dengan secangkir kopi.
"Kita sudah berada di kafe ini kurang lebih 15 menit yang lalu." Latina berkata sembari melihat waktu dari layar ponselnya. "Kau malah diam saja. Kau bilang ingin bicara hal penting."
Jason mengembuskan napas panjang, lalu berkata, "Kembalilah padaku, Latina."
"Aku tidak salah dengar, kan?"
"Aku sudah kehilangan banyak hal. Kau sudah membalaskan dendammu padaku. Apa masih kurang cukup?" Jason menatapnya lekat. Ia hendak meraih jemari lembut itu, tetapi Latina menghindar. "Kau tidak semudah itu berpaling, kan?"
Latina tertawa. Hal paling lucu dalam hidupnya saat ini adalah Jason. "Kau mengajakku bertemu hanya untuk ini?"
"Kita berdua saling mencintai. Apa yang salah? Beri aku kesempatan kedua. Kita bisa memulai hidup baru. Aku akan menerima Rael sebagai anakku." Dari pancaran matanya, Jason berkata dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
"Aku ingin bicara sesuatu yang selama ini kurasakan. Dalam beberapa tahun ini, aku menyadari jika perasaanku padamu itu, bukanlah cinta. Itu obsesi."
"Apa maksudmu?" Jason mengerutkan kening.
"Cinta itu adalah merelakan bukan mengekang. Aku bersalah, Jason. Aku melukaimu dan Nelis. Karena keegoisanku, kau menderita. Harusnya aku tolak perjodohan itu. Harusnya aku tidak menunggumu selama tiga tahun. Maafkan aku, Jason."
Jason menggeleng. "Tarik kata-katamu lagi. Kau mencintaiku. Itu bukan obsesi, tetapi cinta."
"Pernikahan kita harusnya berakhir sejak awal." Latina menyesali itu semua. Cinta butanya kepada Jason telah membuatnya menderita.
"Aku yang tidak bersyukur. Ini semua bukan salahmu. Kumohon, Latina. Jangan lagi ungkit masa lalu. Beri aku kesempatan kedua. Kita mulai lagi dari awal. Kita bangun keluarga kecil kita."
"Kumohon, Latina!"
Permohonan Jason sama sekali tidak Latina dengar. Ia sudah memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu. Memaafkan semua orang-orang yang telah menyakitinya. Namun, kembali bersama Jason, tidak pernah terpikirkan. Menurut Latina, ia sudah banyak memberi kesempatan pada sang mantan selama pernikahan.
Pesan yang sebenarnya Latina tunggu, meski tidak berharap. Ia membuka chat baru yang dikirim oleh Dean dan tidak menyangka jika pemuda ini serius pada apa yang ia ucapkan sebelumnya.
__ADS_1
"Dia mengajakku ke pesta?" Latina mulai mengetik balasan, ia membaca sekali lagi sebelum dikirim. "Abaikan saja."
Lambaian tangan Latina menghentikan taksi. Ia naik ke mobil angkutan, dan saat itu juga telepon berdering.
"Kau bilang tidak akan mengangguku lagi." Latina menjawab setelah logo hijau ia geser.
"Alihkan ke panggilan video." Dean langsung melakukan panggilan itu dan Latina menerimanya. "Kau sendiri yang ingin berkenalan dengan teman-temanku, kan?"
"Serius? Kau ingin mencarikanku jodoh?" Latina tidak percaya ini. Ini menakjubkan baginya.
"Kalau temanku itu mau. Kau sendiri bilang kalau kau itu sudah tua." Dean tersenyum seakan ia menang karena menyindir Latina.
"Itu benar. Aku tidak akan marah jika kau mengatakan itu. Apa salahnya mencoba, kan? Ya, siapa tahu aku dapat jodoh di sana. Seorang duda atau sugar daddy juga boleh."
"Hei! Aku ini pemuda kaya. Kau masih ingin mencari sugar daddy?"
Latina mendengkus. "Kau mulai lagi. Sampai jumpa di pesta." Panggilan video itu diputus, dan diseberang sana, Dean marah-marah.
__ADS_1
TBC