Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Terungkap


__ADS_3

Jason menyadari siapa yang turut andil dalam kehancurannya. Pria yang ia temui saat ini, dan membuatnya menandatangani surat pengalihan properti. Semua ini karena Dean.


Tanpa rasa bersalah sama sekali. Pemuda di depannya ini masih terlihat angkuh. Ya, Jason tahu kalau dirinya tidak menjerat Dean ke ranah hukum karena apabila itu terjadi, ia akan terseret, dan semua perbuatannya akan terbongkar.


"Perjanjiannya adalah Latina, tapi kau malah menipuku!" Jason tidak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya.


"Kau sendiri yang bodoh karena main tanda tangan tanpa membacanya dengan teliti." Dean menyerang dengan telak. Seketika Jason pun terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Kau yang memaksaku! Kalian berdua bersengkongkol."


Dean tertawa. "Sudah kukatakan padamu. Kau sendiri yang bodoh. Kita ini sama, Jason. Kau dulunya juga menipu Latian. Aku membantunya karena ingin menjadikannya simpanan lagi. Tapi apa, dia juga menipuku."


Mendengar ucapan Dean, giliran Jason yang tertawa. "Kau sungguh tidak tahu apa-apa rupanya."


"Apa maksudmu?"


"Apa kau tidak merasa perubahan pada diri Latina?"


Kening Dean berkerut. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Kau juga bodoh, Dean. Kau tidak tahu apa yang terjadi pada Latina."


"Apa yang tidak kuketahui? Latina tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku."


Jason menggeleng. "Kau salah. Dia menyembunyikan satu fakta darimu."


"Cepat katakan!" Dean jadi tidak sabar. Namun, ia sangat yakin sekali jika Latina memang tidak menyembunyikan apa pun.


"Kalau kau ingin tahu, maka kau harus menganggap semua hutangku lunas." Jason menyunggingkan senyum licik. Sudah saatnya membalas dendam pada Dean. Istrinya pergi dengan memberi surat cerai, dan ia tidak mau terlilit hutang.


"Kau terlalu berharap padaku. Pergilah! Sebelum aku mengusirmu."


"Terserah kau saja." Jason mengeluarkan sebuah amplop dari saku jas yang ia kenakan. "Kau yakin?"


"Aku tidak akan tertipu dua kali."


Dean mengerti apa yang dimaksud oleh Jason. Ia meraih gagang telepon, menekan angka 1, lalu bicara pada sang asisten, Sebastian.


"Dalam 30 menit, kau akan mendapat berkasnya," kata Dean, setelah Sebastian mengiakan permintaannya.

__ADS_1


"Aku akan menunggu di sini." Jason memang bertemu Dean di kantornya. Terlalu sulit untuk membuat janji dengan pemuda ini jika tidak secara langsung menemuinya.


Tiga puluh menit yang memuakkan bagi Dean. Tapi untungnya, Sebastian mengerjakan berkas itu tepat waktu. Sebelum diserahkan kepada mantan suami Latina, berkas dibaca lebih dulu. Setelah Dean menyetujui semua kata-kata di kertas tersebut, barulah diserahkan pada Jason.


Karena tidak ingin ditipu lagi, Jason membacanya dengan teliti. Ia menandatangani berkas itu, lalu menyerahkan salinannya kepada Dean.


"Hutangmu sudah lunas. Cepat berikan suratnya." Dean bangun berdiri, lalu mengulurkan tangan.


Tanpa diduga sama sekali, Jason malah menjabat tangan itu, lalu berkata, "Selamat. Kau akan menjadi seorang ayah."


Dean langsung menarik tangannya. "Apa yang kau katakan?"


Jason meletakan surat dari rumah sakit di meja. "Latina tengah mengandung saat ini. Di dalam amplop itu, terdapat surat keterangan berikut hasil USG yang ia lakukan sebulan lalu."


"Kau bercanda." Ini di luar dugaan, bahkan Dean harap ini cuma bualan belaka.


"Kau tahu dia mengandung anak siapa, Dean." Jason tertawa. "Kau boleh periksa sendiri. Sekali lagi, selamat untukmu."


Berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, Jason segera keluar dari ruangan itu. Dean terduduk. Ia mengusap wajah dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Tidak mungkin!"


TBC


__ADS_2