
Sebenarnya Latina tidak menyangka jika Dean menepati janji untuk bersama Rael di hari libur. Setelah beberapa hari diabaikan, Dean tetap menampilkan senyum termanisnya.
"Apa ini tidak terlalu pagi?" Latina baru saja selesai membuat sarapan ketika bel rumah berbunyi.
"Karena masih pagi, aku ingin sarapan bersamamu dan Rael. Apa aku boleh masuk ke dalam?"
Latina bergeser ke samping. Dengan senyum semringahnya, Dean melangkah masuk rumah dan Latina kembali menutup pintu.
"Daddy!"
Dean kaget mendengarnya, begitu juga Latina. Sang putra berlari menghampiri Dean, dan membuat bingung Eliza, yang kebetulan berada di belakang Rael. Ternyata Latina telah memberitahu rahasia ini.
Meski ini mengejutkan, Dean tetap menyambut Rael. "Ya, Sayang." Ini sungguh membingungkan karena Latina tidak bicara apa pun. Bahkan telepon serta pesan yang ia kirimkan pun diabaikan. Apa ini kejutan untuknya? Kalau begitu, Latina berhasil dan ini adalah hadiah terindah bagi Dean.
"Sayang, coba katakan lagi, apa yang tadi kau sebut." Dean ingin mendengarnya lagi.
"Daddy," sebut Rael. "Mom bilang kalau Paman adalah Daddy Rael."
"Benar, Sayang. Aku adalah Daddy-mu."
__ADS_1
"Tapi, kenapa tidak tinggal di sini?"
"Um, itu karena ...."
"Sarapan sudah siap. Kita makan bersama dulu." Latina memotong cepat kalimat Dean.
Untunglah karena Dean sendiri bingung ingin memberi penjelasan yang bagaimana. Ia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya dan Latina memang tidak bersama lagi. Rael pasti akan sedih. Dean tidak ingin merusak moment kebahagian ini.
"Kenapa Dad tidak pernah menelepon di malam hari?" tanya Rael.
Giliran Latina yang kaget sebab ia memang memberi alasan agar Rael tidak bicara pada ayahnya.
"Menelepon?" Dean melihat Latina.
"Sayang, habiskan sarapanmu dulu," kata Latina.
"Apa hari ini kalian akan keluar?" Eliza menyambung.
Latina melirik sang ibu, ia tersenyum, mengisyaratkan bahwa Eliza telah menolong dengan mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Ya, kami akan keluar. Benarkan, Rael?" Dean berkata begitu seraya mengacak-acak rambut anaknya.
Anak itu mengangguk. "Kita ke taman bermain."
"Mom akan siapkan perlengkapanmu dulu." Latina bergeser dari duduknya. Ia perlu menyiapkan beberapa sapu tangan dan tisu serta lainnya.
"Rael sayang, tolong ambilkan nenek ini jus yang ada di kulkas." Eliza meminta itu dan Rael menurutinya. Ia memang sengaja karena ingin bicara pada Dean. "Aku membiarkanmu bersama Rael karena kau memang ayah kandungnya. Tapi ingat ini, aku tidak akan tinggal diam jika kau kembali memperlakukan Latina seperti dulu."
"Nyonya, aku minta maaf atas semua kesalahanku. Aku menyesal." Dean bersungguh-sungguh.
"Jika Latina tidak pergi, kau pasti tidak sadar." Eliza menatap Dean tajam. "Aku hanya ingin kau tidak lagi mencampuri urusan pribadi putriku. Dia berhak bahagia."
Dean diam saja karena ia sendiri enggan untuk mengiakan permintaan Eliza. Kebetulan juga Rael kembali dengan membawa botol jus. Namun, ia kepikiran mengenai ucapan ibu dari mantan wanita simpanannya ini. Dalam hati, Dean bertanya-tanya. Apa Latina sudah memiliki kekasih?
"Kalian sudah selesai sarapannya?" Latina muncul dengan membawa tas ransel Rael.
"Kau juga ikut, kan?" tanya Dean.
"Tentu saja aku akan ikut. Sabtu dan Minggu adalah hari bersama kita."
__ADS_1
Meski tidak bersama, tetapi Latina ingin Rael mendapat kasih sayang utuh kedua orang tuanya. Latina ingin Rael, seperti anak-anak yang lain. Selagi putranya belum mengerti hubungan ia bersama sang ayah, Latina akan menahan diri untuk selalu bersama Dean.
TBC