
Masih terbayang dengan jelas kata-kata yang Latina ucapkan. Wanita itu enggan untuk menjadi perempuan pemalu dan setia kepada satu orang pria saja. Latina kini ingin berhubungan dengan lelaki manapun. Mau itu tampan atau biasa saja. Dia ingin menjadi liar, termasuk berbagi kehangatan bersama Maxon.
Memikirkan itu menjadikan hati ini panas. Dean tidak habis pikir, kenapa Latina mendadak berubah. Apa karena patah hati? Mungkin saja karena terlalu sering disakiti. Tapi, tidak harus seperti itu, kan? Jika Latina menginginkan kehangatan, ia siap menjadi apinya.
"Dean!"
"Apa?" Dean sampai kaget karena teguran Fiona. "Kau kenapa, sih?"
"Kau tanya aku?" Fiona berdecak.
"Di sini cuma ada kita berdua, kan?" sehabis mengantar Latina dan Rael, ia bergegas menemui Fiona. Jika Dean tidak menemui kekasihnya ini, maka Fiona akan terus meneleponnya.
"Kau sedari tadi melamun. Kau juga tidak mengangkat telepon dan membalas pesanku tadi pagi."
"Pagi-pagi sekali aku sudah bilang, kan, kalau aku akan pergi bersama Rael. Aku bersyukur, Fiona. Latina sudah memberitahu kalau aku adalah ayah kandung Rael, dan anakku menerimanya."
Fiona memaksakan senyum terbit di bibirnya. "Aku senang, Dean. Sungguh! Tapi, kau juga tidak harus lupa bahwa ada aku."
"Kau membuatku serba salah. Aku ingin mendekatkan diri pada Rael. Kita sudah sering bersama, Fiona. Untuk hari libur, aku ingin bersama anakku."
__ADS_1
"Bersama anakmu atau mantanmu."
"Apa maksudmu? Kau curiga kalau aku menginginkan Latina lagi?"
"Bukan aku yang mengatakannya. Tapi kau sendiri, Dean. Dari awal pertama kau bertemu dengannya."
Dean bangkit dari duduknya. "Aku kemari karena panggilanmu. Jika kau hanya ingin mengajakku berdebat, sebaiknya aku pulang."
"Kumohon, Dean." Fiona memelas.
"Oke! Aku minta maaf jika beberapa hari ini aku mengabaikan. Bagaimana kalau kita makan malam? Kita jalan-jalan agar kau senang."
Dean mengiakan. "Ya, pergilah."
Ia duduk kembali, sedangkan Fiona lekas berjalan masuk ke kamar. Dean mengembuskan napas panjang seraya menentukan pilihan dalam hidupnya.
"Aku ingin putus," gumamnya.
Tidak lama Fiona keluar setelah berganti pakaian. Penampilannya memang tidak jauh berbeda dengan ibunya Rael. Hanya memakai celana jeans dan kaus saja. Tapi, Latina suka menambahkan syal di leher dan memakai cardigan panjang. Dia terlihat elegan bila sudah memakai pakaian seperti itu, ditambah lagi tote bag yang ia bawa.
__ADS_1
Malam ini, Dean mengajak Fiona makan malam lebih dulu. Hanya makan di tempat biasa karena untuk mengunjungi restoran romantis, tidak ada di dalam jadwal keduanya. Setelah itu, Dean membawa Fiona menikmati musik di Dizzy Club.
"Aku pesan dua minuman." Dean mengatakan itu kepada bartender.
"Sudah lama kita tidak kemari." Fiona senang dibawa kemari. Memanjakan mata pada pengunjung yang berdansa atau kumpul bersama.
"Bersenang-senanglah, Sayang. Nikmati malam ini." Dean menyesap sedikit minumannya seraya menikmati musik yang mengalun indah.
"Sepertinya aku kenal dia." Fiona memusatkan pandangan pada pasangan yang turun ke lantai dansa. "Sayang, bukannya itu mantanmu?"
"Mantan yang mana? Kekasihku itu banyak."
"Lihat yang jelas. Itu yang berdansa."
Dengan malas Dean menoleh pada pasangan yang ditunjuk oleh sang kekasih. Mata Dean mengerjap beberapa kali, memandang pria dan wanita yang saling menyatukan bibir.
"Itu ... Latina, kan?" Dean bahkan bertanya untuk memastikan penglihatannya.
"Dia punya kekasih rupanya," kata Fiona.
__ADS_1
TBC